My Writings. My Thoughts.

Showing posts with label Unfinished Project. Show all posts
Showing posts with label Unfinished Project. Show all posts

Pisau Untuk Hujan

At » 10:17 PM // 1 Comments »




Dan itu bukan sayap.

Bayangan yang berkilat di balik punggungnya itu bukan sayap. Meski putih. Meski berkelebat, dan terlihat siap mengepak.

Bukan pula sayap-sayap patah, seperti yang melindungi Selma dari tusukan derita karena cinta.


Benda itu adalah sebilah pisau. Tajam. Terasah. Dan terlihat baru.


Setiap hujan mendera, pisau itu siap terhunus.


Betapa inginnya ia menyilet hujan. Memotongnya menjadi apa aja. Lalu membuangnya. Menyingkirkannya.


Karena tak pernah ia ingin menyimpan apapun yang tak bisa ia miliki.


Tetapi hujan, turun terus. Menderas. Dan sekali lagi, hujan akan berlalu, meninggalkan dirinya. Menjejakkan basah yang berlumpur.


Noda.

Noktah.

Seperti kenangan tentang dirinya yang tak terhapus..



Wanita itu mencintai hujan

At » 11:59 PM // 0 Comments »




Engkau akan mengira ia jatuh cinta pada payung.

Spesifiknya, payung berwarna biru, yang ia genggam erat, meski hujan tak mencurahi bumi, atau matahari enggan bersinar terik.

Atau barangkali hanya aku yang berhalusinasi. Barangkali di tangannya memang tiada sesuatu. Atau sesuatu itu bukan payung, melainkan gumpalan perasaan. Sedih, bahagia, kecewa, haru, malu, sepi, takut, berani, gentar, dan sebagainya, bercampur menjadi satu. Berakumulasi, seperti flokulan yang menggenapkan kotoran, lalu terendapkan.

Tapi selalu tak ada ekspresi di wajahnya. Atau barangkali, mimik datar juga ekspresi?
Bahkan ketika matahari terlalu menyilaukan mata, atau klakson terlalu ribut. Semua seperti terserap ke dalam benda kecil di genggamannya. Hilang, lenyap. Tak ada jejaknya di udara.


Hingga hari itu tiba. Hari itu, hujan untuk pertama kalinya menetes.
Mencurah. Menderu. Mendebar.
Seperti detak jantung yang tersirami darah.
Bedanya, darah itu berwarna kelabu. Kelabu yang merekah, merenda, dan merengkuh.

Ia membuka benda itu.
Yang lalu bertransformasi menjadi payung.. aku benar.

Dan dia seperti penari. Penari yang meliukkan tubuhnya tanpa getar dan letar.
Penari yang menarikan hujan, mengalahkan pawang.
Penari yang air matanya barangkali lenyap, bersama hujan, karena ia harus tersenyum di hadapan penontonnya..

Ia berhenti melangkah.
Hujan menudunginya, selayak payung menadah semua gerimis.

Hari itu, aku tahu.
Wanita itu mencintai hujan lebih daripada payungnya.

Berlari..

At » 11:06 PM // 2 Comments »




Abimanyu menyingkirkan gelas di tangan Marina. Ada yang terhempas di hati. Ada yang meluruh di raga.


Marina tertawa. Tawa yang membahana dan seperti bergema berulang-ulang. Ia melayang dalam badai serotonin. Ia lupa semua pahit. Dan sekali itu, membiarkan dirinya sendiri menjadi gadis yang amnesia. Abimanyu meraihnya dalam pelukan.


Saat itulah, ia mendengar Marina meracaukan sebuah nama..


Ia tertegun. Lama. Ada yang remuk, di hatinya. Ada yang pupus, di raganya.

Mendengarmu..

At » 6:57 PM // 1 Comments »




Aku merasa mendengarmu. Dalam gelap malam. Dalam desau angin. Dalam debur laut. Dalam tetes hujan. Suaramu terasa menggema dalam hingar-bingar simfoni alam. Terasa dekat, namun tak tersentuh. Tak tergapai. Membuatku kian frustasi, kian menggigil, dan kian remuk.

Ingin rasanya kupakai head-phone. Ingin rasanya aku membekap gendang telingaku dan memilih tuli. Tetapi sebagian besar diriku malah mengharapkan sebaliknya. Aku, si manusia paradoks, begitulah dirimu pernah berujar. Kini, aku berpagut dalam paradoks tentang dirimu. Tentang rasa yang menghinggapi hatiku, diriku, dan jiwaku, seperti parasit. Dan aku inang yang tak bisa hidup tanpa si parasit.

