My Writings. My Thoughts.

The Lake House

At » 7:12 AM // 3 Comments »

Berapa banyak sih orang yang percaya ama long distance relationship? Biarpun gw bukan expert dalam masalah cinta-mencinta, tapi gw yakin banget, sedikit sekali orang yang percaya ama long distance.

At least, my friends didn’t make it. They all ended the relationship maybe even before they started building their dreams about love and faith.

Can’t blame them, though, or their stupidity, since I understand that concerning love matter, all cant never learn the lesson well. Dunno why, but probably because the speed of love is blinding, as Richard Marx sang in his song titled ‘Until I Find You’.

That’s why the movie The Lake House really attracts me. And I must tell you that I had a good time watching it. So, if you haven’t yet, you have to consider watching it, since you wont regret it. The cinematography, the script and dialogue, the view, the chemistry, every fade out.. they’re all just so so so amazing!

The packaging kept me informed that the story is about somekind of long distance relationship. But it’s not the distance that separated Sandra Bullock and Keanu, it’s 2-year-time (!). It made no sense for me, at first, but I was curious. How it was possible? So time separated them? How could they meet then? How could they solve it? Happy ending, eventually?

Well, in case you haven’t watched it, wont tell you much.

And I wonder. As always, whenever I finish a movie.

In this modern era, where can you find unselfish love? The same love that made Keanu crazy for Sandra. The love that made Sandra want to give her whole heart to Keanu, even though she just hadn’t met Keanu. Or, let me simplify; the love that makes you do things beyond logic.

Keanu waited for Sandra for years. And during his waiting, he could not even keep in touch with Sandra. There’s no way he could call her to hear her voice, to hug her, to kiss her, to meet her. But he managed to wait. I know, that’s only a movie…Aha, start feeling skeptic?

I read and heard before, that we wont find any unselfish love; all we can do is to love unselfishly, and we’ll get, hopefully, the same return : an unselfish love.
But how do we even know that our someone is for real? That he or she is not cheating us?

People said that when you love someone unconditionally, you wont care anymore about the return, either good or bad. How can it be? I just don’t get it. When somebody cheat you and your love, would you still taste the happiness? Or you will just resent it?

I believe in true love. True love exists, I know that for sure.
The question is, when you feel it and do something beyond logic, is it because an eternal feeling for real, or just some emotional and reckless act?

Gorden yang Tertutup

At » 7:05 AM // 0 Comments »

Apa jadinya kalau selamat pagi bagimu berarti selamat malam bagi orang lain?
Apa jadinya kalau sinar matahari, yang memberi kehidupan bagi orang lain, ternyata bisa membunuhmu dalam sekejap?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan di atas ga terdengar asing. Mungkin yang langsung terbayang di benak kita adalah para drakula-nya Bram Stroker, atau vampir-vampir dari negeri Cina yang biasa terlihat di film horror ala Cina.

Tapi kita semua tentu tau, yang namanya vampir atau drakula – seperti ala Tom Cruise ama Brad Pitt – ga bener-bener eksis di dunia, atau, setidaknya mungkin belum. Dan semoga ga akan pernah (!).

Jadi, pertanyaan di atas sama sekali bukan tentang vampir.

Lalu? Teringat film The Others, yang dibintangi ama Nicole Kidman? Ingat ama anak-anaknya di film itu yang ga bole kena sinar matahari? Jendela-jendela besar di rumah kuno itu selalu tertutup gorden, sepanjang waktu. Kegelapan seolah menjadi satu-satunya semesta...
Bukan tentang itu sih, tapi kira-kira mendekati, lha.

Gue ga pernah menganggap sinar matahari sebagai sesuatu yang menakutkan – kecuali mungkin bagi beberapa orang temen gue di kampus. Itu pun karena sebab yang sederhana : takut kulitnya jadi hitem!

Dan baru kemaren, gue bener-bener percaya, setelah sekian lama bersikap skeptis. Ada orang di dunia ini, yang bener-bener ga bole kena sinar matahari. Bukan sinar mataharinya yang bermasalah, sebenarnya, tapi sinar UV yang terkandung di dalamnya.

Sinar UV yang berlebihan memang menyebabkan kanker kulit – setidaknya itu yang gue tahu. Dan keadaan ini diperparah dengan rusaknya ozon di stratosfer di atmosfer kita.

Tapi, ini bukan tentang kanker kulit.
Ini tentang XP.

Ya, XP. Bukan XP yang keluaran Microsoft itu, lho.

XP, atau xeroderma pigmentosum, adalah suatu kelainan genetik yang menyebabkan penderitanya tidak boleh tereskpos sinar UV. Lebih dari 5 menit saja, bisa menyebabkan kematian.

Mungkin bagi beberapa orang, XP bukan barang baru. Gw sendiri baru ter-informasi mengenai penyakit ini karena nonton filmnya Sawajiri Erika, Taiyou no Uta (A Song to the Sun) – harusnya Anda-anda udah nonton, karena ini bukan serial yang baru-baru amat. Genrenya mirip-mirip Ichi Ritoru no Namida (One Litre of Tears). Di situ, Erika berperan sebagai Amane Kaoru, yang menderita XP tipe A, di mana ia tak akan melewati usia 20 tahun…


Sad? Well, harus diakui, ga sesedih dan se-mengharukan Ichi Ritoru. Tapi, seperti juga Ichi Ritoru, kesedihan bukan hal utama yang bisa dipelajari di sana. Semangat untuk mengejar mimpi, misalnya, adalah satu dari sekian banyak hal positif yang bisa dipetik. Dalam Taiyou, diceritakan Kaoru berusaha menggapai mimpinya menjadi seorang singer, dengan segala keterbatasannya. Baginya, hidup tanpa mimpi bukanlah hidup sama sekali.

