
Dan itu bukan sayap.
Bayangan yang berkilat di balik punggungnya itu bukan sayap. Meski putih. Meski berkelebat, dan terlihat siap mengepak.
Bukan pula sayap-sayap patah, seperti yang melindungi Selma dari tusukan derita karena cinta.
Benda itu adalah sebilah pisau. Tajam. Terasah. Dan terlihat baru.
Setiap hujan mendera, pisau itu siap terhunus.
Betapa inginnya ia menyilet hujan. Memotongnya menjadi apa aja. Lalu membuangnya. Menyingkirkannya.
Karena tak pernah ia ingin menyimpan apapun yang tak bisa ia miliki.
Tetapi hujan, turun terus. Menderas. Dan sekali lagi, hujan akan berlalu, meninggalkan dirinya. Menjejakkan basah yang berlumpur.
Noda.
Noktah.
Seperti kenangan tentang dirinya yang tak terhapus..