Aku merasa mendengarmu. Meski gelap malam pekat membungkus retina mata. Meski desau angin mendesir, dan membawa pergi semua mimpi. Meski debur laut memecah dan hilang ditimpa surut. Meski hujan mereda dan melarikan semua debu yang penat. Meski aku tak menginginkannya.............

(meski) Kau Keparat!

At » 8:38 PM // 0 Comments »



Seharusnya aku membencinya. Atau lebih baik lagi, melupakannya. Tetapi aku tak bisa. Karena itu, kukatakan padamu, aku nelangsa. Menyedihkan. Dan sedikit membuat kesal.

Namun, jangan sekali-kali kau bilang kau bersimpati. Atau meminta maaf, dan terlebih-lebih lagi, merasa kasihan padaku. Aku tak butuh itu, meski aku tak baik-baik saja. Hei, aku masih hidup di sini. Berusaha membuang-buang energiku untuk mencoba membencimu. Untuk meyakinkan diriku sendiri, bahwa aku baik-baik saja, tanpamu.

Tanpamu.
Bahkan mengucapkan kata ini saja, membuatku sesak. Membuat duniaku serasa runtuh. Dan ini membuatku malahan membenci diriku sendiri. Yang dengan gampangnya bertekuk lutut, dan mengangkat kedua tanganku di hadapanmu... hanya untuk membiarkan diriku sendiri terbakar dalam api cemburu. Karena bahkan melihatku saja kau tak mau. Menawanku sebagai pampasan perangmu saja, kau tak sudi. Aku benar-benar se-tak-berharga itu ya?

Aku gila. Aku neurotik. Aku delusional.
Karena memilih mencintaimu, di saat aku seharusnya membencimu.
Di saat seharusnya aku mengucapkan selamat atas kebahagiaanmu.
Di saat seharusnya aku melupakanmu dan melanjutkan hidupku.

(meski) Kau keparat! Aku mencintaimu.

Lama Sudah...

At » 10:10 PM // 2 Comments »
.......ia mencoba rujuk dengan masa lalunya. Akur dengan sepotong kenangan yang berjenak di sudut jantungnya. Atau berdamai dengan gejolak halus yang berdesir di dadanya setiap ia teringat adegan silam itu. Tetapi, seperti matahari yang senantiasa mengkhianatinya karena terbit terlalu dini, seluruh raga dan jiwanya seolah meronta, menggelepar, dan menerabas jarak waktu, tak kuasa melepaskan semua manis dan pahit yang pernah dihadirkan lelaki itu. Dan saat-saat seperti ini, ia hanya bisa menggigit bibirnya sendiri, bersedekap dan menggulung dirinya ke dalam selimut tua. Bersembunyi dari tatapan hari. Mendekap dirinya sendiri, berharap dengan begitu, jiwanya tak lepas terbang ke masa lalu. Karena air matanya sudah menguap entah ke mana.

Ia tahu, ini semua tak sehat baginya. Ini semua tak baik baginya. Karena itu, pernah ia mencoba mendefinisikan kembali semua rasa. Merangkai jalinan kusut yang saling berpilin. Yang pada akhirnya, hanya bermuara ke entah apa. Dan ia kembali ke titik nol. Berputar-putar dalam lingkaran utuh yang sempurna. Ia nelangsa. Ia merana. Merana karena memilih mencintai dan tersesat dalam melankoli pahit...