Tapi yang ingin gw sorot bukanlah hanya itu.

Setelah Spinocerebellar Degeneration Disease, sekarang XP. Dan kedua penyakit ini belum ada obatnya. Belum lagi penyakit letal karena kelainan genetik lainnya, seperti sicklemia, talashemia (semoga nama penyakit yang disebutkan di atas-atas ga salah tulis..hehe), dan lain-lain (sebenarnya dan lagi ga tahu, sih ~~).

Mungkin tingkat kematian penyakit-penyakit yang incurable ini ga separah penyakit lainnya, semisal sakit jantung, kanker mulut rahim, kanker paru, AIDS, dan sekian banyak penyakit lainnya lagi. Yet, semua ini membuat gw bener-bener aware sama satu hal yang pernah gue pelajari : sebab kematian sangat banyak, sebab kelahiran sangat sedikit, dan tubuh kita ini sangat rapuh.

Didiagnosis menderita penyakit-penyakit letal ini berarti satu hal : preparing ourselves buat kematian.

Kebayang ga, kamu hidup dan mendadak suatu hari kamu udah tau, kapan kamu pasti akan mati? Diprediksi mati dalam usia tua sih, masih mending. Tapi kalo divonis mati di usia semisal 20 tahun? Alih-alih jadi bersemangat kayaq Aya atau Kaoru, mungkin gw bakal drop…Ah, diri gw yang belum juga dewasa-dewasa...


Gw pernah ikut satu kursus Inggris, dan pernah dikasih tugas ngarang ama guru bule gw itu, mengenai topic “What would you do if you had only one day left to live?”.
Jawaban gw ama temen2 sekelas gw waktu itu kurang lebih sama : Have fun dulu, trus minta maaf ama semua orang, dan pergi tidur.

Sekarang? Terus terang aja, gw belum pede untuk mati. Karena sebagai umat Buddhis, gw masih belum bisa menjawab satu pertanyaan; kamu sudah tahu, akan terlahir ke mana setelah mati?

Setelah mati, apa yang terjadi ama gw? Gw tau, gw akan bisa lari dari karma gw sendiri.. It’s true, kita harusnya lebih mikirin the present moment. Tapi gw lebih prefer menafsirkannya sebagai “gunakan present moment sepenuhnya untuk bekal di masa depan dan kelahiranmu kembali yang akan datang..”

Dan karena itu pula, gw harus bisa live my life to the fullest. Mungkin susah, tapi setidaknya, gw ga mau kalah dari Aya atau Kaoru.*


the-not-so-talented-so-called-PMB

At » 4:38 AM // 0 Comments »
Firstly, apa sih PMB?

...
Let's keep it for the last to know, okay?

Kalo elo-elo sering ke blog gw, untuk tujuan apapun, pasti tau -kalo emang cukup peduli untuk tahu- kalo gue belakangan banyak vakum.. Bukan prestasi, I know.. kayaq berita-berita sinting di infotainment - seleb sakit gigi aja jadi berita. Mungkin bener, infotainment harus di-banned (!).

Oke, sebelum gw mulai menjelaskan kenapa gw vakum, kayaqnya gw harus mulai dulu dengan kenapa gw menulis..

Gw suka nulis karena dasarnya gw suka melamun. Suka menerawang jauh2, secara gw orang melankolis. Gw nulis karena apa yang ada di otak gw biasanya super ga penting, super melankolis, dan menyebalkan orang kalo gw curhatin ke orang. Lantas, gw berpikir, kenapa ga, kalo gw mulai nuangin satu per satu ide2 yang amburadul di kepala gw, dan menjadi sesuatu?
Gw inget banged, guru gw di SMA dulu pernah bilang.. pemikir dan pengajar di barat sana baru dibilang sukses kalo udah menghasilkan buku. Dan sejak itu, gw bercita-cita menghasilkan satu master piece yang dikenang dan dibahas berabad-abad kayaq Shakespeare. Then I'll live forever...

Terlalu bermimpi?

Gw sadar, gw ga berbakat sama sekali. Gw ga bisa menganalisis sesuatu dalem-dalem, kayaq blog tetangga2 sebelah, yang keren2, dan kadang nge-jelimet. Gw kekurangan daya analisis.. Lalu setelah dipikir2, dengan protein yang ditimbun karena bertahun2 makan telur, tahu, tempe, dan ayam.. masa sih gw ga bisa menganalisis sesuatu dengan baik dan .. ermm.. benar?
Dan di retret kemaren di Bandung, gw menemukan jawabannya. Gw jarang banged bikin persiapan awal kalo nulis. Gw nulis, atau tepatnya ngetik, karena dorongan emosi sesaat doank. Kita semua tahu, itu ga sehat, se-ga-sehat-seperti-junk-food dan makanan siap saji lainnya. Hasil tulisan gw melempem dan hambar, kayaq sayur kurang garam. Metafor gw ga ada yang sempurna dan mengena. Dan tema gw ga pernah bisa selese. Gila........ dan dengan berani-beraninya gw bikin blog?

