
Betapa inginnya ia menyilet hujan. Memotongnya menjadi apa aja. Lalu membuangnya. Menyingkirkannya.
http://www.anshuldudeja.com








Tak pernah sebelumnya aku menganggap hujan adalah simfoni yang pilu. Bagiku, hujan adalah melodi yang merintik, menceritakan pada bumi tentang perjalanan sang air mengarungi angkasa. Membawa segenap rahasia alam, yang hanya bisa dimengerti sang bumi. Mungkin karena itu pula, bumi dengan sabar dan tenang mendengarkan, menampung semua curahannya…Satu malam itu, hujan tengah mengguyur Bandung dengan lebatnya. Menyisakan hanya secuil ruang kecil yang kering, yang hangat. Jalanan, atap, rumah, gedung, semuanya basah tanpa kecuali. Termasuk payung biru di genggamannya.
Aku menatapnya lemah. Baru saja ia menceritakan padaku tentang seorang dia yang mengisi hatinya empat tahun terakhir ini. Seorang yang ia katakan tak akan bisa ia miliki, tak akan bisa ia peluk, tak akan ada di saat paling sedih dan bahagia hidupnya. Seorang yang ia cintai diam-diam, seorang yang bisa setiap hari ia temui, seorang yang mungkin hampir setiap saat berada di sampingnya.
Dan, aku tertawa. Tertawa yang teramat pahit, karena perasaan lara itu mengusik hatiku lagi. Ah, bukan hanya lara. Segala macam perasaan; entah itu gembira, entah itu salut, entah itu cemburu, entah itu sedih, entah itu sepi. Semuanya bercampuk aduk menjadi satu.
Kukatakan padanya, “Aku tak percaya tentang cinta, tentang hubungan dua insan manusia lagi…”
“Kenapa?”
Aku tersenyum, lelah. Ada beribu ‘karena’ yang bisa kuucapkan. Tapi pada akhirnya, hanya perasaan sentimental usang itu yang lagi-lagi kutemui. Perasaan sentimental yang menolak seluruh rasio dan akal sehat. Yang membuatku membuang semua mimpi yang ada di depan sana, dan justru memunguti satu per satu serpihan masa lalu yang retak.
Aku menghela napas. Dan ia tersenyum simpatik.
“Kenapa juga kamu masih mengharapkannya?” tanyaku.
“Karena aku cukup puas dengan perasaan ini. Tanpa beban, tanpa keresahan, dan tanpa kecurigaan..”
“Pernahkah kamu merasa sangat sepi?”
“Tidak..”
“Itulah yang kurasakan sekarang….”
Ia tertegun. Dan itulah terakhir kali aku mendengar kabar darinya.