Barangkali aku betulan harus angkat kaki dari rumah ini

At » 12:59 AM // 2 Comments »
Barangkali dengan mengganti deodoran yang kugunakan, pasta gigi yang kupakai, dan sabun mandi cair yang kubusakan ke tubuhku, aku bisa melupakanmu. Maksudku, benar-benar melupakanmu. Mencampakkan sampah-sampah ke tempat pembuangan yang semestinya, dan bukannya menumpuknya di sudut laci ingatanku, lalu membiarkannya membusuk di sana.
Sungguh, kukatakan padamu, aku ingin berhenti menatap langit yang biru, laut yang gagah, atau awan yang seperti kapas. Aku ingin berhenti mendengarkan irama Mozart atau Beethoven. Ingin berhenti menyiapkan secangkir kopi pekat di pagi hari yang akhirnya harus kubuang. Sama inginnya aku berhenti mengingat bagaimana kau menyukai langit, laut, dan awan. Atau bagaimana kita berdebat mengenai lagu apa yang akan diputar di tape mobil. Atau secangkir kopi yang kau seruput setiap pagi untuk berdamai dengan rasa kantuk dan aku yang menceramahimu tentang kafein.. Dan aku benci diriku yang kini sadar, bagaimana aku yang dengan tanpa sadarnya berketetapan menemanimu, memelukmu, dan bersama mengais-ngais keindahan langit, laut, dan awan. Atau diriku yang berjanji akan membiarkanmu memegang kendali pada remote tape, dan diriku yang akan berhenti menceramahimu tentang kafein yang bodoh itu.
Aku pasti sungguhan dungu. Gila. Kacau. Dan aku hanya bisa tertawa sambil mengangkat kaleng birku, menggeleng-geleng kepala dan mengacungkan jari tengah kepada langit yang keparat, karena mendadak terlihat begitu memukau. Aku ingin menjadi lebih tak peduli. Tetapi biarpun begitu banyak orang yang telah lalu lalang dalam hidupku, dari ranjangku, setelah kamu, tetap saja aku tak bisa menepis aromamu, manis bibirmu, dan bola matamu yang teduh.
Barangkali aku betulan harus angkat kaki dari rumah ini.

Perjalanan Kata

At » 9:17 PM // 1 Comments »

click to enlarge.

Hening

At » 3:42 AM // 0 Comments »
Namanya Hening. Aku memanggilnya Ning.
Dan selayak namanya, ia memilih bersetubuh dengan sunyi, alih-alih tenggelam dalam keramaian. Namun, bukan berarti ia asosial. Ia memiliki sejumlah orang yang ia sebut teman. Keluarga yang hangat. Kekasih yang pengertian, yang pelukannya ibarat pelabuhan teduh dari badai gelombang yang bergejolak. Ia memiliki aku, yang memanggilnya Ning.
Baginya, sunyi yang senyap mendekap damai. Menyimpan selaksa rahasia tentang hidup, tentang hati, dan tentang diri. Dan ia kecanduan. Ia sakau, sehingga setiap kali kembali ke kamarnya yang mungil, ia akan luruh ke dalam sunyi. Merasakan gemuruh yang sama, yang berdebur halus di dadanya. Ia berjenak kembali dengan dirinya sendiri, dengan sudut terdalam dan tergelap dalam jiwanya. Melepas semua rasa yang mengeruh, dan mengangkat bendera putih pada kecamuk dan sedih yang bergelayut sepanjang hari itu.
Terkadang, aku ingin memasuki ritual itu. Menghayati pengalaman dan segenap rasa, dan bukan lagi hanya sekadar menatap dunia kacanya. Tetapi, seperti rasa sesak urin, Engkau tak akan pernah bisa menitipkan cairan ekskresi itu melalui kemih orang lain. Engkau harus membuangnya sendiri. Sama seperti tubuhmu yang menghasilkannya, menampungnya.
Namanya Hening. Bukan Heni, Henny, Heny, Hany, atau Hanny. Bukan pula Bening. Bukan pula Eni, Enny, atau Eny. Dan aku memanggilnya, Ning.

Payung Biru: Prekuel..

At » 11:14 PM // 0 Comments »

dedicated to. KL.

Pagi itu, hujan turun. Rinainya beramai-ramai menghujam bumi. Kelabu. Pucat. Suram. Melarikan sinar matahari, dan berkompromi menciptakan pelangi, nanti. Dingin. Menggigil. Tak ada yang luput dari basah di luar sana. Jalanan, taman, gedung. Kuyup. Sendiri.

Dari balik jendela yang mengabur, aku menatap semua pemandangan itu. Diam-diam, jauh di dalam hati, aku merasa beruntung. Beruntung karena aku kini berada dalam dekapan seseorang yang mencintaiku, dan yang kucintai. Dekapan hangat, yang menjadikan dingin tak berarti. Dekapan erat, yang menjadikan sepi tak bermakna. Dekapan sederhana, yang menjadikan waktu cemburu.

Pagi itu, hujan turun. Meski matahari tak terlihat di langit, dalam semesta kecilku ada sebuah matahari yang masih tetap bersinar. Dan semoga aku juga menjadi matahari di harinya...