Forgive my soul........

Bukannya gw ga mau bikin persiapan.. tapi perlu diketahui, gw belom punya kompie sendiri di B-town. Bukan ga modal, tapi terlalu sok borju karena menginginkan sebuah laptop -_-...
Ngetik di tempat temen kost laen? Bisa aja.. cuman, ga ada privasi. Anak kost gw suka rese, dan suka komentar alias cerewet. Baru satu kalimat, udah dibaca keras2, kayaq lagi pidato. Cape dehhhhhhhh...

Anyway, intinya, gw ga menyalahkan sikon. Ga menyalahkan orang2 rese di kost.
Still, maybe I need more time.
Dan novel gw kaga selese2 sampe sekaranggggggggggggggggggggggggggggggggggggggg

So... PMB? PMB dari Hongkong kale?? Yang lost in translation..

*apa sih PMB?
Ehm ehm... penulis muda berbakat.... Mampus! @%&*^%!#$
Berat bebanku........................................***

Eternity

At » 5:47 PM // 0 Comments »

Somebody's promised me eternity


Paid with forever waiting, I'll be drowned in loneliness
For the dream too beautiful...


to come true.
-------------------------------------------------------------------------------------------
Keabadian adalah awal yang tak berakhir...



Sekali Lagi

At » 6:52 AM // 0 Comments »


Aku ingin mencintaimu

sekali lagi,...

bolehkah?

Harap

At » 7:43 PM // 0 Comments »


Saat malam yang panjang dan dingin


merayap membungkusmu dengan gulita

Siapa yang membuatmu memahami makna kesepian?


Kala malam diterangi kunang-kunang kota


melingkupimu dengan benderang

Siapa yang kau harapkan datang dan memelukmu?

TalKinG

At » 7:43 PM // 0 Comments »

Wew, tampilan baru.. semoga pada suka ya.. ^^

Anyway, just a thought, banyak juga yang bilang gw cerewet. Ga banyak sih, sebenarnya. Cuman, rasanya gw perlu meluruskan pernyataan di atas. Gw lebih prefer istilah '
konservatif terhadap detail' daripada cerewet. Ya, gw orang tipikal melankolis. Gw pernah dibilang perfeksionis. Sampe-sampe ada yang bilang, 'Iya, esdoubleu tuh perfeksionis, masa ga tau?' Geez...

Dan suatu kali gw pernah membaca satu stiker yang ditempel di angkot, dalam perjalanan ke kampus. Isinya sederhana, dan bunyinya kira-kira.. '
Ketika kau berbicara, maka kata-katamu harus lebih bermakna daripada ketika engkau diam.' Sederhana emang, tapi tepat sasaran! Gw segera melihat ke dalam diri gw sendiri. Sudahkah gw seperti itu? Coba kita lihat...

Gw suka gosip. Suka membicarakan orang lain. Suka boong. Suka nyepet-nyepet. Weks, kenapa yang keinget justru yang jelek-jelek yah? Wah, bikin rusak image aja. Hehe..
Anyway, gw yakin kalo semua orang punya kekurangan masing-masing. Dan ga bisa dibilang juga, kalo 100% dari ucapan kita tuh emang udah berguna. Jadi inget satu cerita yang pernah gw baca di footer lembaran soal ujian gw dulu, waktu masih SMP.

Ceritanya gini.. Ada seekor kura-kura dan seekor kepiting. Kepiting ini lagi berjemur, deket tepi pantai. Si kura-kura agak ke daratan. Nah, si kura-kura lalu melihat, ombak dah mau datang. Karena khawatir si kura-kura bakal keseret, si kura-kura itu lalu teriakin si kepiting. Maksudnya biar si kepiting ngubah posisinya. Si kepiting yang lagi posisi wuenak tentu aja keganggu, tapi mau ga mau, dia juga pindah posisi. Ternyata, ombaknya mereda pas nyampe pantai. Tau gito, si kepiting marah-marah ama si kura-kura, yang udah gangguin kesenangan dia. Nah, di kali lain, si kepiting berjemur lagi. Si kura-kura ada di sana juga.. Kali ini dia melihat ombak besar datang lagi. Tapi karena takut kejadian sebelumnya terulang, dia memutuskan untuk diem... Dan ternyata ombak besar beneren nyampe ke pantai, pas si kura-kura mau teriakin, ternyata dah telat. Si kepiting udah terlanjur keseret..

Mungkin bener, kalo ucapan kita harus lebih bermakna daripada ketika kita diem. Tetapi, tau dari mana kalo ucapan kita itu lebih bermakna? Contohnya kayaq kasus tadi. Dan kata sapa gosip tuh ga berguna? Emang mungkin ga berguna, tapi selama ga menjelek-jelekkan orang, kenapa nggak? Kadang, kita perlu sesuatu yang kasual buat pergaulan. Pernah ketemu ga, ama orang yang kaku banget? Bicaranya seperlunya, ga basa-basi? Terlalu straightforward juga kadang ga bagus kan?

So? Intinya, kalo nurut gw.. selama yang ktia bicarain tuh ga merugikan orang, ga jelekin orang, bukan kata-kata boong atau bual-bual.. Fine aja. I'm not talking aout being saint, okay? But lets improve ourselves..

