My Writings. My Thoughts.

Showing posts with label About You. Show all posts
Showing posts with label About You. Show all posts

Being Responsible

At » 5:47 PM // 0 Comments »







Hei kamu.


Ya, kamu.


Kamu bersalah.


Karena membuatku gelisah siang dan malam.




Sekarang,


maukah engkau bertanggung jawab?

Engkau bukan Milikku..

At » 6:16 PM // 0 Comments »



Seperti hujan yang tak tergenggam.
Seperti kabut yang mengejawantah dan menghilang.
Seperti bintang yang tak teraih.
Seperti panorma yang tak terengkuh..

Bahagia.

At » 11:25 PM // 2 Comments »





Aku memilih bahagia.
Meski itu bukan dengannya.

Di dalam Matamu

At » 5:39 PM // 0 Comments »



Aku rela terbakar di dalam matamu.
Atau tersesat di dalamnya. Dan memilih tak pernah keluar lagi. Mungkin tepat bila kusebut matamu sebagai Eyes of No Return.

Aku rela ditelanjangi oleh matamu.
Bersetubuh dengan cara yang barangkali tak senonoh. Dan memuncak di dalam orgasme yang senyap. Sunyi, karena tak ada suara. Tak ada erangan, ataupun desahan. Itu yang kusebut intim.

Aku rela terkikis habis di dalam matamu.
Atau melayang-layang di dalamnya. Dan memilih melawan arus gravitasi. Meski itu cuma mimpi di siang bolong. Karena bersamamu, aku rela tertidur... Tak perlu ada putri cantik yang membangunkanku, seperti Snow White dibangunkan oleh pangerannya. Tak perlu.

Hingga Saatnya Nanti

At » 5:25 PM // 1 Comments »



Tidakkah kau ingin berhenti dari langkahmu yang tergesa untuk menerobos masa lalu? Tidakkah kau ingin berjenak dalam dirimu sendiri, yang selalu tergopoh dan tak berdaya ketika memikirkan dirinya?


Sudahlah. Lupakan dia. Lupakan masa lalumu. Ingat, kau terlalu berharga untuk disia-siakan oleh dirimu sendiri. Kau terlalu bermakna untuk seseorang di masa depanmu.


Maka, berteriaklah. Setelah itu, kemas dirimu kembali. Simpan dirimu kembali. Hingga saatnya nanti.
*picture courtesy of http://www.batailley.net/images/20090406075600__mg_5306.jpg, Sunset After the Rain

Label

At » 6:13 PM // 1 Comments »
"Aku ini siapamu?"
Aku menoleh, dan mendapatinya tengah menatapku. Ada rasa heran yang menyumpal di mulutku. Membuat aksara serasa melayang, dan kata-kata tak jua terucapkan. Dan ia masih menanti jawabanku.
Sebentar. Ijinkan aku berpikir.
Dia adalah rindu yang kukulum terlalu lama, hingga menyisakan rasa nyeri. Seperti permen karet yang mula-mula manis, lalu akhirnya berganti menjadi tawar. Sedikit pahit, malah. Kalau begitu, dia itu rindu, atau nyeri?
Dia adalah melankoli sentimentil, yang membuat malam yang merayap terasa nelangsa, semata karena rasa sepi terasa begitu menggerogoti. Dan fajar yang menyingsing mengundang senyum, terutama ketika aku memikirkan dirinya yang pasti sedang memikirkan diriku. Mungkinkah dua hati berpagut dalam alam relativitas yang tak menjejak nyata? Kembali, kalau begitu, dia itu rasa nelangsa, atau rasa bahagia?
Dia adalah rangkaian kata-kata yang tak teraksarakan. Tetapi sanggup membuat jemariku menari di atas keyboard komputer, atau menggerakan pena di atas coretan kertas. Untuk kemudian memaksaku menekan tuts backspace lama-lama dan menggumpalkan kertas itu ke dalam tong sampah. Kalau begini, dia itu inspirasi, atau masalah?
Aku tersenyum. Lalu merangkulkan lenganku ke bahunya.
Dia satu-satunya bagiku? Tidak juga. Karena dia menghadirkan begitu banyak paradoks.
Atau segalanya, bagiku? Tidak juga. Aku ingin dia hidup, walaupun tanpa diriku. Dan aku bisa hidup, walaupun tanpa dirinya.
"Kenapa kau begitu menginginkan label?" Aku mendengar diriku sendiri bersuara.
Dan persis yang kuduga, ia mendelik. Aku tersenyum lagi. Kali ini dengan harapan, semoga dia mengerti. ;-)

(meski) Kau Keparat!

