My Writings. My Thoughts.
Life and Lesson

(lagi) tentang hujan

Seorang teman pernah mengirimkan SMS:
Hitung dan rasakan
Titik-titik air hujan yang banyak itu jatuh dari langit
Sebanyak itulah aku bersyukur telah mengenalmu
sampai saat ini.
Mungkin dengan begitu, aku bisa lebih mengerti..
Hujan, ajarkan aku arti kasih yang sesungguhnya A
ngin, katakan padanya aku sangat merindukannya
Dan aku, tercenung. Masih menatap hujan itu, terus menghujam bumi.. Betapa inginnya aku mengurai benang kusut ini. Betapa inginnya aku berhenti berlari..
17 Agustusan...
Usia segito, untuk ukuran manusia, sudah tergolong tua. Sudah tergolong usia kakek-nenek, yang seharusnya sudah pensiun, membiarkan anak-anaknya bekerja membangun keluarga, dan menyaksikan cucu-cucunya bertransformasi dari bayi lucu menjadi anak-anak kecil yang badung.
Tapi, untuk ukuran sebuah negara, tua-mudanya usia itu, sangat relatif. Bandingkan dengan negara-negara seperti Amerika, atau Inggris, atau Prancis. Usia Indonesia yang masih berangka dua sebenarnya masih bole dibilang muda. Tapi coba bandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Rasanya, Indonesia boleh dibilang tua, meski mungkin hanya tua beberapa tahun. Tapi, Indonesia seperti tertinggal, seperti terseok-seok, dibandingkan, katakanlah Malaysia, atau Singapura.
Memang, umur tidak selamanya bisa dikaitkan dengan kemajuan atau pencapaian seseorang. Tetapi, paling tidak, umur yang lebih tua sering menandakan lebih banyaknya pengalaman. Umur yang lebih tua, dalam hal ini kemerdekaan, seharusnya memberikan lebih banyak kesempatan kepada pemuda negeri untuk membangun negeri dengan keringatnya sendiri.
Tapi, kenyataannya tidak begitu. Masih ingat lagu Ibu Pertiwi? Baris pertamanya begitu membuat trenyuh. Kulihat Ibu pertiwi..sedang bersusah hati.. (moga-moga ga salah lirik). Bayangkan Indonesia itu, ibu kita. Bayangkan pula Ibu kita, yang melahirkan kita, merawat kita, dan membesarkan diri kita dengan keringat dan darah, sedang bersusah hati. Dan bersusah hatinya karena kita pula. Kita, pemuda-pemuda bangsa, yang menggerogoti ibu kita perlahan-lahan. Miris.
Lalu, di usia Ibu Pertiwi yang sudah 63 tahun, apa yang bisa kita berikan? Hanya sebatas perayaan hari kemerdekaankah? Ucapan selamat dirgahayukah? Perlombaan-perlombaan tradisionalkah? Upacara benderakah, yang bahkan kita hadiri dengan setengah hati? Mimpi-mimpi dan doa-doakah, yang meski dibungkus dengan kata-kata indah, namun hanya ungkapan kosong belaka? Tulisan-tulisankah, yang bernafaskan patriotisme, tetapi tetap tak mampu memberikan solusi (seperti tulisan ini)? Rasa syukurkah, yang membuat kita punya negara sendiri, setelah mengorbankan banyak manusia yang kemudian kita sebut pahlawan, untuk kemudian memberikan kita kesempatan untuk melihat bagaimana harga diri kita sendiri terkoyak-koyak oleh krisis multidimensi? Yang mana? Lantas, di mana pula makna kemerdekaan itu, yang katanya bukan pemberian bangsa penjajah? Di mana momen-momen bersejarah yang terasa agung di buku sejarah itu?
Hari kemerdekaan RI. Memang pantas kita rayakan. Setahun sekali. Yang membuat cuti bersama terasa begitu wajar. Yang membuat semua kegiatan bole dihentikan sejenak.
