My Writings. My Thoughts.
TalKinG

Anyway, just a thought, banyak juga yang bilang gw cerewet. Ga banyak sih, sebenarnya. Cuman, rasanya gw perlu meluruskan pernyataan di atas. Gw lebih prefer istilah 'konservatif terhadap detail' daripada cerewet. Ya, gw orang tipikal melankolis. Gw pernah dibilang perfeksionis. Sampe-sampe ada yang bilang, 'Iya, esdoubleu tuh perfeksionis, masa ga tau?' Geez...
Dan suatu kali gw pernah membaca satu stiker yang ditempel di angkot, dalam perjalanan ke kampus. Isinya sederhana, dan bunyinya kira-kira.. 'Ketika kau berbicara, maka kata-katamu harus lebih bermakna daripada ketika engkau diam.' Sederhana emang, tapi tepat sasaran! Gw segera melihat ke dalam diri gw sendiri. Sudahkah gw seperti itu? Coba kita lihat...
Gw suka gosip. Suka membicarakan orang lain. Suka boong. Suka nyepet-nyepet. Weks, kenapa yang keinget justru yang jelek-jelek yah? Wah, bikin rusak image aja. Hehe..
Anyway, gw yakin kalo semua orang punya kekurangan masing-masing. Dan ga bisa dibilang juga, kalo 100% dari ucapan kita tuh emang udah berguna. Jadi inget satu cerita yang pernah gw baca di footer lembaran soal ujian gw dulu, waktu masih SMP.
Ceritanya gini.. Ada seekor kura-kura dan seekor kepiting. Kepiting ini lagi berjemur, deket tepi pantai. Si kura-kura agak ke daratan. Nah, si kura-kura lalu melihat, ombak dah mau datang. Karena khawatir si kura-kura bakal keseret, si kura-kura itu lalu teriakin si kepiting. Maksudnya biar si kepiting ngubah posisinya. Si kepiting yang lagi posisi wuenak tentu aja keganggu, tapi mau ga mau, dia juga pindah posisi. Ternyata, ombaknya mereda pas nyampe pantai. Tau gito, si kepiting marah-marah ama si kura-kura, yang udah gangguin kesenangan dia. Nah, di kali lain, si kepiting berjemur lagi. Si kura-kura ada di sana juga.. Kali ini dia melihat ombak besar datang lagi. Tapi karena takut kejadian sebelumnya terulang, dia memutuskan untuk diem... Dan ternyata ombak besar beneren nyampe ke pantai, pas si kura-kura mau teriakin, ternyata dah telat. Si kepiting udah terlanjur keseret..
Mungkin bener, kalo ucapan kita harus lebih bermakna daripada ketika kita diem. Tetapi, tau dari mana kalo ucapan kita itu lebih bermakna? Contohnya kayaq kasus tadi. Dan kata sapa gosip tuh ga berguna? Emang mungkin ga berguna, tapi selama ga menjelek-jelekkan orang, kenapa nggak? Kadang, kita perlu sesuatu yang kasual buat pergaulan. Pernah ketemu ga, ama orang yang kaku banget? Bicaranya seperlunya, ga basa-basi? Terlalu straightforward juga kadang ga bagus kan?
So? Intinya, kalo nurut gw.. selama yang ktia bicarain tuh ga merugikan orang, ga jelekin orang, bukan kata-kata boong atau bual-bual.. Fine aja. I'm not talking aout being saint, okay? But lets improve ourselves..
Monolog Lalat

Kedai itu selalu ramai setiap istirahat siang. Meskipun di sebelahnya ada satu café kopi hasil franchise dari sebuah outlet internasional, orang-orang yang berdatangan hampir selalu memesan kopi. Mulai dari kopi pahit yang sederhana sampai cappuccino atau espresso yang berbuih-buih di permukaannya.
Lalat. Ya, l-a-l-a-t. Kini engkau tahu,
Lalat itu – mati. Mungkin karena kopinya masih panas sekali. Dan aku pun kehilangan seleraku, dan kopiku.
Aku tercengang. Oke, lat, kali ini kau menang. Aku pun bangkit, hendak pulang ke kantor. Dan saat itu, mataku langsung tertuju pada seorang pelayan yang membawa nampan berisi secangkir kopi lain. Matanya sedang mencari-cari nomor meja pemesannya, tapi aku sudah melihat lebih dari cukup.
Dalam perjalanan pulang, aku membayangkan kembali lalat itu. Mendadak timbul secuil perasaan iba.
SMS

Hai, lagi apa?