At » 10:00 PM // 0 Comments »
tes tes
asda
sdasd
asdas
dasd
asdas
das
das
das
das
das
das
das
das
dasdasdasdas

Only Love

At » 7:32 PM // 0 Comments »



Don't be because Love

but be only love..
just the way, love is

Love is not to demand,

nor to ask
Love is to stay true
thru every rainy or stormy days..

Just the way, Love is!

Monolog Lalat

At » 10:18 PM // 0 Comments »


Kedai itu selalu ramai setiap istirahat siang. Meskipun di sebelahnya ada satu café kopi hasil franchise dari sebuah outlet internasional, orang-orang yang berdatangan hampir selalu memesan kopi. Mulai dari kopi pahit yang sederhana sampai cappuccino atau espresso yang berbuih-buih di permukaannya.

Begitu pula aku. Aku selalu datang, mencicipi kafein sambil duduk di beranda kedai yang hanya beratapkan tenda itu, dengan bermodalkan uang beberapa ribu dan kata-kata plus senyuman yang sudah dihapal si ibu pemilik. Dan seperti biasa pula, aku akan duduk menatap langit yang biru untukku – kalau mendung biasanya aku malas datang –, menikmati suasana siang. Semuanya cukup menyenangkan, kecuali satu hal, yang akhir-akhir ini begitu mengganggu.

Tak lama, pesananku setiap istirahat siang itu pun datang. Masih mengepulkan uap panas. Tidak hanya kopi yang sampai ke mejaku, tetapi juga lalat.

Lalat. Ya, l-a-l-a-t. Kini engkau tahu, kan, apa yang membuat suasana siang ini menjadi tak nyaman?

Makhluk kecil bersayap yang berdengung setiap kali terbang itu dengan setia mengikuti aroma makanan. Kesetiaannya melebihi anjing ras apapun – pasti.

Aku tersenyum maklum. Andai saja makhluk kecil itu sedikit lebih bersih, - dan tentunya tidak membawa bakteri- , mungkin ia akan terlihat sedikit lebih lucu dan menggemaskan. Tetapi sayangnya, lalat-lalat itu terbang ke mana saja, dengan tujuan utama tempat-tempat berbau busuk, termasuk timbunan sampah. Dan bagiku, bau busuk identik dengan putrefaksi, yang menghadirkan terdakwa utama dan satu-satunya : bakteri.

Kuusir lalat-lalat itu dari meja dengan sekali kibasan.

Maaf yah, aku mengerti kau hanya bermaksud bertahan hidup. Sekadar survive. Tapi, tunggu sampai aku selesai. Setelah itu semuanya milikmu.

Tetapi lalat-lalat itu masih keras kepala, masih dengan santainya bertebaran di sekelilingku. Dengungannya seolah menegaskan kalau ia juga haus – atau apapun itu. Dan aku juga belum ingin menyerah. Akan kupastikan kopiku tetap utuh, sampai tetes terakhir. Biasanya aku selalu menang kalau adu keras kepala dengan makhluk itu.

Kuangkat cangkirku, sambil tetap menatap curiga lalat-lalat tak berdosa itu. Kuteguk perlahan.

Ouch, panas! Segera saja kuletakkan kembali cangkir itu di meja. Dan tahu-tahu, seekor lalat telah jatuh ke dalamnya. Tapi lalat itu tidak menggelepar, tidak pula mendengung-dengung untuk menunjukkan kesenangannya. Lalat itu hanya diam dan mengapung. Mengapung tapi tidak terlihat berniat terbang.

Lalat itu – mati. Mungkin karena kopinya masih panas sekali. Dan aku pun kehilangan seleraku, dan kopiku.

Aku tercengang. Oke, lat, kali ini kau menang. Aku pun bangkit, hendak pulang ke kantor. Dan saat itu, mataku langsung tertuju pada seorang pelayan yang membawa nampan berisi secangkir kopi lain. Matanya sedang mencari-cari nomor meja pemesannya, tapi aku sudah melihat lebih dari cukup.

Lalat-lalat itu, datang dan hinggap di mulut cangkit kopi. Spontan aku melirik ke cangkirku – yang sekarang juga TKP matinya seekor lalat. Kurasa aku perlu ke kamar mandi …

*
Dalam perjalanan pulang, aku membayangkan kembali lalat itu. Mendadak timbul secuil perasaan iba.

Lalat malang itu mati bahkan mungkin sebelum sempat mencicipi kopi yang sedikit pahit itu. Kopi yang pastinya menurut si lalat tidak enak sama sekali.

Diam-diam aku membayangkan kalau aku ada di posisi itu. Atau berjuta-juta orang-orang yang suatu waktu dulu pernah kukenal ternyata telah terlahir kembali sebagai lalat. Lalat yang sampai kini tak kutahu apa gunanya.

Ya, apa gunanya lalat? Sama seperti kecoa, aku tidak tahu apa manfaatnya mereka. Tapi toh mereka tetap ada. Dan aku tak mau terlahir kembali sebagai lalat dan sebangsanya….
Kuhela napas panjang. Dan telingaku kembali mendengar dengungan khas itu.
Lalat.

SMS

At » 2:44 AM // 0 Comments »

Hai, lagi apa?