Napasnya naik turun. Begitu teratur. Seperti simfoni. Seperti surga.
Lalu ia terjaga. Matanya mencari-cari diriku. Mengisyaratkan kangen, setelah semalaman tidak saling bersua dalam alam nyata. Entah dalam mimpinya, karena dalam mimpiku, yang kulihat hanya dia...

"Hai," aku menyapanya.
Ia tersenyum. Bola matanya membulat, dan berbinar.
"Selamat pagi..."
"Pagi.."
"Hujan.."
"Ya.."

Tidak perlu payung biru. Tidak perlu jas hujan. Hanya perlu berada di sampingku. Di sini. Sekarang. Dan Selamanya.
At » 2:44 AM // 1 Comments »
Aku insomniak. Aku fobia. Dalam malam-malam yang terjaga. Dalam gulita dan kesendirian yang membalut kamarku.
Mataku terbuka lebar-lebar. Hatiku berdebar tak karuan. Aku... menolak terlelap. Aku... menolak terbuai.

Sudah lama kusingkirkan selimut, bantal, dan guling. Tidak matras. Entah kenapa harus kusisakan matras itu. Sekadar pembuktiankah aku masih waras? Sekadar kompromikah pada salah satu ruang di benak kecilku yang menyuruhku tidur? Aku tak tahu.

Aku neurotik. Aku terkafeinasi.... Aku lelah..

Coffee & Cigarette

At » 12:22 AM // 1 Comments »



Kepulan asap. Kental. Memusingkan. Dan benakku langsung berputar, mengingat kembali pelajaran koloid di Kimia SMA.

Segelas kopi. Kental. Hitam. Panas. Pekat. Dan mengisyaratkan pahit, yang pasti, teramat sangat. Aku teringat kembali pelajaran Kimia di SMA. Kopi adalah genangan kafein. Asupannya membuatmu tenang, mengalihkan stres dan depresi, entah bagaimana caranya.

Sebatang rokok. Menyala. Merah. Baranya begitu menghipnotis. Kembali, buku Kimia itu seperti terpampang di otakku. Nikotin. Tar. Karbonmonoksida. Aku masih takjub, bagaimana sebatang rokok kecil itu bisa mengandung sekian banyak zat yang berbahaya. Tapi, aku sudah berhenti menghakimi para perokok, sama seperti aku berhenti menghakimi para penikmat kopi.

Karena kini aku tahu. Bagaimana segelas kopi dan sebatang rokok membawamu mengarungi sebuah perjalanan. Semu, mungkin. Eskapis, mungkin. Tapi adakah yang nyata dalam hidup ini? Siapakah pula yang tak pernah bersikap eskapis?

Aku tertawa. Sinis. Pahit. Getir. Sedih. Ironis. Meski aku tak tahu, untuk apa dan siapa aku tertawa.

Kepulan asap. Membumbung sejenak, lalu lenyap. Bersenyawa.
Kopi di hadapanku mendingin. Bara di tanganku meredup. Ada yang harus usai.

Aku gamang. Aku lelah.
Kapan prahara ini akan selesai? ...

Untuk si Belut...

At » 8:28 AM // 0 Comments »



Tak pernah sebelumnya aku menganggap hujan adalah simfoni yang pilu. Bagiku, hujan adalah melodi yang merintik, menceritakan pada bumi tentang perjalanan sang air mengarungi angkasa. Membawa segenap rahasia alam, yang hanya bisa dimengerti sang bumi. Mungkin karena itu pula, bumi dengan sabar dan tenang mendengarkan, menampung semua curahannya…Satu malam itu, hujan tengah mengguyur Bandung dengan lebatnya. Menyisakan hanya secuil ruang kecil yang kering, yang hangat. Jalanan, atap, rumah, gedung, semuanya basah tanpa kecuali. Termasuk payung biru di genggamannya.

Aku menatapnya lemah. Baru saja ia menceritakan padaku tentang seorang dia yang mengisi hatinya empat tahun terakhir ini. Seorang yang ia katakan tak akan bisa ia miliki, tak akan bisa ia peluk, tak akan ada di saat paling sedih dan bahagia hidupnya. Seorang yang ia cintai diam-diam, seorang yang bisa setiap hari ia temui, seorang yang mungkin hampir setiap saat berada di sampingnya.