Tak pernah sebelumnya aku menganggap hujan adalah simfoni yang pilu. Bagiku, hujan adalah melodi yang merintik, menceritakan pada bumi tentang perjalanan sang air mengarungi angkasa. Membawa segenap rahasia alam, yang hanya bisa dimengerti sang bumi. Mungkin karena itu pula, bumi dengan sabar dan tenang mendengarkan, menampung semua curahannya…
Tapi pemandangan di depanku sedang mengisyaratkan sesuatu yang lain. Di bawah payung biruku, kulihat punggung yang familiar. Dari semua tempat di kota, tak pernah kukira akan kutemukan dia di sini.
Punggung itu kuyup. Dan hatiku trenyuh. Mengapa mesti hujan sekarang? Apakah langit juga tengah bersedih?
Aku berjalan mendekat, dan memayunginya. Kukira ia akan menggigil; cuaca begitu menusuk. Tapi ia membisu di sana, seperti tenggelam dalam kesunyian panjang. Seperti menceburkan diri dalam beku, dalam waktu yang seakan berhenti berdetak.
Di luar dugaanku, ia tak lagi menepis payungku, seperti yang sudah-sudah. Ia hanya diam. Pipinya yang basah membuatku tak tahu, apakah ia masih menangis menatap selembar foto bisu di hadapannya.
Ingin rasanya aku merengkuhnya. Mengatakan bahwa ia masih akan memiliki diriku. Tapi, aku tahu, terlalu banyak yang mesti dikorbankan dengan keegoisanku ini. Dan, jadilah aku yang sekarang; alien yang datang ke bilik kecil permenungannya. Dunia asing yang tak akan pernah bisa kumasuki…
“Ayo pulang…” bisikku lirih, sambil menggandeng tangannya.
Lalu ia akan berpaling, menatapku dengan matanya yang teduh. Mata yang begitu dalam, mata yang disarati kesepian dan luka.
Ia mengangguk samar. Lalu kami akan berjalan meninggalkan pemakaman itu, sambil membawa sesuatu dalam hati masing-masing.
Dan sore itu, hujan memang sedang memainkan simfoni yang lara, yang entah kapan selesai. *
‘Ri?’
Arina membuka matanya.
‘Kamu baik-baik, Ri?’
Ia menoleh. Dan menemukan wajah sahabat baiknya, sedang menatapnya penuh simpatik.
Butuh beberapa detik sebelum ia menyadari situasi di sekelilingnya: beberapa orang sedang membereskan meja-meja, lampu-lampu hias sudah tidak menyala lagi, juru foto masih sedang mengambil beberapa gambar. Sudah agak sepi. Berarti pesta telah selesai.
Malam ini, sekali lagi sepasang manusia telah dipersatukan oleh satu ikatan yang dinamai pernikahan. Dan setiap kali melihat raut-raut kebahagiaan yang menghiasi wajah mama-papa dan Mas Bimo, Arina mencoba meyakinkan dirinya sendiri, pernikahan memang pelabuhan paling sempurna untuk kapal-kapal cinta.
Tapi, ia tidak merasa pernikahan itu sesuatu yang perlu. Saat semua gadis seusianya di kampung ramai membicarakan pernikahan impian mereka, Arina akan mulai bertanya-tanya tentang kebahagiaan. Tentang cinta.
Tidak, ia bukannya membenci pernikahan. Mama-papa selalu harmonis dalam 25 tahun pernikahan mereka. Setidaknya, begitulah kata orang-orang. Arina bahkan selalu berharap yang terbaik untuk setiap pernikahan yang terjadi, dan turut merasa bahagia melihat kebahagiaan pasangan-pasangan baru itu. Ia juga cantik dan banyak cowok yang berminat padanya. Praktis, tidak ada alasan untuknya merasa benci atau pesimis terhadap pernikahan dan cinta.
Tetap saja, di atas semua kelebihannya, ia tidak bermimpi akan menikah. Karena itu juga, kadang ia merasa heran, mengapa wanita yang umurnya mendekati 30 tahun seharusnya gelisah mencari jodohnya. Kemudian ia mulai mengerti, pernikahan bukan hanya perkara cinta. Tetapi juga perkara ‘apa kata tetangga, sanak famili, dan orang-orang nanti’. Juga perkara kehormatan. Juga perkara punya anak yang diakui orang-orang, yang kemudian bisa jadi penerus keluarga. Untuk yang terakhir ini, harus ditebus suami dengan nafkah rutin setiap bulannya. Dan sang istri akan membayarnya dengan menjadi paket all-in-one: melayani suami dan melahirkan anak.
Makin lama, bagi Arina, semua itu makin terdengar seperti perdagangan.
Ia tak pernah bisa lama-lama menghadiri pesta pernikahan, sehingga mama tak pernah mengajaknya. Tapi kali ini, ia tak bisa kabur. Karena yang menikah adalah kakak laki-laki dengan sahabat baiknya. *

Layar monitor yang berpendar. Secangkir kopi dingin yang tinggal separuhnya. Malam gelap pekat yang sunyi…
Kutatap nanar satu layar putih di hadapnku. Judul atasnya masih Document1.
Entah sudah berapa kali aku mengetik, untuk kemudian kuhapus kembali dengan satu tombol backspace yang kupencet lama-lama.
Entah sudah berapa kali pula layar itu menampilkan kata-kata yang kuketik, untuk kemudian menjadi putih melompong kembali.
Kuhela napas. Kulepas kaca mataku, dan kupijat-pijat mataku.
Tidak ada deadline yang mesti dikejar.
Tidak ada kantung kosong yang mesti dipenuhi dengan honor hasil menulis.
Bahkan mungkin tidak ada orang yang merasa kehilangan, karena aku tak punya pembaca. Kecuali diri sendiri, yang kadang membutuhkan nostalgia. Yang kadang butuh membuka kembali lembaran-lembaran lama.
Tapi selalu ada ego untuk bertemu dan berbincang dengan diri sendiri. Selalu ada hasrat, entah itu hasrat untuk menulis atau sekadar melarikan diri dari kepenatan sehari-hari. Selalu ada kejujuran yang menunggu untuk bermuara.
Lalu, haruskah itu semua menjadi beban?
Aku menggeliat. Jam weker kecil di hadapanku sudah menunjukkan pukul 3 pagi.
Hari ini tak ada tulisan. Biar sesekali diam yang berbicara. –END
Dingin.
Dingin pagi yang menggigil, yang membuat selimut terasa begitu nyaman.
Dingin pagi yang menghujam raga, namun juga terasa begitu hidup. Begitu menyegarkan.
Dingin pagi yang menghapus kantukku. Aku mengusap kedua lenganku, mencoba mengumpulkan sedikit kehangatan.
Panorama pagi dari balkonku selalu terlihat baru, biarpun sudah bertahun-tahun aku menghuni rumah ini. Hijaunya dedaunan, merahnya mawar, kuningnya krisan, coklatnya tanah, beningnya air, birunya langit, serta kadang-kadang, pelangi yang dibiaskan air.
Pemandangan yang seperti mengisyaratkan, di sini waktu tak beranjak… Meski hari terus terseret oleh detik, namun warna-warna yang familiar ini seperti tak lekang oleh waktu.
Dari dasar hatiku, terbersit sedikit rasa cemburu.
Karena ketidakkekalan seperti telah menjadi bayanganku semenjak aku lahir.
Aku tak menyesalinya, hanya…aku hanya ingin bisa terus bersamanya… memeluknya dari belakang tiap bangun pagi, melihat senyumnya, dan mengucapkan selamat pagi yang pertama untuknya…. Melihatnya terlelap setiap malam, menggenggam jemarinya, dan mengucapkan harap agar kami dapat bertemu dalam mimpi… melindunginya dari kepahitan dunia, merasakan tawanya menerpa hatiku.. merasakan.. Ah! Kutepis sedih ini. Di hari terakhir ini, ia tak boleh melihat air mataku.
Maafkan aku, sayang.. aku tak pernah berharap kau bisa mengerti. Tapi aku ingin kamu tau, 18 bulan terakhir ini adalah masa paling indah dalam hidupku…
Aku telah menyerah. Bukan karena aku lelah berperang dengan dunia yang tak adil ini. Bukan karena aku tak mencintainya lagi…
Aku hanya tak bisa melihatnya menderita karenaku…untukku….
Ia telah meninggalkan semua miliknya untukku. Dan aku akan mengembalikannya… utuh. Ia seharusnya berada bersama keluarga yang mencintainya…bukan dengan seorang pesakitan…
Karena tidak ada tempat di dunia ini, untuk cinta kita, sayang….
*