Kupencet keypad yang kemudian mengalihkan aku ke sebuah kotak kosong. Hanya dengan mengisikan nomor penerima, pesan singkat itu akan segera terkirim. Kubuka daftar buku telepon di ponselku. Kupencet angka 3 sekali, dan aku segera mendapatkan namanya.

Dan di detik terakhir, aku membatalkan pengiriman SMS itu. Ponselku kemudian mengalihkannya menuju ke draft.

Aku tersenyum pahit. Rasanya getir sekali.
Kubuka kembali draft di menu messaging ponsel. Dan kulihat kembali semua SMS yang urung kukirimkan.

buat apa…?

Every goodnite kiz of mine
has only one meaning
Every goodmornin kiz of mine
has only one dream to go
It’s you..
Message not sent
21-Jan-06

Missing you
Message not sent
12-Feb-06

What is inside the truth
compared to love sincerely?
Message not sent
14-Feb-06

Havent heard from you lately..
How are you now?
Message not sent
28-Mar-06

Dan masih banyak lagi.
Kuhela napas panjang. Semua kangen ini hanya bermuara pada satu orang..
Kumatikan ponselku. Aku harus mencegah diriku sendiri dari nelangsa ini. Tapi otak dan perasaanku seperti dua kutub yang benar-benar bertolak belakang.

Kutatap lama-lama ponsel itu. Berusaha mengenyahkan semua kenangan perjumpaan yang sentimentil ini..

***

Aku ingin bertemu.
Message sent

Dan enam bulan kebisuan pun mencair sudah..

Coba

At » 12:47 AM // 0 Comments »

ketika perpisahan...

At » 8:37 PM // 3 Comments »

[act 3]

Senja sudah melingsir ketika aku berjalan menapaki trotoar untuk pulang.
Semilir angin yang berembus menerbangkan beberapa helai daun, membuat mataku spontan mengikuti arah jatuhnya daun-daun itu. Aku selalu menyukai pemandangan ini.

Lalu mataku menangkap bayangannya.

Ia sedang berjalan ke arahku, dengan tatapan menerawang ke arah jalanan.

Aku terdiam. Semestaku hilang begitu saja ketika dia berhenti beberapa puluh senti di hadapanku. Untuk sesaat, kami hanya saling berpandangan.

Kulemparkan sebuah senyum getir. Tak pernah kukira bertemu kembali dengannya akan menyulitkan seperti ini.
***

‘Gimana kabar?’
Aku terperanjat. Setelah keheningan selama hampir 30 menit, tak kukira dia akan mulai bersuara.

‘Baik,’ kutatap wajahnya. Dan semua kenangan yang ingin kukunci rapat-rapat di hipokampusku segera meluber dan berhamburan keluar.
Segera kusedot es teh di hadapanku.

‘Apa kabarmu sekarang?’ Aku mencoba menetralisir seluruh kecamuk yang berprahara di benakku.
‘Aku baik. Sekarang sudah pindah kost.’
‘Kenapa?’
Dia tersenyum. ‘Tidak ada alasan khusus. Paling karena aku ngedapetin kos lain yang lebih murah.’

'Rumahnya gimana? Lebih nyaman?’

Dia mengangguk.

***

Kutatap punggungnya berlalu dari café. Sekali lagi, ia berlalu dari hidupku. Kupenjamkan mata.

Aku masih amat mencintainya. Tapi kata-kata itu kini hanya tinggal artefak usang, yang hanya menjadi penanda bahwa dia pernah hadir dalam hidupku. Tak pernah kukira bertemu kembali dengannya akan menyulitkan seperti ini.

Aku berbalik, menghadapi jalanku sendiri.

Kulangkahkan kakiku yang terasa berat. Sementara hatiku yang lemah sudah porak-poranda.

Aku harus terus…jangan menoleh lagi… itu hanya masa lalu..

Kupenjamkan mataku lagi. Betapa inginnya aku lari dari kenyataan ini.

Tapi…
Kugigit bibirku. Aku tak ingin mengingkari seluruh rasa ini. Aku menoleh.
Dan jalanan yang ramai itu terasa lengang. Aku tak menemukan bayangannya.

***

End of summer’06.
Help me, to be awaken from this long sweet but fake dream

…If you’re not for me, why we had to meet? …

Bandara 04:30

At » 8:47 PM // 0 Comments »

[inspired from the song by david tao, airport 10.30]

Kutengadahkan kepalaku. Mencoba mengusir sisa-sisa kantuk kemarin. Aku tersenyum samar tatkala kuingat kembali wajah Airin yang tengah tertidur pulas di pelukanku.

Sejak kami bersama dua tahun yang lalu, tak pernah kupikirkan hari ini akan tiba. Hari ketika aku akan beranjak untuk berpisah dengannya...

Rin, aku kangen...

Aku tahu, dengan segala logika, tak mungkin aku memintanya ikut bersamaku, betapapun aku mencintainya. Aku tahu ia pasti bersedia. Tapi, aku tak tega. Karena ikut bersamaku berarti dia harus meninggalkan semua kehidupannya di sini.

Jika perpisahan membuat kita masing-masing lebih dewasa.. aku akan belajar, Rin.. menjadi lebih baik...

Sepasang orang tua lewat dihadapanku, sambil bergandengan tangan. Kelihatannya mereka hendak berpergian. Aku kembali tersenyum. Alangkah bahagianya...