Kubuka kembali draft di menu messaging ponsel. Dan kulihat kembali semua SMS yang urung kukirimkan.
has only one meaning
has only one dream to go
Message not sent
21-Jan-06
Message not sent
12-Feb-06
compared to love sincerely?
Message not sent
14-Feb-06
How are you now?
Message not sent
28-Mar-06
Kuhela napas panjang. Semua kangen ini hanya bermuara pada satu orang..
Aku ingin bertemu.
Message sent
ketika perpisahan...

[act 3]
Senja sudah melingsir ketika aku berjalan menapaki trotoar untuk pulang.
Semilir angin yang berembus menerbangkan beberapa helai daun, membuat mataku spontan mengikuti arah jatuhnya daun-daun itu. Aku selalu menyukai pemandangan ini.
Lalu mataku menangkap bayangannya.
Ia sedang berjalan ke arahku, dengan tatapan menerawang ke arah jalanan.
Aku terdiam. Semestaku hilang begitu saja ketika dia berhenti beberapa puluh senti di hadapanku. Untuk sesaat, kami hanya saling berpandangan.
‘Gimana kabar?’
Aku terperanjat. Setelah keheningan selama hampir 30 menit, tak kukira dia akan mulai bersuara.
‘Baik,’ kutatap wajahnya. Dan semua kenangan yang ingin kukunci rapat-rapat di hipokampusku segera meluber dan berhamburan keluar.
Segera kusedot es teh di hadapanku.
‘Apa kabarmu sekarang?’ Aku mencoba menetralisir seluruh kecamuk yang berprahara di benakku.
‘Aku baik. Sekarang sudah pindah kost.’
‘Kenapa?’
Dia tersenyum. ‘Tidak ada alasan khusus. Paling karena aku ngedapetin kos lain yang lebih murah.’
'Rumahnya gimana? Lebih nyaman?’
Dia mengangguk.
Kutatap punggungnya berlalu dari café. Sekali lagi, ia berlalu dari hidupku. Kupenjamkan mata.
Aku masih amat mencintainya. Tapi kata-kata itu kini hanya tinggal artefak usang, yang hanya menjadi penanda bahwa dia pernah hadir dalam hidupku. Tak pernah kukira bertemu kembali dengannya akan menyulitkan seperti ini.
Aku berbalik, menghadapi jalanku sendiri.
Kulangkahkan kakiku yang terasa berat. Sementara hatiku yang lemah sudah porak-poranda.
Aku harus terus…jangan menoleh lagi… itu hanya masa lalu..
Kupenjamkan mataku lagi. Betapa inginnya aku lari dari kenyataan ini.
Tapi…
Kugigit bibirku. Aku tak ingin mengingkari seluruh rasa ini. Aku menoleh.
Dan jalanan yang ramai itu terasa lengang. Aku tak menemukan bayangannya.
***
End of summer’06.
Help me, to be awaken from this long sweet but fake dream
…If you’re not for me, why we had to meet? …
Bandara 04:30

Kutengadahkan kepalaku. Mencoba mengusir sisa-sisa kantuk kemarin. Aku tersenyum samar tatkala kuingat kembali wajah Airin yang tengah tertidur pulas di pelukanku.
Sejak kami bersama dua tahun yang lalu, tak pernah kupikirkan hari ini akan tiba. Hari ketika aku akan beranjak untuk berpisah dengannya...
Rin, aku kangen...
Aku tahu, dengan segala logika, tak mungkin aku memintanya ikut bersamaku, betapapun aku mencintainya. Aku tahu ia pasti bersedia. Tapi, aku tak tega. Karena ikut bersamaku berarti dia harus meninggalkan semua kehidupannya di sini.
Jika perpisahan membuat kita masing-masing lebih dewasa.. aku akan belajar, Rin.. menjadi lebih baik...
Sepasang orang tua lewat dihadapanku, sambil bergandengan tangan. Kelihatannya mereka hendak berpergian. Aku kembali tersenyum. Alangkah bahagianya...
Aku bangkit dari tempatku duduk. Aku harus segera chek-in. Sebentar lagi pesawat akan berangkat.
Kumatikan ponselku. Airin pasti masih tidur.
Aku berangkat, Rin.. Tunggu aku...
ketika perpisahan...
[act 2]Kugeser sliding door.
Pemandangan malam dengan dinginnya segera menyapa seluruh reseptor rasa di tubuhku. Kudekap kedua lenganku.
Sudah berapa lama?
Balkon ini telah menjadi asosial sejak hari itu.