Tapi, apa yang sesungguhnya kita rayakan di sini?
Cuap-cuap Ga jelas...

Sekarang Bandung sedang musim hujan.
Setiap gerimis mulai menetes, aku pasti akan mulai menggerutu. Kenapa sih hujan? Lalu orang-orang akan mulai berkata, koq elo egois? Bukannya hujan itu baik, ya? Mikirin donk para petani...
Aku hanya bisa tersenyum kecut. Ingin rasanya menjelaskan, aku bukannya melarang hujan turun. Aku juga tidak terbuat dari kertas, yang akan segera basah dan rapuh begitu diterpa hujan. Tapi, di detik terakhir, aku selalu hanya mengurungkan niat itu. Karena penjelasan detail hanya akan menambah satu predikat untukku: cerewet! Sungguh orang-orang yang judgemental!
Jujur saja, aku suka hujan. Suka rinainya yang menghujam bumi. Udah pernah gw ceritain di friendster gw seh.
Dan begitu hujan turun, aku suka menatap jalanan, yang mendadak jadi jauh lebih semrawut. Aku suka melihat bagaimana orang-orang kemudian berjalan dengan bergegas, mencoba mencari tempat yang teduh, atau mungkin untuk segera sampai di rumah....
Lalu, kenapa aku menggerutu?
Ya, aku heran. Kenapa sih hujan tidak turun di malam hari saja?
Tapi siklus hidrologi tidak pernah bisa berkompromi, kan?
Cinta Bukanlah Sesal

Nyolong kalimat Wild06 di kaskus. Kalimatnya simple sekali, tapi kena banged!
Ketika kita terluka karena kita mencintai seseorang, sedikit banyak pasti ada secuil sesal di hati. Entah itu berharap tak pernah bertemu dengan si dia, entah itu berharap waktu bisa kembali untuk mengulang dari awal, entah itu kesempatan kedua untuk menjadi orang yang lebih baik lage.
Dan gw lalu inget lage kata-kata mantan gw, ‘saat kau jatuh cinta, saat itu pula kau harus sudah siap terluka..’. Ya, saat kita jatuh dan mencinta, saat itu pula kita bisa merasa terluka. Merasa sakit hati. Merasa patah semangat. Merasa berada paling down. Frustasi. Kecewa. Dan berjuta perasaan tidak menyenangkan lainnya.
Tapi itu semua juga menandakan kalau kita tak pernah benar-benar siap untuk jatuh cinta. Kita tak pernah benar-benar dewasa menghadapi cinta. Dan keinginan untuk menghindari perasaan luka itu juga berarti kita adalah makhluk yang egois.
Memang, sangat manusiawi kalau mengaku kecewa atau sedih saat patah hati. Hati ini kan terbuat dari daging dan darah. Lalu, apakah harus berlarut-larut dalam kesedihan itu? Lalu, apakah itu semua harus merenggut kepercayaan kita bahwa di dunia ini masih ada yang namanya cinta? Lalu, apakah itu semua harus membuat kita enggan memulai suatu hubungan yang baru lagi?
Gw pribadi akan dengan yakin menjawab, TIDAK! Aku tidak akan jera, dan tak boleh jera. Mimpi harus diperjuangkan, ia tidak jatuh dan datang sendiri padamu. Ia akan menjelma nyata suatu saat nanti.
Mendadak, aku merasa jauh lebih baikan. Cinta tak melantunkan sesal, seperti judul novelnya Mira W. Dan aku tak menyesal telah bertemu dengan seorang dia, telah mengatakan aku menyayanginya, dan kemudian harus berpisah dengannya. So, buat si DIA, semoga kamu bahagia ya, karena aku tahu, kamu layak mendapatkannya.Negatively Charged ME

Gw selalu negatif. Kadang bisa sangat sensitif. Ga pernah bisa berpikiran baik mengenai orang. Selalu menganggap diri sendiri adalah yang terbaik. Rasanya kuping ini sudah terlalu terbiasa dengan berjuta-juta pujian, hingga akhirnya gw lupa diri.