Aku bangkit dari tempatku duduk. Aku harus segera chek-in. Sebentar lagi pesawat akan berangkat.

Kumatikan ponselku. Airin pasti masih tidur.

Aku berangkat, Rin.. Tunggu aku...

ketika perpisahan...

At » 8:47 PM // 0 Comments »
[act 2]

Kugeser sliding door.

Pemandangan malam dengan dinginnya segera menyapa seluruh reseptor rasa di tubuhku. Kudekap kedua lenganku.

Sudah berapa lama?

Balkon ini telah menjadi asosial sejak hari itu.

Aku pun menengadah, mencari kerlip bintang. Kulihat bintang seperti tengah berlomba memenuhi angkasa gelap.

Ada berapa jumlahnya? Seperti itulah dirinya yang tak terhitung di dalam benak kecilku…

*
“Jangan diam.”

Dia menatapku heran.

“Ketika kamu diam, kamu terlihat menerawang jauh… Dan aku takut, karena aku tak pernah bisa menebak apa yang sedang kau pikirkan. Aku takut tak bisa menyeretmu pulang ke alam nyata, alam di mana aku eksis secara nyata..”

Dia tersenyum. Lalu memelukku, seperti yang sudah-sudah.

*
Aku tak bisa memungkiri, dan tak ingin mungkir, betapa aku kangen padanya. Pada tawanya. Pada matanya yang begitu penuh kehangatan. Pada hari-hari ketika ada dirinya.

Semuanya….

Tapi masa lalu sampai kapanpun hanya akan menjadi masa lalu. Tidak ada apapun yang bisa menghadirkannya kembali.

*

“Ada yang ingin kukatakan…”

“Katakanlah…”

Dia menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Ketika sekian menit berlalu, dan dia masih membisu, aku mulai khawatir. Sesuatu yang buruk sedang terjadi.

“Ada apa?”

“Mungkin sebaiknya kita berpisah saja…”

Berpisah? Kata-kata itu seperti air bah yang tiba-tiba menyeretku dari dataran kebahagiaan, dan menenggelamkanku dalam lautan penderitaan. Dadaku serasa sesak. Untuk sekian detik, aku tak mampu berkata-kata.

*

Aku tersenyum pahit. Tak seharusnya aku terus menghayati semua kenangan ini. Ketika perpisahan tiba, awal yang baru akan kembali bermula. Ketika perpisahan tiba, aku harus merelakan. Aku harus hidup dengan baik, seperti saat-saat sebelumnya.

Mungkin benar, tiada alasan bagi dua orang yang saling mencintai untuk berpisah, kecuali jika cinta itu tak ada lagi. Tapi, cinta saja tak cukup.

Aku yakin, dia pernah amat mencintaiku. Dan itu saja sudah cukup buatku. Semoga dia bisa menemukan mataharinya lagi. Semoga dia bisa menemukan seseorang yang bisa menemani perjalanan panjangnya. Asalkan dia bahagia….

Malam Terakhir

At » 7:14 AM // 0 Comments »
Airin menjulurkan kedua telapak tangannya, menyentuh pipi Ferre. Bola matanya yang bulat dan hitam memantulkan bayangan Ferre. "Kenapa kau memilihku?"

Ferre mengulum senyumnya. Disentuhnya kedua telapak tangan yang mungil itu. Diremasnya pelan. Rasanya hangat. "Perlukah alasan untuk mencintaimu?"

Airin menunduk. Direbahkannya tubuhnya ke dada bidang Ferre. Purnama di atas langit begitu cerah, menyinari malam yang pekat dengan selerat sinarnya.
"Aku takut, Re. Takut semua ini akan berakhir demikian cepat. Takut tak bisa lagi menjadi seorang Airin bagimu.." Suara itu kian lirih.

Ferre mengulum senyumnya kembali. Ia mempererat pelukannya. Berusaha menyalurkan semua kekuatannya. Ada berjuta kata-kata indah yang bisa ia keluarkan. Ada berjuta janji-janji yang bisa ia berikan. Tapi ia lebih memilih untuk diam.

Kadang, cara terbaik menyatakan sesuatu adalah dengan diam...

"Re.. "
"Yah?"
"Aku akan kangen."
"Mmm..Aku juga.."

***
Dan waktu juga yang memfosilkan masa lalu dalam rekening memori. Waktu juga yang menjadi algojo yang menggaris batas-batas bernama masa.

Pagi itu, Airin terbangun seperti biasa. Semuanya masih seperti semula, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Ia tersenyum samar. Ditatapnya langit pagi melalui jendela kamarnya. Aroma Ferre masih berjejak di atmosfer. Dan rasa kangen itu berdifusi perlahan-lahan mengisi ruang kosong.

Dirabanya dadanya. Rasanya hangat.

Ia tahu, Ferre akan kembali. Bukan untuk Airin, bukan untuk Ferre. Tetapi untuk cinta...

Ketika perpisahan...