Dan, aku tertawa. Tertawa yang teramat pahit, karena perasaan lara itu mengusik hatiku lagi. Ah, bukan hanya lara. Segala macam perasaan; entah itu gembira, entah itu salut, entah itu cemburu, entah itu sedih, entah itu sepi. Semuanya bercampuk aduk menjadi satu.

Kukatakan padanya, “Aku tak percaya tentang cinta, tentang hubungan dua insan manusia lagi…”

“Kenapa?”

Aku tersenyum, lelah. Ada beribu ‘karena’ yang bisa kuucapkan. Tapi pada akhirnya, hanya perasaan sentimental usang itu yang lagi-lagi kutemui. Perasaan sentimental yang menolak seluruh rasio dan akal sehat. Yang membuatku membuang semua mimpi yang ada di depan sana, dan justru memunguti satu per satu serpihan masa lalu yang retak.

Aku menghela napas. Dan ia tersenyum simpatik.

“Kenapa juga kamu masih mengharapkannya?” tanyaku.

“Karena aku cukup puas dengan perasaan ini. Tanpa beban, tanpa keresahan, dan tanpa kecurigaan..”

“Pernahkah kamu merasa sangat sepi?”

“Tidak..”

“Itulah yang kurasakan sekarang….”

Ia tertegun. Dan itulah terakhir kali aku mendengar kabar darinya.

Melodi Hujan

At » 8:14 AM // 0 Comments »



Tak pernah sebelumnya aku menganggap hujan adalah simfoni yang pilu. Bagiku, hujan adalah melodi yang merintik, menceritakan pada bumi tentang perjalanan sang air mengarungi angkasa. Membawa segenap rahasia alam, yang hanya bisa dimengerti sang bumi. Mungkin karena itu pula, bumi dengan sabar dan tenang mendengarkan, menampung semua curahannya…

Tapi pemandangan di depanku sedang mengisyaratkan sesuatu yang lain. Di bawah payung biruku, kulihat punggung yang familiar. Dari semua tempat di kota, tak pernah kukira akan kutemukan dia di sini.

Punggung itu kuyup. Dan hatiku trenyuh. Mengapa mesti hujan sekarang? Apakah langit juga tengah bersedih?

Aku berjalan mendekat, dan memayunginya. Kukira ia akan menggigil; cuaca begitu menusuk. Tapi ia membisu di sana, seperti tenggelam dalam kesunyian panjang. Seperti menceburkan diri dalam beku, dalam waktu yang seakan berhenti berdetak.

Di luar dugaanku, ia tak lagi menepis payungku, seperti yang sudah-sudah. Ia hanya diam. Pipinya yang basah membuatku tak tahu, apakah ia masih menangis menatap selembar foto bisu di hadapannya.

Ingin rasanya aku merengkuhnya. Mengatakan bahwa ia masih akan memiliki diriku. Tapi, aku tahu, terlalu banyak yang mesti dikorbankan dengan keegoisanku ini. Dan, jadilah aku yang sekarang; alien yang datang ke bilik kecil permenungannya. Dunia asing yang tak akan pernah bisa kumasuki…

“Ayo pulang…” bisikku lirih, sambil menggandeng tangannya.

Lalu ia akan berpaling, menatapku dengan matanya yang teduh. Mata yang begitu dalam, mata yang disarati kesepian dan luka.

Ia mengangguk samar. Lalu kami akan berjalan meninggalkan pemakaman itu, sambil membawa sesuatu dalam hati masing-masing.

Dan sore itu, hujan memang sedang memainkan simfoni yang lara, yang entah kapan selesai. *

Pernikahan

At » 9:46 AM // 0 Comments »

‘Ri?’

Arina membuka matanya.

‘Kamu baik-baik, Ri?’

Ia menoleh. Dan menemukan wajah sahabat baiknya, sedang menatapnya penuh simpatik.

Butuh beberapa detik sebelum ia menyadari situasi di sekelilingnya: beberapa orang sedang membereskan meja-meja, lampu-lampu hias sudah tidak menyala lagi, juru foto masih sedang mengambil beberapa gambar. Sudah agak sepi. Berarti pesta telah selesai.


Malam ini, sekali lagi sepasang manusia telah dipersatukan oleh satu ikatan yang dinamai pernikahan. Dan setiap kali melihat raut-raut kebahagiaan yang menghiasi wajah mama-papa dan Mas Bimo, Arina mencoba meyakinkan dirinya sendiri, pernikahan memang pelabuhan paling sempurna untuk kapal-kapal cinta.