Memang ego gw terlalu besar. Besar sekali – setiap saat rasanya siap meledak. Tapi berkali-kali gw hanya terhempas dashyat ke bumi. Terhempas dari ketinggian yang tak terlihat. Terhempas ke tanah yang luar biasa keras. Tidak mati, memang. Tapi sakitnya itu, lho! Mak jang….
Gw selalu negatif. Saking negatifnya, gw bisa memperkeruh suasana yang memang sudah keruh. Gw bisa semakin terjerumus ke dalam lubang hitam kekesalan. Dulu, sampai sekarang rasanya masih, gw bisa ngumpat-ngumpat ke orang, bisa ngomel panjang tanpa henti kalo udah ketemu mood jelek. Parahnya, pendendam pula. Ga gampang memaafkan dan ga gampang melupakan kesalahan orang.
…..
Gw ingin berubah. Ingin bisa berpikir positif. tapi gimana caranya menyelamatkan si pungguk yang sudah busuk ini? (keluh)..
IMissMyCellPhone

HP gw ilang. Yah, Sony Ericcson W810i tercinta gw mendadak raib. Dan waktu gw ngasih tau ke orang-orang, reaksi mereka umumnya sama: ‘Hilang di mana?’ Reaksi yang kadang bikin gw sedikit sebel. Kenapa sebel? Pertama, bayangin, kalo gw kasih tau ke semua orang hp gw ilang, dan pertanyaan mereka yang pertama pasti itu, artinya gw harus menjawab dengan jawaban yang sama. Bosen ga sih? Rasanya lebih parah daripada menghapal bahan ujian, karena it’s definitely kalo gw ga mau ngingat-ngingat lagi kenangan yang menyakitkan itu. Lalu, kedua, gw sedikit heran, apa orang ga nyimak ya, kalo gw bilang hp gw ilang? Ya itu artinya gw kaga tau donk, ilangnya di mana. Kalo gw tau ilangnya di mana, itu namanya KECECER! Dan pastinya, dalam kasus gw, ga bakal terjadi karena gw pasti bakal balik ke tempat itu buat nyari hp gw…
Anyway, gw ga perlu lagi ngulang cerita dan detail yang sama di sini. But, jauh di dalam lubuk hati gw, gw kangen sama hp gw itu. Kangen ama bunyi alarmnya yang tak kenal menyerah membangunkan gw, meski udah gw snooze berulang kali. Kangen ama MP3 yang gw putar, satu lagu saja dan kaga loop, setiap malam buat nganterin gw ke alam mimpi. Kangen ama kameranya yang bisa gw pake buat narsisan. Kangen ama modem terintegrasi yang bisa gw pake surfing di net.. biarpun kaga sering2.. Sumpah, hidup gw jadi sunyi. Banget.
Lalu, kapan beli hp baru?
Guys, gw besok ultah loh. Dan gw lagi ngincer hp P990i atau P1i…karena touch screen ama udah bisa wifi! Hehehe, gile aja kalo nyokap atau engko gw tau. Sudah ngilangin hp, berani pula minta hp mahal.. hehe. Tapi, serious, selain nunggu keadaan di pasar, gw juga sedang memberi pelajaran buat diri gw sendiri. Buat short term memory lost gw yang parah abis…
So, doain gw ya, dalam kesunyian hidup gw. Semoga gw bisa survive…^^ -END
....
Gue masih terheran-heran, dan tentu saja, salut, sama orang-orang yang bisa -dan berkomitmen kali yee?- untuk bikin update di blog tiap hari. Terlepas dari apakah ada orang yang benar-benar baca- yah baca- dan bukan sekadar cuman mampir, ada orang yang ngasih komentar - yang benar-benar komentar dan bukan spam- tetep aja para blogger itu rajin dan setia nge-update blog-nya.