Aku pun menengadah, mencari kerlip bintang. Kulihat bintang seperti tengah berlomba memenuhi angkasa gelap.
*
“Jangan diam.”
Dia menatapku heran.
“Ketika kamu diam, kamu terlihat menerawang jauh… Dan aku takut, karena aku tak pernah bisa menebak apa yang sedang kau pikirkan. Aku takut tak bisa menyeretmu pulang ke alam nyata, alam di mana aku eksis secara nyata..”
Dia tersenyum. Lalu memelukku, seperti yang sudah-sudah.
*
Aku tak bisa memungkiri, dan tak ingin mungkir, betapa aku kangen padanya. Pada tawanya. Pada matanya yang begitu penuh kehangatan. Pada hari-hari ketika ada dirinya.
Semuanya….
Tapi masa lalu sampai kapanpun hanya akan menjadi masa lalu. Tidak ada apapun yang bisa menghadirkannya kembali.
*
“
“Katakanlah…”
Dia menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Ketika sekian menit berlalu, dan dia masih membisu, aku mulai khawatir. Sesuatu yang buruk sedang terjadi.
“
“Mungkin sebaiknya kita berpisah saja…”
Berpisah? Kata-kata itu seperti air bah yang tiba-tiba menyeretku dari dataran kebahagiaan, dan menenggelamkanku dalam lautan penderitaan. Dadaku serasa sesak. Untuk sekian detik, aku tak mampu berkata-kata.
*
Aku tersenyum pahit. Tak seharusnya aku terus menghayati semua kenangan ini. Ketika perpisahan tiba, awal yang baru akan kembali bermula. Ketika perpisahan tiba, aku harus merelakan. Aku harus hidup dengan baik, seperti saat-saat sebelumnya.
Mungkin benar, tiada alasan bagi dua orang yang saling mencintai untuk berpisah, kecuali jika cinta itu tak ada lagi. Tapi, cinta saja tak cukup.
Aku yakin, dia pernah amat mencintaiku. Dan itu saja sudah cukup buatku. Semoga dia bisa menemukan mataharinya lagi. Semoga dia bisa menemukan seseorang yang bisa menemani perjalanan panjangnya. Asalkan dia bahagia….
Malam Terakhir
Airin menjulurkan kedua telapak tangannya, menyentuh pipi Ferre. Bola matanya yang bulat dan hitam memantulkan bayangan Ferre. "Kenapa kau memilihku?"Ferre mengulum senyumnya. Disentuhnya kedua telapak tangan yang mungil itu. Diremasnya pelan. Rasanya hangat. "Perlukah alasan untuk mencintaimu?"
Airin menunduk. Direbahkannya tubuhnya ke dada bidang Ferre. Purnama di atas langit begitu cerah, menyinari malam yang pekat dengan selerat sinarnya.
"Aku takut, Re. Takut semua ini akan berakhir demikian cepat. Takut tak bisa lagi menjadi seorang Airin bagimu.." Suara itu kian lirih.
Ferre mengulum senyumnya kembali. Ia mempererat pelukannya. Berusaha menyalurkan semua kekuatannya. Ada berjuta kata-kata indah yang bisa ia keluarkan. Ada berjuta janji-janji yang bisa ia berikan. Tapi ia lebih memilih untuk diam.
Kadang, cara terbaik menyatakan sesuatu adalah dengan diam...
"Re.. "
"Yah?"
"Aku akan kangen."
"Mmm..Aku juga.."
Pagi itu, Airin terbangun seperti biasa. Semuanya masih seperti semula, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Ia tersenyum samar. Ditatapnya langit pagi melalui jendela kamarnya. Aroma Ferre masih berjejak di atmosfer. Dan rasa kangen itu berdifusi perlahan-lahan mengisi ruang kosong.
Dirabanya dadanya. Rasanya hangat.
Ia tahu, Ferre akan kembali. Bukan untuk Airin, bukan untuk Ferre. Tetapi untuk cinta...
Ketika perpisahan...