Tapi, ia tidak merasa pernikahan itu sesuatu yang perlu. Saat semua gadis seusianya di kampung ramai membicarakan pernikahan impian mereka, Arina akan mulai bertanya-tanya tentang kebahagiaan. Tentang cinta.


Tidak, ia bukannya membenci pernikahan. Mama-papa selalu harmonis dalam 25 tahun pernikahan mereka. Setidaknya, begitulah kata orang-orang. Arina bahkan selalu berharap yang terbaik untuk setiap pernikahan yang terjadi, dan turut merasa bahagia melihat kebahagiaan pasangan-pasangan baru itu. Ia juga cantik dan banyak cowok yang berminat padanya. Praktis, tidak ada alasan untuknya merasa benci atau pesimis terhadap pernikahan dan cinta.

Tetap saja, di atas semua kelebihannya, ia tidak bermimpi akan menikah. Karena itu juga, kadang ia merasa heran, mengapa wanita yang umurnya mendekati 30 tahun seharusnya gelisah mencari jodohnya. Kemudian ia mulai mengerti, pernikahan bukan hanya perkara cinta. Tetapi juga perkara ‘apa kata tetangga, sanak famili, dan orang-orang nanti’. Juga perkara kehormatan. Juga perkara punya anak yang diakui orang-orang, yang kemudian bisa jadi penerus keluarga. Untuk yang terakhir ini, harus ditebus suami dengan nafkah rutin setiap bulannya. Dan sang istri akan membayarnya dengan menjadi paket all-in-one: melayani suami dan melahirkan anak.

Makin lama, bagi Arina, semua itu makin terdengar seperti perdagangan.

Ia tak pernah bisa lama-lama menghadiri pesta pernikahan, sehingga mama tak pernah mengajaknya. Tapi kali ini, ia tak bisa kabur. Karena yang menikah adalah kakak laki-laki dengan sahabat baiknya. *


HariIniTakAdaTulisan

At » 9:59 PM // 0 Comments »


Layar monitor yang berpendar. Secangkir kopi dingin yang tinggal separuhnya. Malam gelap pekat yang sunyi…

Kutatap nanar satu layar putih di hadapnku. Judul atasnya masih Document1.

Entah sudah berapa kali aku mengetik, untuk kemudian kuhapus kembali dengan satu tombol backspace yang kupencet lama-lama.

Entah sudah berapa kali pula layar itu menampilkan kata-kata yang kuketik, untuk kemudian menjadi putih melompong kembali.

Kuhela napas. Kulepas kaca mataku, dan kupijat-pijat mataku.

Tidak ada deadline yang mesti dikejar.

Tidak ada kantung kosong yang mesti dipenuhi dengan honor hasil menulis.

Bahkan mungkin tidak ada orang yang merasa kehilangan, karena aku tak punya pembaca. Kecuali diri sendiri, yang kadang membutuhkan nostalgia. Yang kadang butuh membuka kembali lembaran-lembaran lama.

Tapi selalu ada ego untuk bertemu dan berbincang dengan diri sendiri. Selalu ada hasrat, entah itu hasrat untuk menulis atau sekadar melarikan diri dari kepenatan sehari-hari. Selalu ada kejujuran yang menunggu untuk bermuara.

Lalu, haruskah itu semua menjadi beban?

Aku menggeliat. Jam weker kecil di hadapanku sudah menunjukkan pukul 3 pagi.

Hari ini tak ada tulisan. Biar sesekali diam yang berbicara. –END

Gombalisme

At » 10:43 AM // 0 Comments »
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Dont Give Up (sequel to 'Peron')

At » 10:09 PM // 0 Comments »

Dingin.

Dingin pagi yang menggigil, yang membuat selimut terasa begitu nyaman.

Dingin pagi yang menghujam raga, namun juga terasa begitu hidup. Begitu menyegarkan.

Dingin pagi yang menghapus kantukku. Aku mengusap kedua lenganku, mencoba mengumpulkan sedikit kehangatan.

Panorama pagi dari balkonku selalu terlihat baru, biarpun sudah bertahun-tahun aku menghuni rumah ini. Hijaunya dedaunan, merahnya mawar, kuningnya krisan, coklatnya tanah, beningnya air, birunya langit, serta kadang-kadang, pelangi yang dibiaskan air.