Lalu, gimana dengan gw?
Masih dengan seribu satu alasan yang sama; SIBUK (!), standar dan klise. Tapi apakah itu benar-benar bisa jadi satu excuse untuk ke-absen-an gw?
Jujur, masalah yang gw hadapi sekarang, bukan sekadar cuman kesibukan yang tak ter-manage, tapi juga krisis kepercayaan diri dan krisis ide. Gw masih bereksplorasi dengan diri gw, masih mencari diri dan jati diri. Dan kadang, harus gw akui, yang gw temui hanyalah keangkuhan dan ego yang GEDE, yang hanya bisa melihat diri sendiri jatuh terhempas ke bumi..........
Gorden yang Tertutup

Apa jadinya kalau selamat pagi bagimu berarti selamat malam bagi orang lain?
Apa jadinya kalau sinar matahari, yang memberi kehidupan bagi orang lain, ternyata bisa membunuhmu dalam sekejap?
Mungkin pertanyaan-pertanyaan di atas ga terdengar asing. Mungkin yang langsung terbayang di benak kita adalah para drakula-nya Bram Stroker, atau vampir-vampir dari negeri Cina yang biasa terlihat di film horror ala Cina.
Tapi kita semua tentu tau, yang namanya vampir atau drakula – seperti ala Tom Cruise ama Brad Pitt – ga bener-bener eksis di dunia, atau, setidaknya mungkin belum. Dan semoga ga akan pernah (!).
Jadi, pertanyaan di atas sama sekali bukan tentang vampir.
Lalu? Teringat film The Others, yang dibintangi ama Nicole Kidman? Ingat ama anak-anaknya di film itu yang ga bole kena sinar matahari? Jendela-jendela besar di rumah kuno itu selalu tertutup gorden, sepanjang waktu. Kegelapan seolah menjadi satu-satunya semesta...
Bukan tentang itu sih, tapi kira-kira mendekati, lha.
Gue ga pernah menganggap sinar matahari sebagai sesuatu yang menakutkan – kecuali mungkin bagi beberapa orang temen gue di kampus. Itu pun karena sebab yang sederhana : takut kulitnya jadi hitem!
Dan baru kemaren, gue bener-bener percaya, setelah sekian lama bersikap skeptis. Ada orang di dunia ini, yang bener-bener ga bole kena sinar matahari. Bukan sinar mataharinya yang bermasalah, sebenarnya, tapi sinar UV yang terkandung di dalamnya.
Sinar UV yang berlebihan memang menyebabkan kanker kulit – setidaknya itu yang gue tahu. Dan keadaan ini diperparah dengan rusaknya ozon di stratosfer di atmosfer kita.
Tapi, ini bukan tentang kanker kulit.
Ini tentang XP.
Ya, XP. Bukan XP yang keluaran Microsoft itu, lho.
XP, atau xeroderma pigmentosum, adalah suatu kelainan genetik yang menyebabkan penderitanya tidak boleh tereskpos sinar UV. Lebih dari 5 menit saja, bisa menyebabkan kematian.
Mungkin bagi beberapa orang, XP bukan barang baru. Gw sendiri baru ter-informasi mengenai penyakit ini karena nonton filmnya Sawajiri Erika, Taiyou no Uta (A Song to the Sun) – harusnya Anda-anda udah nonton, karena ini bukan serial yang baru-baru amat. Genrenya mirip-mirip Ichi Ritoru no Namida (One Litre of Tears). Di situ, Erika berperan sebagai Amane Kaoru, yang menderita XP tipe A, di mana ia tak akan melewati usia 20 tahun…
Sad? Well, harus diakui, ga sesedih dan se-mengharukan Ichi Ritoru. Tapi, seperti juga Ichi Ritoru, kesedihan bukan hal utama yang bisa dipelajari di sana. Semangat untuk mengejar mimpi, misalnya, adalah satu dari sekian banyak hal positif yang bisa dipetik. Dalam Taiyou, diceritakan Kaoru berusaha menggapai mimpinya menjadi seorang singer, dengan segala keterbatasannya. Baginya, hidup tanpa mimpi bukanlah hidup sama sekali.