At » 8:38 PM // 0 Comments »



Seharusnya aku membencinya. Atau lebih baik lagi, melupakannya. Tetapi aku tak bisa. Karena itu, kukatakan padamu, aku nelangsa. Menyedihkan. Dan sedikit membuat kesal.

Namun, jangan sekali-kali kau bilang kau bersimpati. Atau meminta maaf, dan terlebih-lebih lagi, merasa kasihan padaku. Aku tak butuh itu, meski aku tak baik-baik saja. Hei, aku masih hidup di sini. Berusaha membuang-buang energiku untuk mencoba membencimu. Untuk meyakinkan diriku sendiri, bahwa aku baik-baik saja, tanpamu.

Tanpamu.
Bahkan mengucapkan kata ini saja, membuatku sesak. Membuat duniaku serasa runtuh. Dan ini membuatku malahan membenci diriku sendiri. Yang dengan gampangnya bertekuk lutut, dan mengangkat kedua tanganku di hadapanmu... hanya untuk membiarkan diriku sendiri terbakar dalam api cemburu. Karena bahkan melihatku saja kau tak mau. Menawanku sebagai pampasan perangmu saja, kau tak sudi. Aku benar-benar se-tak-berharga itu ya?

Aku gila. Aku neurotik. Aku delusional.
Karena memilih mencintaimu, di saat aku seharusnya membencimu.
Di saat seharusnya aku mengucapkan selamat atas kebahagiaanmu.
Di saat seharusnya aku melupakanmu dan melanjutkan hidupku.

(meski) Kau keparat! Aku mencintaimu.

Another Tribute. to Ve.

At » 8:53 PM // 0 Comments »
Masihkah kau menangis tatkala kau memandang ke lautan?
Masihkah kau menghindar dari pertanyaan tentang masa lalu itu?
Masihkah kau memimpikan nostalgia manis yang pernah membuatmu insomnia itu? Heran, bila kau bermimpi bertemu dirinya setiap malam, mengapa kau malah memilih terjaga?
Masihkah kau berubah kelam setiap hujan menerpa jendelamu?
Masihkah kau mereguk bercangkir-cangkir kopi, terduduk di kursi meja Starbucks, mengetikkan entah apa di Mac-mu?
Masihkah kau berkelana, mengelilingi dunia, dan mengatakan kau bahagia, padahal ada lubang besar di hatimu, yang membuatmu sering hanya menatap cermin di kamar mandi lamalama, dan meyakinkan dirimu sendiri, bahwa kau baik-baik saja?

Aku masih menghela napas setiap kali membaca baris-baris aksara usang itu.
Aku masih takjub, aku masih sedih, aku masih gundah.
Aku masih bertanya-tanya, untuk kemudian menahan kata-kata itu di ujung lidahku...
Semoga kau cepat bahagia.

a tribute to ve

At » 6:27 AM // 0 Comments »


Setiap kali perasaan sentimental itu melandaku, aku akan kembali membuka url itu. Lalu di monitor akan terpampang sebuah catatan berisi puisi-puisi. Kadang singkat, kadang panjang, dan terkadang prosa singkat, yang dirangkai dengan indah, membentuk untaian makna. Kadang menghujam, kadang mengharukan, kadang membuatku mengulas senyum. Setiap kunjungan ke url itu selalu memberiku nuansa yang berbeda, rasa yang berbeda, dan inspirasi yang berbeda, meskipun sudah lama penulisnya tidak aktif.

Ada yang telah lama mati…

Puisi itu melukiskan lara hati seseorang yang ditinggalkan orang yang dicintainya. Bukan karena perselingkuhan, perselisihan, tetapi semata karena waktu. Garis waktu yang bernama kematian telah memisahkan dua orang yang saling mencintai, menyisakan salah satunya dalam kefanaan dan kesedihan. Dalam kesunyian dan sejuta andai.

Dan bagiku, puisi itu memberiku rasa penasaran yang tak kunjung terjawab. Apa yang terjadi? Bagaimana kematian merenggut sang kekasih darinya? Ah, sang pujangga pasti sangat mencintai kekasihnya. Pernah, dan masihkah? Sudahkah ada orang yang menggantikan posisi sang kekasih? Atau tidak akan pernah ada?