[act 1]
Zess… kereta api yang melambat bersuara dan menimbulkan goncangan kecil yang membangunkanku. Kukucek mataku yang lelah, sambil melirik ke jendela.
Sebentar kemudian, kereta kembali bergerak menyusuri relnya. Dan rumah-rumah itu tampak seperti ikut terseret oleh detik-detik yang dipacu oleh lokomotif waktu. Tapi mereka selalu ketinggalan jauh di belakang sana. Aku bangkit, mendekatkan diri ke jendela.
Dalam beberapa hal, aku seperti rumah-rumah yang berlari itu…
Jam di pergelangan baru menunjukkan pukul 4 subuh, tapi aku sudah kehilangan seleraku untuk terlelap.
*
[act 2]
Kutatap tiket kereta di telapak tanganku. Mendadak aku merasa bimbang. Merasa galau. Kutoleh ke belakang, tapi stasiun yang sepi di jam 12 tengah malam telah mengisyaratkan kesendirianku.
“Masuk?” Petugas di peron bertanya padaku, setelah sekian detik aku hanya mematung di depannya.
Kulirik wajah tua yang demikian simpatik itu. Dan aku teringat lagi senyum mama. Sekali lagi, aku menoleh ke belakang. Masa lalu seperti tengah berkelebat, memenuhi seluruh peron.
Aku paling benci memilih. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa memilih.
Tapi sekarang, aku harus memilih.
*
[act 3]
‘Apa jadinya kalau kau harus memilih?’ dia bertanya sambil menatap lurus padaku.
Kupandangi sepasang mata teduhnya. Mata yang selalu mengisyaratkan kesedihan di dalamnya. ‘Apa maksudnya?’
Ia menghela napas berat.
Dan ketakutan itu segera menjalar di seluruh benakku. Ia mengakar, dan membuahkan kepanikan yang meneteskan adrenalin. Atmosfer ini sudah terlalu sering terjadi.
‘Antara aku, atau duniamu. Keluargamu…’ Pertanyaan yang sama. Lalu ia akan memberikan penjelasan yang sama. Penjelasan yang selalu menyudutkan perasaan yang dinamai cinta. Penjelasan bernama realita yang mampu menghamburkan semua mimpi.
Aku terdiam. Dan selama berbulan-bulan sesudahnya aku tetap bungkam. Aku tak mampu menjawab pertanyaan itu. Sama seperti ketidakmampuannya untuk memilih : aku atau dunianya. Dua hal yang sama berartinya.
Tapi kali ini, jarak di antara kami pun membeku sudah. Terkunci rapat dalam istana gading waktu, dan kuncinya entah di mana.
***
[act 4]
Delapan jam lagi telah berlalu.
Lokomotif di depan akhirnya berhenti di stasiun transit. Aku beranjak dan turun. Lalu kupandangi lokomotif itu perlahan-lahan berlalu.
Perpisahan selalu menyakitkan. Bagiku, perpisahan menyisakan rasa asing yang tak mengenakkan.
Mungkin mama tak akan pernah memahami pilihanku. Pilihan yang mengharuskanku menuliskan secarik kertas salam perpisahan untuknya. Sejak dulu, aku tak pernah mampu mengucapkan kata-kata perpisahan…
Kutatap jalan di hadapanku. Pintu depan stasiun. Seluruh momenku yang sekarang dan akan datang ada di sana.
Aku telah memilih untuk datang padanya. Aku memilih cinta. Karena aku mencintainya. Dan itu adalah realita yang tak boleh kulupakan, di atas semua realita lainnya.

Browse Flickr
Copyright © 2009 esdoubleu3 All rights reserved.