Tapi yang ingin gw sorot bukanlah hanya itu.
Setelah Spinocerebellar Degeneration Disease, sekarang XP. Dan kedua penyakit ini belum ada obatnya. Belum lagi penyakit letal karena kelainan genetik lainnya, seperti sicklemia, talashemia (semoga nama penyakit yang disebutkan di atas-atas ga salah tulis..hehe), dan lain-lain (sebenarnya dan lagi ga tahu, sih ~~).
Mungkin tingkat kematian penyakit-penyakit yang incurable ini ga separah penyakit lainnya, semisal sakit jantung, kanker mulut rahim, kanker paru, AIDS, dan sekian banyak penyakit lainnya lagi. Yet, semua ini membuat gw bener-bener aware sama satu hal yang pernah gue pelajari : sebab kematian sangat banyak, sebab kelahiran sangat sedikit, dan tubuh kita ini sangat rapuh.
Didiagnosis menderita penyakit-penyakit letal ini berarti satu hal : preparing ourselves buat kematian.
Kebayang ga, kamu hidup dan mendadak suatu hari kamu udah tau, kapan kamu pasti akan mati? Diprediksi mati dalam usia tua sih, masih mending. Tapi kalo divonis mati di usia semisal 20 tahun? Alih-alih jadi bersemangat kayaq Aya atau Kaoru, mungkin gw bakal drop…Ah, diri gw yang belum juga dewasa-dewasa...
Gw pernah ikut satu kursus Inggris, dan pernah dikasih tugas ngarang ama guru bule gw itu, mengenai topic “What would you do if you had only one day left to live?”.
Jawaban gw ama temen2 sekelas gw waktu itu kurang lebih sama : Have fun dulu, trus minta maaf ama semua orang, dan pergi tidur.
Sekarang? Terus terang aja, gw belum pede untuk mati. Karena sebagai umat Buddhis, gw masih belum bisa menjawab satu pertanyaan; kamu sudah tahu, akan terlahir ke mana setelah mati?
Setelah mati, apa yang terjadi ama gw? Gw tau, gw akan bisa lari dari karma gw sendiri.. It’s true, kita harusnya lebih mikirin the present moment. Tapi gw lebih prefer menafsirkannya sebagai “gunakan present moment sepenuhnya untuk bekal di masa depan dan kelahiranmu kembali yang akan datang..”
Dan karena itu pula, gw harus bisa live my life to the fullest. Mungkin susah, tapi setidaknya, gw ga mau kalah dari Aya atau Kaoru.*
the-not-so-talented-so-called-PMB
...
Let's keep it for the last to know, okay?
Kalo elo-elo sering ke blog gw, untuk tujuan apapun, pasti tau -kalo emang cukup peduli untuk tahu- kalo gue belakangan banyak vakum.. Bukan prestasi, I know.. kayaq berita-berita sinting di infotainment - seleb sakit gigi aja jadi berita. Mungkin bener, infotainment harus di-banned (!).
Oke, sebelum gw mulai menjelaskan kenapa gw vakum, kayaqnya gw harus mulai dulu dengan kenapa gw menulis..
Gw suka nulis karena dasarnya gw suka melamun. Suka menerawang jauh2, secara gw orang melankolis. Gw nulis karena apa yang ada di otak gw biasanya super ga penting, super melankolis, dan menyebalkan orang kalo gw curhatin ke orang. Lantas, gw berpikir, kenapa ga, kalo gw mulai nuangin satu per satu ide2 yang amburadul di kepala gw, dan menjadi sesuatu?