Pemandangan yang seperti mengisyaratkan, di sini waktu tak beranjak… Meski hari terus terseret oleh detik, namun warna-warna yang familiar ini seperti tak lekang oleh waktu.

Dari dasar hatiku, terbersit sedikit rasa cemburu.

Karena ketidakkekalan seperti telah menjadi bayanganku semenjak aku lahir.

Aku tak menyesalinya, hanya…aku hanya ingin bisa terus bersamanya… memeluknya dari belakang tiap bangun pagi, melihat senyumnya, dan mengucapkan selamat pagi yang pertama untuknya…. Melihatnya terlelap setiap malam, menggenggam jemarinya, dan mengucapkan harap agar kami dapat bertemu dalam mimpi… melindunginya dari kepahitan dunia, merasakan tawanya menerpa hatiku.. merasakan.. Ah! Kutepis sedih ini. Di hari terakhir ini, ia tak boleh melihat air mataku.

Maafkan aku, sayang.. aku tak pernah berharap kau bisa mengerti. Tapi aku ingin kamu tau, 18 bulan terakhir ini adalah masa paling indah dalam hidupku…

Aku telah menyerah. Bukan karena aku lelah berperang dengan dunia yang tak adil ini. Bukan karena aku tak mencintainya lagi…

Aku hanya tak bisa melihatnya menderita karenaku…untukku….

Ia telah meninggalkan semua miliknya untukku. Dan aku akan mengembalikannya… utuh. Ia seharusnya berada bersama keluarga yang mencintainya…bukan dengan seorang pesakitan…

Karena tidak ada tempat di dunia ini, untuk cinta kita, sayang….

*

Air terjun itu tampak begitu indah sekarang. Mengalir menuruni curam-curam tajam.. Kupenjamkan mata, merasakan tubuhku yang melayang di udara…… Selamat tinggal, sayang…

Peron

At » 10:23 PM // 0 Comments »

[act 1]
Zess… kereta api yang melambat bersuara dan menimbulkan goncangan kecil yang membangunkanku. Kukucek mataku yang lelah, sambil melirik ke jendela.

Langit sudah membiru pucat di atas sana. Dalam suasana yang remang-remang, kulihat rumah-rumah beratap ijuk seperti tengah diam dalam lelapnya, ketika rumput dan pepohonan telah menggeliat bangun karena dinginnya embun yang menetes. Alam terasa begitu hening… dan damai.

Sebentar kemudian, kereta kembali bergerak menyusuri relnya. Dan rumah-rumah itu tampak seperti ikut terseret oleh detik-detik yang dipacu oleh lokomotif waktu. Tapi mereka selalu ketinggalan jauh di belakang sana. Aku bangkit, mendekatkan diri ke jendela.

Dalam beberapa hal, aku seperti rumah-rumah yang berlari itu…

Jam di pergelangan baru menunjukkan pukul 4 subuh, tapi aku sudah kehilangan seleraku untuk terlelap.

*

[act 2]

Kutatap tiket kereta di telapak tanganku. Mendadak aku merasa bimbang. Merasa galau. Kutoleh ke belakang, tapi stasiun yang sepi di jam 12 tengah malam telah mengisyaratkan kesendirianku.

“Masuk?” Petugas di peron bertanya padaku, setelah sekian detik aku hanya mematung di depannya.

Kulirik wajah tua yang demikian simpatik itu. Dan aku teringat lagi senyum mama. Sekali lagi, aku menoleh ke belakang. Masa lalu seperti tengah berkelebat, memenuhi seluruh peron.

Aku paling benci memilih. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa memilih.

Tapi sekarang, aku harus memilih.

*

[act 3]

‘Apa jadinya kalau kau harus memilih?’ dia bertanya sambil menatap lurus padaku.

Kupandangi sepasang mata teduhnya. Mata yang selalu mengisyaratkan kesedihan di dalamnya. ‘Apa maksudnya?’

Ia menghela napas berat.

Dan ketakutan itu segera menjalar di seluruh benakku. Ia mengakar, dan membuahkan kepanikan yang meneteskan adrenalin. Atmosfer ini sudah terlalu sering terjadi.

‘Antara aku, atau duniamu. Keluargamu…’ Pertanyaan yang sama. Lalu ia akan memberikan penjelasan yang sama. Penjelasan yang selalu menyudutkan perasaan yang dinamai cinta. Penjelasan bernama realita yang mampu menghamburkan semua mimpi.