[act 1]
Buat Inisial L
Hehe, kayaqnya pertanyaan itu retoris yah? Semua orang pasti pernah jatuh cinta, ga soal cinta yang seperti apa. Wong anak SD aja sekarang udah ada yang pacaran. ^^
Tapi biar gito, cinta tetep ajaib. Pengalaman jatuh dan mencinta itu bisa memberikan begitu banyak hal – cemburu, kangen, bahagia, sedih, dll – walaupun kita udah berkali-kali jatuh cinta. Tetap saja, kita ga pernah bener-bener learn the lesson well. Buktinya, masih aja ada yang nangis meraung-raung sampai ngunci diri di kamar begitu putus atau lagi sakit hati karena bertengkar hebat ama pacarnya. Buktinya, lagu-lagu broken heart yang super duper melankolis senantiasa laris manis di chat lagu-lagu – dan gw termasuk salah satu penggemar lagu-lagu kayaq gito. Buktinya, banyak orang yang kaku mendadak bisa jadi puitis gila begitu jatuh cinta. Well?
Sejak dulu ampe sekarang, gw masih percaya kalo mencintai itu adalah proses. Kita ketemu ama seseorang, dimulai dari kesan pertama semacam ‘eh kayaknya dia lucu deh,’ lalu dilanjutkan dengan perasaan pengen deket terus ama si dia, dan akhirnya nembak.
Sampai ke bagian pengen deket-deketen trus, kayaq perangko ama suratnya, rasanya masih adem ayem saja. Rasana masih tersenyum terus mengkhayal yang macam-macam. Tapi gito sampe ke bagian nembak… rasanya belum apa-apa jantung mau copot duluan. Kalo ga ada si rusuk baik hati, kayaqna organ yang malang itu udah lompat keluar duluan.
Bener ga, sih? Jawab ndiri aja, ya?
Nah, sekarang gw ganti pertanyaan di atas :
Ada ga, seseorang yang kamu cintai sekarang?
Kalo jawaban pertanyaan di atas pasti ‘iya’, jawaban untuk pertanyaan yang ini belum tentu iya.
Gw punya seorang temen cewek, inisialnya L. Jangan bicara soal penampilan, yah, tapi gw yakin kalo dia tuh pada dasarnya baik (kalo kamu ngerti, L, jangan ge-er yah). Gw tau kalo dia tuh diam-diam sedang mencintai seseorang, adik kelasnya, sekaligus temen baiknya. Kenapa gw sebut diam-diam? Soale sampe sekarang dia selalu mengelak kalo ditanya, padahal it’s very obvious! Dan sayangnya lagi, si cowok udah punya pacar. Gara-gara dia diamnya kelamaan kali, ya? Tapi si cowok juga udah secara implisit menyatakan kalo dia cuman menganggap si L ini kakak sih..
Gw tahu rasanya diam-diam mencintai seseorang. Hanya bisa berharap dalam hati, dan memilih bungkam di hadapan si dia. Ini satu bukti kalo nembak orang itu bukan something easy..
Tapi
.
.
Gw tetap merasa kalo nembak seseorang yang kita sayangi tuh harus dilakukan. Itu udah kewajiban. Daripada kalah sebelum perang? Daripada diam ga berbuat apa-apa? Daripada hanya bisa menatap si dia dari kejauhan? Meski tau bakal kalah, gw prefer berperang ampe titik penghabisan. Biar kalahnya memberi kepuasan tersendiri.
Karena gw tahu, mencintai seseorang bukanlah dosa. Bukanlah sesuatu yang memalukan. Cinta bukanlah cinta sebelum dipersembahkan…
Tapi banyak juga yang berkilah, cinta kan ga harus memiliki. Asalkan dia bahagia. Dan segala macam hal sejenis lainnya.
Kata gw, kalo cinta tidak untuk dimiliki, apa gunanya? Buang-buang energi, tau! Justru cinta harus diperjuangkan! Tau dari mana dia bakal lebih bahagia ama orang lain? Tau dari mana orang lain bakal lebih mencintai dia daripada kita? Emang, kita ga berhak memaksa, still at least, we must try! Emang, kamu mau, ketika kamu tua ntar, kamu melihat ke masa lalu kamu, lalu bertanya-tanya hal semacam, ‘apa jadinya kalo waktu itu aku nembak?”??
Dan kata sapa cewek ga berhak nembak duluan? Daripada diam dan si cowok terlalu bodoh buat menyadari ada bidadari di hadapan dia? Daripada diam dan si cowok ga mlihat pabrik gula di hadapan dia lalu nyari-nyari permen di luar? Daripada sakit hati trus nangis tiap liat adegan romance di tipi?
Oke, L. Kalo kamu baca ini, semoga kamu ngerti. Klo dia bilang ‘ga’ ke elo, elo baru deh berhak nangis. Dan saat itu, lo harus melanjutkan hidupmu.