Gw inget banged, guru gw di SMA dulu pernah bilang.. pemikir dan pengajar di barat sana baru dibilang sukses kalo udah menghasilkan buku. Dan sejak itu, gw bercita-cita menghasilkan satu master piece yang dikenang dan dibahas berabad-abad kayaq Shakespeare. Then I'll live forever...
Terlalu bermimpi?
Gw sadar, gw ga berbakat sama sekali. Gw ga bisa menganalisis sesuatu dalem-dalem, kayaq blog tetangga2 sebelah, yang keren2, dan kadang nge-jelimet. Gw kekurangan daya analisis.. Lalu setelah dipikir2, dengan protein yang ditimbun karena bertahun2 makan telur, tahu, tempe, dan ayam.. masa sih gw ga bisa menganalisis sesuatu dengan baik dan .. ermm.. benar?
Dan di retret kemaren di Bandung, gw menemukan jawabannya. Gw jarang banged bikin persiapan awal kalo nulis. Gw nulis, atau tepatnya ngetik, karena dorongan emosi sesaat doank. Kita semua tahu, itu ga sehat, se-ga-sehat-seperti-junk-food dan makanan siap saji lainnya. Hasil tulisan gw melempem dan hambar, kayaq sayur kurang garam. Metafor gw ga ada yang sempurna dan mengena. Dan tema gw ga pernah bisa selese. Gila........ dan dengan berani-beraninya gw bikin blog?
Forgive my soul........
Bukannya gw ga mau bikin persiapan.. tapi perlu diketahui, gw belom punya kompie sendiri di B-town. Bukan ga modal, tapi terlalu sok borju karena menginginkan sebuah laptop -_-...
Ngetik di tempat temen kost laen? Bisa aja.. cuman, ga ada privasi. Anak kost gw suka rese, dan suka komentar alias cerewet. Baru satu kalimat, udah dibaca keras2, kayaq lagi pidato. Cape dehhhhhhhh...
Anyway, intinya, gw ga menyalahkan sikon. Ga menyalahkan orang2 rese di kost.
Still, maybe I need more time.
Dan novel gw kaga selese2 sampe sekaranggggggggggggggggggggggggggggggggggggggg
So... PMB? PMB dari Hongkong kale?? Yang lost in translation..
*apa sih PMB?
Ehm ehm... penulis muda berbakat.... Mampus! @%&*^%!#$
Berat bebanku........................................***
TalKinG

Anyway, just a thought, banyak juga yang bilang gw cerewet. Ga banyak sih, sebenarnya. Cuman, rasanya gw perlu meluruskan pernyataan di atas. Gw lebih prefer istilah 'konservatif terhadap detail' daripada cerewet. Ya, gw orang tipikal melankolis. Gw pernah dibilang perfeksionis. Sampe-sampe ada yang bilang, 'Iya, esdoubleu tuh perfeksionis, masa ga tau?' Geez...
Dan suatu kali gw pernah membaca satu stiker yang ditempel di angkot, dalam perjalanan ke kampus. Isinya sederhana, dan bunyinya kira-kira.. 'Ketika kau berbicara, maka kata-katamu harus lebih bermakna daripada ketika engkau diam.' Sederhana emang, tapi tepat sasaran! Gw segera melihat ke dalam diri gw sendiri. Sudahkah gw seperti itu? Coba kita lihat...
Gw suka gosip. Suka membicarakan orang lain. Suka boong. Suka nyepet-nyepet. Weks, kenapa yang keinget justru yang jelek-jelek yah? Wah, bikin rusak image aja. Hehe..
Anyway, gw yakin kalo semua orang punya kekurangan masing-masing. Dan ga bisa dibilang juga, kalo 100% dari ucapan kita tuh emang udah berguna. Jadi inget satu cerita yang pernah gw baca di footer lembaran soal ujian gw dulu, waktu masih SMP.