Aku terdiam. Dan selama berbulan-bulan sesudahnya aku tetap bungkam. Aku tak mampu menjawab pertanyaan itu. Sama seperti ketidakmampuannya untuk memilih : aku atau dunianya. Dua hal yang sama berartinya.

Tapi kali ini, jarak di antara kami pun membeku sudah. Terkunci rapat dalam istana gading waktu, dan kuncinya entah di mana.

***

[act 4]

Delapan jam lagi telah berlalu.

Lokomotif di depan akhirnya berhenti di stasiun transit. Aku beranjak dan turun. Lalu kupandangi lokomotif itu perlahan-lahan berlalu.

Perpisahan selalu menyakitkan. Bagiku, perpisahan menyisakan rasa asing yang tak mengenakkan.

Mungkin mama tak akan pernah memahami pilihanku. Pilihan yang mengharuskanku menuliskan secarik kertas salam perpisahan untuknya. Sejak dulu, aku tak pernah mampu mengucapkan kata-kata perpisahan…

Kutatap jalan di hadapanku. Pintu depan stasiun. Seluruh momenku yang sekarang dan akan datang ada di sana.

Aku telah memilih untuk datang padanya. Aku memilih cinta. Karena aku mencintainya. Dan itu adalah realita yang tak boleh kulupakan, di atas semua realita lainnya.

T

IF LovE...

At » 12:05 AM // 0 Comments »

Feiran

“Sudah sampai..”
Suara bas itu mengejutkanku dari lamunan. Kupalingkan wajahku untuk menatap pemilik suara itu. Kuulas sebuah senyum, sekadar tanda berterima kasih.

Sebentar kemudian, mobil itu telah berlalu. Pergi seiring detik-detik yang terus berputar.

Aku mematung di jalan. Menyadari diriku yang masih tetap tertahan di tempat semula, terus terjerat ke dalam masa lalu. Menyadari betapa bersalahnya diriku pada Wei. Menyadari betapa menyedihkannya diriku sendiri, yang masih tak sanggup jujur....

Kuhela napas. Tak ingin berlama-lama di kegelapan malam, aku beranjak masuk.

e*

Wei

Kuparkir mobilku di pelataran supermarket yang telah tutup. Kulirik spionku. Kudapati seraut wajah yag terlihat demikian lelah dan menyedihkan. Pathetic. Kukepalkan telapakku, dan kuhempaskan ke setir.

Sampai kapan aku akan berpura-pura seperti ini?
Sampai kapan aku harus melarikan diri terus?

Aku lelah. Lelah yang amat sangat.
Kuusap wajahku. Kuhela napas panjang. Tetapi beban itu masih terasa menindih di dadaku. Betapa bersalahnya aku pada Feiran.

Seandainya aku memang boleh memilih.
Aku tak bisa mencintainya…..

e*

Quan

Udara malam yang demikian dingin membuatku merapatkan jaketku. Aku tak ingin keluar rumah malam ini, tetapi dompetku yang sudah tipis memaksaku berjalan ke ATM terdekat.

Pelataran supermarket di samping mesin ATM sudah sepi, kecuali sebuah sedan kecil yang diam di sana, tak ada lagi tanda-tanda keramaian. Aku tersenyum maklum.

Lalu kusadari sedan itu terasa begitu familiar.

Wei…

Kuurungkan niatku memasuki pelataran itu.
Aku melangkah mundur, dan menyandarkan punggungku ke tembok pembatas pelataran parkir.

Wei… dan Feiran… Rasa nyeri perlahan menggerogoti hatiku. Kupenjamkan mata. Seluruh kenangan itu meluap begitu saja dari bak hipokampusku. Masa laluku. Satunya kekasih, satunya sahabat baik… Dua orang yang sama-sama pernah kulukai.

Drrrr… ponselku bergetar samar. Kulirik sekilas nama di layar. ‘Ya, halo sayang…’
‘Papa di mana? Mama dan aku lagi nunggu lho… Cepat pulang ya..’
Aku tersenyum.

Wei tidak boleh tahu aku masih di sini….

e*

Zhen me neng rong yi de shuo yao fang qu?
[why is it so easy to tell me that you want to let go?]

My videos. Featured videos.

My photos. Now you know me.

most viewed

Browse Flickr

My lifestream. Stay updated with me.

Recent Comments

My favblog. Feeds from them.