Aku sangat ingin menemuinya. Bukan karena mengagumi karyanya, ketabahan hatinya, atau untuk memberinya kekuatan. Tetapi karena aku ingin berhadapan dengan personifikasi cinta. Aku ingin tahu, seperti apa cinta itu. Aku ingin melihat bagaimana sorot matanya akan selalu memancarkan kerinduan yang sangat pada kekasihnya, setiap nostalgia itu berputar dari gulungan memori di hatinya. Aku ingin melihat apa yang bisa diperbuat kematian pada cinta. Mungkin aku terlalu egois.. tidak, aku memang egois.


Gone

At » 8:38 AM // 0 Comments »



Dua hari tanpa kabar.

Ia menghilang, seperti ditelan bumi. Tanpa jejak. Tanpa pamitan. Dan tanpa kejelasan apapun.

Aku termangu. Terdiam. Tak mampu memahami. Tak bisa mencerna semua ini. Apa artinya?

Palsukah semua itu? Semukah? Tapi ia tampak begitu nyata. Atau dirikukah yang membiarkan diriku sendiri tertipu?

Tak yang bisa kulupakan. Karena tak ada kenangan apapun tentang dia.

Tak ada yang bisa kuhayati kembali. Karena tak ada alur dan cerita untuk hubungan ini.

Awal yang mungkin tak pernah bermula. Entahlah!

Jika ia memang ingin menghindariku, ia telah berhasil.

Inikah...selamat tinggal darinya?

Menelusuri Jejak Sejarah

At » 5:35 AM // 1 Comments »
Sejarah ibarat awan, kata Dee dalam bukunya Filosofi Kopi. Ia tampak kokoh dari kejauhan, namun begitu disentuh barulah terlihat kerapuhannya. Kira-kira seperti itu metaforanya, soale gw rada lupa persisnya gimana.

Dan aku pun teringat kembali pertanyaan guru Bahasa Inggrisku di kelas 2 SMU dulu (masih pake SMU, bukannya SMA), which subject do you dislike the most? Gw lupa konteksnya apa, yang membuat kelas kami ketika itu menuju ke topik tersebut. Yang pasti, waktu itu gw termasuk satu dari sedikit orang yang ditanyai beliau. Jawaban gw sederhana saja : History. She was surprised, for a reason I didnt know. Still then she asked me why. I told her that I had no particular reason, except that I just prefered to let bygones be just bygones.

Mungkin dalam beberapa hal, bygones lebih dari sekadar bygones. Kita bisa mengambil hikmah dari semua kesalahan kita, untuk menjadi a better person, idealnya begitu. Atau terkadang, masa lalu demikian indah untuk dilupakan begitu saja. Mungkin juga, di dalam sejarah dan seluruh masa lalu tersebut, tersimpan berjuta-juta kejayaan dan kebesaran yang tidak kita ketahui.
Dengan anggapan sederhana itu, gw akhirnya memutuskan untuk turut serta dalam semacam wisata budaya ke Jawa Timur, bersama dengan rombongan KCB, sebuah Dharma Center di Bandung, dengan tujuan utama : menelusuri jejak sejarah di sana.

Ada beberapa kerajaan di masa lalu Indonesia yang dibangun di Jawa Timur. Salah satu di antaranya adalah Majapahit, yang sekarang kira-kira terletak di Trowulan.
If you're an Indonesian, and even if you did not learn your history well, I am quite sure that you have ever heard about Majapahit. Kerajaan ini adalah kerajaan Buddhis terakhir yang berjaya di Pulau Jawa, sebelum akhirnya Islam memasuki Indonesia. Bukan kerajaan Buddhis sih, sebenarnya, lebih tepatnya Siwa Buddha.
Di Trowulan, rombongan kami mengunjungi petilasan Patih Gajah Mada dan petilasannya Raden Wijaya. It is believed that both of the royal highness of Majapahit sat on the soil before. And at this moment, I have finally seen buah Maja, a bitter fruit yang tumbuh di Desa Tarik, desa asal-muasal kerajaan ini. Buah Maja yang pahit inilah juga asal mula nama kerajaan Majapahit.

Lalu, ada pula kerajaan Kahuripan, dengan rajanya yang ternama Prabu Airlangga. Prabu ini turun tahta dan kemudian menjadi pertapa. Sempat pula kami mengunjungi Candi Jolo Tundro, yang merupakan tempat pemandian Prabu tersebut. Candinya masih utuh, kecuali patung garuda wisnu kencananya, yang seharusnya bertahta di puncak candi. Garuda wisnu kencana adalah patung yang menggambarkan Airlangga, dalam wujud Wisnu, yang sedang menunggangi garuda. Patung itu kini ada di museum Trowulan.