At » 7:53 PM // 1 Comments »

[act 1]

'Tiada alasan untuk berpisah kecuali kalo kamu ga cinta lagi ama gw..'
Kutatap mata yang bulat berbinar itu. Mata yang bagaikan pelabuhan paling teduh di dunia. Mata yang pernah, dan sampai sekarang pun masih, membuaku tersesat di dalamnya.. tersesat tapi memilih untuk tetap tinggal di dalamnya. Mata yang menyiratkan sejuta pengertian buat semua sikapku.
Tapi momen ini, mata itu bersorot penuh kesedihan. Membuat hatiku nyeri. Dan membuatku ingin memeluknya erat-erat... tapi aku tak boleh lagi memeluknya...
*
Kubuka mataku, dan kudapati pemandangan senja dengan lembayungnya.
Kusandarkan kembali kepalaku ke batang pohon di belakangku.
Tidak seharusnya aku memikirkannya lagi...
Alam masih sama seperti sedia kala. Pohon-pohon itu rindang masih seperti yang dulu. Matahari masih akan bersinar. Dan penanggalan di dinding akan terus berlalu dibawa waktu.
Hanya sekarang mereka terlihat sendiri.
Aku ingin sekali kembali ke masa lalu itu.
*
'Tatap aku...'
Sesuai pintanya, kutatap wajahnya. Ingin sekali kutumpahkan seluruh isi hatiku, yang paling jujur. Ingin sekali kubisikkan padanya betapa aku membutuhkannya. Ingin sekali kukatakan padanya semua kecamuk ini...
Tapi.. tapi... tapi... TAPI...
Mulutku tetap terbungkam.
*
Kini aku paham, dirikulah yang berubah.
Diriku yang kehilangan dia. Diriku yang sekarang menyesali...
Kalau saja waktu itu kukatakan padanya. Kalau saja waktu itu aku jujur. Kalau saja waktu itu kudekap erat dirinya..
....akankah ada penyesalan seperti ini...?
*
'Tidak..aku tidak mencintaimu lagi...'
Kupalingkan wajahku. Tak sanggup melihat kristal itu hancur.
'Aku mengerti..' dia berbisik lirik. Suaranya demikian getir dan tertekan.
Lalu dia berlalu begitu saja. Dari hidupku. Dari semua mimpiku.
Cinta saja tak cukup, sayang...
*
Sampai detik ini pun, aku tahu aku masih menginginkannya. Aku masih mencintainya.
Tapi aku juga tahu, aku tak berhak lagi memintanya kembali padaku. Mimpi indah yang telah retak, untuk apa terus menyimpannya?
Aku yakin, dia akan menemukan sayapnya kembali. Dia akan kembali menemukan mataharinya. Dan saat itu, asalkan dia bahagia...
***

Buat Inisial L

At » 12:36 AM // 1 Comments »
Pernah ga, jatuh cinta?
Hehe, kayaqnya pertanyaan itu retoris yah? Semua orang pasti pernah jatuh cinta, ga soal cinta yang seperti apa. Wong anak SD aja sekarang udah ada yang pacaran. ^^

Tapi biar gito, cinta tetep ajaib. Pengalaman jatuh dan mencinta itu bisa memberikan begitu banyak hal – cemburu, kangen, bahagia, sedih, dll – walaupun kita udah berkali-kali jatuh cinta. Tetap saja, kita ga pernah bener-bener learn the lesson well. Buktinya, masih aja ada yang nangis meraung-raung sampai ngunci diri di kamar begitu putus atau lagi sakit hati karena bertengkar hebat ama pacarnya. Buktinya, lagu-lagu broken heart yang super duper melankolis senantiasa laris manis di chat lagu-lagu – dan gw termasuk salah satu penggemar lagu-lagu kayaq gito. Buktinya, banyak orang yang kaku mendadak bisa jadi puitis gila begitu jatuh cinta. Well?

Sejak dulu ampe sekarang, gw masih percaya kalo mencintai itu adalah proses. Kita ketemu ama seseorang, dimulai dari kesan pertama semacam ‘eh kayaknya dia lucu deh,’ lalu dilanjutkan dengan perasaan pengen deket terus ama si dia, dan akhirnya nembak.

Sampai ke bagian pengen deket-deketen trus, kayaq perangko ama suratnya, rasanya masih adem ayem saja. Rasana masih tersenyum terus mengkhayal yang macam-macam. Tapi gito sampe ke bagian nembak… rasanya belum apa-apa jantung mau copot duluan. Kalo ga ada si rusuk baik hati, kayaqna organ yang malang itu udah lompat keluar duluan.

Bener ga, sih? Jawab ndiri aja, ya?

Nah, sekarang gw ganti pertanyaan di atas :

Ada ga, seseorang yang kamu cintai sekarang?

Kalo jawaban pertanyaan di atas pasti ‘iya’, jawaban untuk pertanyaan yang ini belum tentu iya.
Gw punya seorang temen cewek, inisialnya L. Jangan bicara soal penampilan, yah, tapi gw yakin kalo dia tuh pada dasarnya baik (kalo kamu ngerti, L, jangan ge-er yah). Gw tau kalo dia tuh diam-diam sedang mencintai seseorang, adik kelasnya, sekaligus temen baiknya. Kenapa gw sebut diam-diam? Soale sampe sekarang dia selalu mengelak kalo ditanya, padahal it’s very obvious! Dan sayangnya lagi, si cowok udah punya pacar. Gara-gara dia diamnya kelamaan kali, ya? Tapi si cowok juga udah secara implisit menyatakan kalo dia cuman menganggap si L ini kakak sih..