Ceritanya gini.. Ada seekor kura-kura dan seekor kepiting. Kepiting ini lagi berjemur, deket tepi pantai. Si kura-kura agak ke daratan. Nah, si kura-kura lalu melihat, ombak dah mau datang. Karena khawatir si kura-kura bakal keseret, si kura-kura itu lalu teriakin si kepiting. Maksudnya biar si kepiting ngubah posisinya. Si kepiting yang lagi posisi wuenak tentu aja keganggu, tapi mau ga mau, dia juga pindah posisi. Ternyata, ombaknya mereda pas nyampe pantai. Tau gito, si kepiting marah-marah ama si kura-kura, yang udah gangguin kesenangan dia. Nah, di kali lain, si kepiting berjemur lagi. Si kura-kura ada di sana juga.. Kali ini dia melihat ombak besar datang lagi. Tapi karena takut kejadian sebelumnya terulang, dia memutuskan untuk diem... Dan ternyata ombak besar beneren nyampe ke pantai, pas si kura-kura mau teriakin, ternyata dah telat. Si kepiting udah terlanjur keseret..
Mungkin bener, kalo ucapan kita harus lebih bermakna daripada ketika kita diem. Tetapi, tau dari mana kalo ucapan kita itu lebih bermakna? Contohnya kayaq kasus tadi. Dan kata sapa gosip tuh ga berguna? Emang mungkin ga berguna, tapi selama ga menjelek-jelekkan orang, kenapa nggak? Kadang, kita perlu sesuatu yang kasual buat pergaulan. Pernah ketemu ga, ama orang yang kaku banget? Bicaranya seperlunya, ga basa-basi? Terlalu straightforward juga kadang ga bagus kan?
So? Intinya, kalo nurut gw.. selama yang ktia bicarain tuh ga merugikan orang, ga jelekin orang, bukan kata-kata boong atau bual-bual.. Fine aja. I'm not talking aout being saint, okay? But lets improve ourselves..
Buat Inisial L
Hehe, kayaqnya pertanyaan itu retoris yah? Semua orang pasti pernah jatuh cinta, ga soal cinta yang seperti apa. Wong anak SD aja sekarang udah ada yang pacaran. ^^
Tapi biar gito, cinta tetep ajaib. Pengalaman jatuh dan mencinta itu bisa memberikan begitu banyak hal – cemburu, kangen, bahagia, sedih, dll – walaupun kita udah berkali-kali jatuh cinta. Tetap saja, kita ga pernah bener-bener learn the lesson well. Buktinya, masih aja ada yang nangis meraung-raung sampai ngunci diri di kamar begitu putus atau lagi sakit hati karena bertengkar hebat ama pacarnya. Buktinya, lagu-lagu broken heart yang super duper melankolis senantiasa laris manis di chat lagu-lagu – dan gw termasuk salah satu penggemar lagu-lagu kayaq gito. Buktinya, banyak orang yang kaku mendadak bisa jadi puitis gila begitu jatuh cinta. Well?
Sejak dulu ampe sekarang, gw masih percaya kalo mencintai itu adalah proses. Kita ketemu ama seseorang, dimulai dari kesan pertama semacam ‘eh kayaknya dia lucu deh,’ lalu dilanjutkan dengan perasaan pengen deket terus ama si dia, dan akhirnya nembak.
Sampai ke bagian pengen deket-deketen trus, kayaq perangko ama suratnya, rasanya masih adem ayem saja. Rasana masih tersenyum terus mengkhayal yang macam-macam. Tapi gito sampe ke bagian nembak… rasanya belum apa-apa jantung mau copot duluan. Kalo ga ada si rusuk baik hati, kayaqna organ yang malang itu udah lompat keluar duluan.
Bener ga, sih? Jawab ndiri aja, ya?
Nah, sekarang gw ganti pertanyaan di atas :
Ada ga, seseorang yang kamu cintai sekarang?