Tentu saja kerajaan Singosari, yang terkenal dengan Ken Dedesnya tak boleh ketinggalan. Sayangnya Candi Singosari telah tutup sore itu, sehingga kami tak sempat mengunjunginya.
Namun begitu, beberapa candi yang kami kunjungi antara lain Candi Jawi, candi Tikus, dan candi Brahu. Candi Tikus dan Candi Brahu agak berbeda dengan candi lainnya, yang mencolok tentunya dari penampilan luarnya, yang berwarna merah bata. Candi Tikus sendiri juga merupakan tempat pemandian, yang letaknya menurun ke bawah tanah (sunken). Ada mitos yang menyebutkan kalau kita memasuki candi tersebut, maka proyek yang sedang kita kerjakan saat itu, akan mengalami kegagalan. Benar apa ndak-nya, saya tidak tahu.

Pulang dari Surabaya, kami mampir ke Blitar, untuk mengunjungi makam Bung Karno. Seperti situs sejarah lainnya (baca : candi Borobodur), di situs ini beredar macam-macam pedagang souvenir khas Bung Karno. Untungnya, kami tiba di spot agak sore, sehingga suasana sudah 'agak' sepi. Biarpun begitu, pengunjung makam terbilang banyak, mengingat hari itu bukan hari peringatan atau semacamnya. Daerah itu juga dilengkapi perpustakaan modern, dengan desain interior yang WAH. Eksteriornya dihiasi sebuah kolam, sayangnya sudah kotor banget, dengan pilar-pilar di satu sisi kolom. Di kedua tembok pembatas kolom, bsia dilihat relief yang menggambarkan sejarah perjuangan Bung Karno. Meski gue bukan pengamat arsitektur Indonesia, tapi gw yakin kalo siapapun pasti akan kagum2 melihat desain kompleks makam Bunga Karno tersebut.
Dan pulang dari wisata sejarah ini, gw menemukan perspektif baru. Bangsa Indonesia sesungguhnya bangsa yang besar. Lihat saja bangunan candi berusia ratusan tahun, yang menghiasi sejarah kerajaan Indonesia. Candi-candi itu dibangun tanpa teknologi.
Bukan rahasia pula kalau alam Indonesia subur dan kekayaan alamnya luar biasa. Posisinya strategis... kalau saja manusianya berpotensi... Mungkin Indonesia bisa jadi negara adikuasa menyaingi Amerika. Mungkin. Siapa tahu?

Harap

At » 7:43 PM // 0 Comments »


Saat malam yang panjang dan dingin


merayap membungkusmu dengan gulita

Siapa yang membuatmu memahami makna kesepian?


Kala malam diterangi kunang-kunang kota


melingkupimu dengan benderang

Siapa yang kau harapkan datang dan memelukmu?

SMS

At » 2:44 AM // 0 Comments »

Hai, lagi apa?

Kupencet keypad yang kemudian mengalihkan aku ke sebuah kotak kosong. Hanya dengan mengisikan nomor penerima, pesan singkat itu akan segera terkirim. Kubuka daftar buku telepon di ponselku. Kupencet angka 3 sekali, dan aku segera mendapatkan namanya.

Dan di detik terakhir, aku membatalkan pengiriman SMS itu. Ponselku kemudian mengalihkannya menuju ke draft.

Aku tersenyum pahit. Rasanya getir sekali.
Kubuka kembali draft di menu messaging ponsel. Dan kulihat kembali semua SMS yang urung kukirimkan.

buat apa…?

Every goodnite kiz of mine
has only one meaning
Every goodmornin kiz of mine
has only one dream to go
It’s you..
Message not sent
21-Jan-06

Missing you
Message not sent
12-Feb-06

What is inside the truth
compared to love sincerely?
Message not sent
14-Feb-06

Havent heard from you lately..
How are you now?
Message not sent
28-Mar-06

Dan masih banyak lagi.
Kuhela napas panjang. Semua kangen ini hanya bermuara pada satu orang..
Kumatikan ponselku. Aku harus mencegah diriku sendiri dari nelangsa ini. Tapi otak dan perasaanku seperti dua kutub yang benar-benar bertolak belakang.

Kutatap lama-lama ponsel itu. Berusaha mengenyahkan semua kenangan perjumpaan yang sentimentil ini..

***

Aku ingin bertemu.
Message sent

Dan enam bulan kebisuan pun mencair sudah..

My videos. Featured videos.

My photos. Now you know me.

most viewed

Browse Flickr

My lifestream. Stay updated with me.

Recent Comments

My favblog. Feeds from them.