Belajar
Otak manusia sebenarnya hanya 100 bytes, dengan memori yang terbatas itu, tak mungkin kamu menghapal semua..demikian kata dosenku suatu ketika. Dan sekali lagi, aku hanya bisa tersenyum maklum dan memilih tenggelam dalam diamku. Toh, aku tak punya hak untuk mengomentari, karena yang terlihat oleh mataku tidak selalu merupakan kenyataannya.
Jika
mengapa aku mesti memikirkanmu?
mengapa di benakku hanya ada kamu?
mengapa senyummu terasa bagaikan air di padang tandus?
mengapa suaramu seperti simfoni alam, mendendangkan harmoni indah?
Jika sejak awal aku tau akan seperti ini...
akankah aku memilih yang seperti ini?
esdoubleu.
now falling....
- jika kamu memang bukan untukku, mengapa harus bertemu?-
Selalu seperti ini...
Lamat-lamat ritme circadian dalam tubuhku membangunkanku dari mimpi. Kubuka mata. Kuhirup napas panjang.
Sinar matahari yang keemasan menembus celah-celah tirai jendela di samping tempat tidurku. Sudah pagi.
Kulirik bantal di sebelahku. Kosong. Seperti biasa. Sekali lagi, kutarik napas panjang.
Aku bangkit, lalu berjalan menuju ke jendela. Kusibak tirai, membiarkan sinar matahari menyengat mataku. Di ufuk timur sana, matahari baru saja menampakkan diri, menjanjikan aroma kesegaran untuk satu hari yang baru.
Kupeluk kedua lenganku. Meresapi sendiri rasa kagum yang membanjiri benak kecilku, meluap tanpa mampu menemukan tempat bermuara.
Ya, karena engkau tak pernah ada di sini bersamaku…
Selalu saja seperti ini.
*
Kupandangi lekat-lekat dua gelas minuman yang tersaji di depanku. Satunya cappuccino, yang lainnya es lemon.
Tiga jam yang lalu, proposal proyekku diterima. Itu berarti aku juga berhak memperoleh promosi. Untuk itu, rekan-rekanku membuatkan sebuah pesta kecil untukku di kantin kantor.
Tapi acara itu belum selesai ketika aku beranjak pergi. Aku ingin merayakannya bersama seseorang.
Dan di sinilah aku sekarang. Di café yang tiap jamnya kian bertambah sepi.
Aku tertawa pahit. Kutinggalkan kehangatan teman-temanku untuk menyongsong dinginnya rasa sepi.
Kuteguk habis kopi yang telah mendingin itu.
Sementara gelas es lemon itu selalu masih utuh dan penuh berisi.
Selalu saja seperti ini.
*
Kunyalakan lampu kamarku. Pemandangan yang sama membentang di hadapanku. Semuanya terasa kosong dan hambar.
Kuambil sekaleng coke dingin dari dalam kulkas. Perlahan aku berjalan ke arah jendela.
Malam terlihat gemerlapan. Tetapi cahayanya tak akan pernah mencapai kegelapan di hatiku. Gelap itu akan terus teronggok dan terlupakan. Gelap yang selamanya akan tetap menjadi gulita.
Mengapa mesti selalu seperti ini?
*
Mimpi buruk yang menggigit kesadaranku membangunkanku dari tidur.
Aku terengah, mencoba memasukkan sebanyak mungkin oksigen ke dalam paru-paru. Jantungku seolah terus berpacu dengan waktu.
Kuseka peluh dingin yang membasahi keningku, lalu kuraih botol minum di samping ranjang.
Baru jam tiga pagi. Dan seperti biasa, bantal di sampingku masih rapi. Secuil perasaan takut meresap di hatiku, mengurung seluruh keberanianku.
Aku membutuhkanmu….
Kupeluk kedua lututku. Hanya kesunyian yang bergema memenuhi seluruh ruang kosong.
Selalu seperti ini.
*
Dari jendela kacaku, kutatap ia memasuki sedan putihnya dan melaju pergi.
Kuhela napas panjang.
Masih adakah arti semua yang kujalani saat ini? Dia tak pernah ada saat aku bahagia. Tak pernah hadir saat aku sedih. Dan tak pernah berada di sampingku, di saat aku paling membutuhkannya…
Aku lelah hidup dalam bayang-bayang seperti ini. Aku tak ingin hanya menjadi pelarian belaka…
Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku tak menginginkan perpisahan. Aku mencintainya, dan aku tak memerlukan dia juga mencintaiku.
Kugigit bibirku, berusaha menahan rasa getir yang menggerogoti perasaan sentimental di dalam hatiku.
Seperti biasa, aku gagal melakukannya.