Kalo jawaban pertanyaan di atas pasti ‘iya’, jawaban untuk pertanyaan yang ini belum tentu iya.
Gw punya seorang temen cewek, inisialnya L. Jangan bicara soal penampilan, yah, tapi gw yakin kalo dia tuh pada dasarnya baik (kalo kamu ngerti, L, jangan ge-er yah). Gw tau kalo dia tuh diam-diam sedang mencintai seseorang, adik kelasnya, sekaligus temen baiknya. Kenapa gw sebut diam-diam? Soale sampe sekarang dia selalu mengelak kalo ditanya, padahal it’s very obvious! Dan sayangnya lagi, si cowok udah punya pacar. Gara-gara dia diamnya kelamaan kali, ya? Tapi si cowok juga udah secara implisit menyatakan kalo dia cuman menganggap si L ini kakak sih..
Gw tahu rasanya diam-diam mencintai seseorang. Hanya bisa berharap dalam hati, dan memilih bungkam di hadapan si dia. Ini satu bukti kalo nembak orang itu bukan something easy..
Tapi
.
.
Gw tetap merasa kalo nembak seseorang yang kita sayangi tuh harus dilakukan. Itu udah kewajiban. Daripada kalah sebelum perang? Daripada diam ga berbuat apa-apa? Daripada hanya bisa menatap si dia dari kejauhan? Meski tau bakal kalah, gw prefer berperang ampe titik penghabisan. Biar kalahnya memberi kepuasan tersendiri.
Karena gw tahu, mencintai seseorang bukanlah dosa. Bukanlah sesuatu yang memalukan. Cinta bukanlah cinta sebelum dipersembahkan…
Tapi banyak juga yang berkilah, cinta kan ga harus memiliki. Asalkan dia bahagia. Dan segala macam hal sejenis lainnya.
Kata gw, kalo cinta tidak untuk dimiliki, apa gunanya? Buang-buang energi, tau! Justru cinta harus diperjuangkan! Tau dari mana dia bakal lebih bahagia ama orang lain? Tau dari mana orang lain bakal lebih mencintai dia daripada kita? Emang, kita ga berhak memaksa, still at least, we must try! Emang, kamu mau, ketika kamu tua ntar, kamu melihat ke masa lalu kamu, lalu bertanya-tanya hal semacam, ‘apa jadinya kalo waktu itu aku nembak?”??
Dan kata sapa cewek ga berhak nembak duluan? Daripada diam dan si cowok terlalu bodoh buat menyadari ada bidadari di hadapan dia? Daripada diam dan si cowok ga mlihat pabrik gula di hadapan dia lalu nyari-nyari permen di luar? Daripada sakit hati trus nangis tiap liat adegan romance di tipi?
Oke, L. Kalo kamu baca ini, semoga kamu ngerti. Klo dia bilang ‘ga’ ke elo, elo baru deh berhak nangis. Dan saat itu, lo harus melanjutkan hidupmu.
Belajar
Otak manusia sebenarnya hanya 100 bytes, dengan memori yang terbatas itu, tak mungkin kamu menghapal semua..demikian kata dosenku suatu ketika. Dan sekali lagi, aku hanya bisa tersenyum maklum dan memilih tenggelam dalam diamku. Toh, aku tak punya hak untuk mengomentari, karena yang terlihat oleh mataku tidak selalu merupakan kenyataannya.
My videos. Featured videos.
My photos. Now you know me.
most viewed
Browse Flickr
My lifestream. Stay updated with me.
Recent Comments
About Me
- Esdoubleu
- Adalah sepasang sandal jepit yang tinggal sebelah, kumal, berdebu, dengan sedikit noda bekas lumpur di pinggirannya. Sedikit tidak waras, tetapi berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia baik-baik saja, sembari berharap suatu saat nanti, ia akan bertemu dengan sebelah sandal jepitnya yang hilang.