Gw tahu rasanya diam-diam mencintai seseorang. Hanya bisa berharap dalam hati, dan memilih bungkam di hadapan si dia. Ini satu bukti kalo nembak orang itu bukan something easy..

Tapi
.
.
Gw tetap merasa kalo nembak seseorang yang kita sayangi tuh harus dilakukan. Itu udah kewajiban. Daripada kalah sebelum perang? Daripada diam ga berbuat apa-apa? Daripada hanya bisa menatap si dia dari kejauhan? Meski tau bakal kalah, gw prefer berperang ampe titik penghabisan. Biar kalahnya memberi kepuasan tersendiri.

Karena gw tahu, mencintai seseorang bukanlah dosa. Bukanlah sesuatu yang memalukan. Cinta bukanlah cinta sebelum dipersembahkan…

Tapi banyak juga yang berkilah, cinta kan ga harus memiliki. Asalkan dia bahagia. Dan segala macam hal sejenis lainnya.

Kata gw, kalo cinta tidak untuk dimiliki, apa gunanya? Buang-buang energi, tau! Justru cinta harus diperjuangkan! Tau dari mana dia bakal lebih bahagia ama orang lain? Tau dari mana orang lain bakal lebih mencintai dia daripada kita? Emang, kita ga berhak memaksa, still at least, we must try! Emang, kamu mau, ketika kamu tua ntar, kamu melihat ke masa lalu kamu, lalu bertanya-tanya hal semacam, ‘apa jadinya kalo waktu itu aku nembak?”??

Dan kata sapa cewek ga berhak nembak duluan? Daripada diam dan si cowok terlalu bodoh buat menyadari ada bidadari di hadapan dia? Daripada diam dan si cowok ga mlihat pabrik gula di hadapan dia lalu nyari-nyari permen di luar? Daripada sakit hati trus nangis tiap liat adegan romance di tipi?

Oke, L. Kalo kamu baca ini, semoga kamu ngerti. Klo dia bilang ‘ga’ ke elo, elo baru deh berhak nangis. Dan saat itu, lo harus melanjutkan hidupmu.

Belajar

At » 8:47 PM // 0 Comments »
Ya, aku belajar
bahwa jatuh tak lebih buruk daripada berdiri setegar karang
yang tak bergeming walau dihempas ombak
bahwa kesedihan tak lebih buruk daripada tawa ceria
------------------------------------------------------------------------------------------------
Kapan kita semua akan belajar? Belajar bahwa dualisme ada dengan saling melengkapi. Bahwa ketika kita jatuh, kita tidak akan pernah merasakan makna berdiri kokoh yang sebenarnya.
Bahwa hidup, dengan semua isinya yang sesungguhnya tidak menarik, belum bermakna apa-apa tanpa penderitaan dan segala macam problemanya. Coba bayangkan, kalau kita hidup tanpa ada kesulitan apa-apa. Monoton, bukan?
Justru semua permasalahan itu akan menempa diri kita. Membuat kita mampu berdiri kokoh dan memulai lagi diri kita dengan semangat yang baru. Membuat kita dewasa dan belajar..
Tapi..
Ada berapa banyak orang yang sesungguhnya tengah dan masih terus belajar?
Ketika menghadapi problema, apa yang terjadi? Mengapa yang didengungkan justru celaan dan kritik dan sejenisnya?
Adalah sifat alamiah ketika manusia mencari yang terbaik...
Aku mendengar pepatah itu suatu ketika. Dan sekarang aku hanya bisa tersenyum memaklumi. Tidak semuanya bisa seideal yang kukira. Seperti teori yang bermanfaat, tetapi menjadi tumpul ketika berhadapan dengan praktek nyata di lapangan.
Hanya dengan pengalaman kita bisa belajar. Bisa lebih memahami. Tetapi seringnya kita melupakan begitu saja semua kesulitan itu. Sudah berlalu ya sudah, jangan dipikirkan lagi.

Otak manusia sebenarnya hanya 100 bytes, dengan memori yang terbatas itu, tak mungkin kamu menghapal semua..demikian kata dosenku suatu ketika. Dan sekali lagi, aku hanya bisa tersenyum maklum dan memilih tenggelam dalam diamku. Toh, aku tak punya hak untuk mengomentari, karena yang terlihat oleh mataku tidak selalu merupakan kenyataannya.
Aku hanya pengamat, yang masih sedang belajar.....
------------------------------------------------------------------------------------------------
Maka temukan harmoni itu
lalu mainkanlah..
karena rasa sakit ketika jatuh
dan tetes air mata kesedihanmu
jauh lebih bermakna dari yang pernah kau kira..

Jika

At » 11:42 PM // 0 Comments »
Jika sejak awal memang dirimu tak pernah bermakna bagiku
mengapa aku mesti memikirkanmu?
mengapa di benakku hanya ada kamu?

mengapa senyummu terasa bagaikan air di padang tandus?
mengapa suaramu seperti simfoni alam, mendendangkan harmoni indah?

Jika sejak awal aku tau akan seperti ini...
akankah aku memilih yang seperti ini?

esdoubleu.
now falling....
- jika kamu memang bukan untukku, mengapa harus bertemu?-

My videos. Featured videos.

My photos. Now you know me.

most viewed

Browse Flickr

My lifestream. Stay updated with me.

Recent Comments

My favblog. Feeds from them.