*
Aku diam menatap kamarku.
Kamar yang pernah terasa demikian besar dan penuh, sekarang menjadi demikian lengang dan kecil.
Kuhela napas panjang. Baru setengah jam yang lalu, kuputuskan untuk mengakhiri semua kegetiran ini.
Rasanya demikian tidak adil. Sesuatu yang kubangun bertahun-tahun kini lenyap hanya dalam hitungan detik.
Dia telah berlalu dari kehidupanku. Seharusnya aku gembira dan bahagia. Tetapi hatiku malah dipenuhi rasa kangen. Kangen pada hari-hari yang pernah kumiliki dengannya…
Kutatap langit melalui jendela kaca. Kudapati lembar terakhir daun kuning pohon maple di halaman rumah gugur tertiup angin.
Kini aku mengerti. Pohon besar itu tidak pernah menolak daun-daunnya. Daun-daunnyalah yang memilih luruh ke bumi.. agar daun-daun yang baru dapat kembali bermula.
Aku harus segera membiasakan diri lagi. Karena semua tak akan pernah sama lagi…*END
Di Pojok Cafe
Kuteguk kopi di cangkirku yang ketiga. Kali ini sampai habis. Dan tanganku kembali terangkat ke atas. Tak lama, cangkir keempatku pun datang, masih mengepulkan asap.
Kunyalakan pemantikku, untuk membakar tembakau rokok. Batang rokok yang kelima. Kuembuskan asapnya ke udara, yang segera berdifusi dan lenyap.
Aku sedang menunggu seseorang, dan menunggu selalu membuatku senewen. Spontan kulirik jam di dinding.
Sepuluh menit lagi…
Lalu gadis itu melangkah masuk. Pelan-pelan, selangkah demi selangkah. Tapi bagiku, saat itu pula seluruh momenku serasa terhenti. . . . .
. . . aku lupa pada diriku sendiri. Aku lupa tarikan napasku. Lupa kedipan mataku. Lupa debaran jantungku.
Ia akan duduk di tempat yang sama. Dan aku akan mengamatinya memberi seulas senyum yang sama pada bartender. Kemudian bibirnya bergerak, memesan segelas es lemon. Setelahnya, ia pun mulai mengamati tamu-tamu lain.
Sesekali ia tersenyum. Dan aku juga akan tersenyum.
Di kali lain, ia bersedih. Dan aku juga akan bersedih.
Ia seperti menularkan emosinya ke atmosfer café yang kecil ini. Dan hanya aku yang tak punya immunitas. Karenanya, hanya aku yang tertular.
But it’s okay…
Begitulah ritual itu melebur dalam rutinitas harianku. Aku, yang berada di pojok gelap kecilku, mungkin tak pernah memiliki arti apa-apa baginya. Ia tak pernah tahu aku eksis di dunia, mengamatinya, dan bahkan menunggu setiap kehadirannya di café ini.
Tapi sekali lagi, it’s okay. Karena ia tak perlu tahu.
Sejam lebih ia di sana. Lalu ia bangkit, melangkah perlahan keluar dari café itu.
Rambut panjangnya yang tergerai begitu saja melambai-lambai di kornea mataku. Punggungnya berlalu ditelan oleh udara luar.
Kumatikan rokokku. Kuhampiri kursi tempat ia duduk tadi.
Aku mengambil posisi tepat di sampingnya. Memandangi segelas es lemon miliknya, yang seperti biasa, masih penuh dan utuh. Enigma yang tak kupahami hingga sekarang. *end
It's a talk to myself
yang berlalu diterpa detikan jam
ngilu di sudut jantungku
aku ingin, mendekapmu dalam lalu usia
menatap binar matamu kala bangun pagi
berdebar dan berdetak pelan
d a n m e s r a
aku ingin, mendekapmu di sisiku
menjadi bagian dari jiwa yang terlengkapi
Menjejak nyata dalam segenap rasa
Aku ingin, mendekapmu
sekali saja....
Biarpun seluruh mimpi serasa tak tergenggam
Namun nyata!
----------------------------------------------------------------------------------
aku tahu aku mencintaimu..
menerabas semak belukar dan belati tajam
menikam hatiku yang rapuh dengan hujamannya
Biar!
Biar air mataku yang membasuh lukaku yang berdarah
meneteskan segenap cerita tentang rasaku padamu
Aku hanya tahu aku mencintaimu
meski itu berarti tersayat beling
terhuyung dalam maya tak tergenggam,
tapi tak'kan pernah tersungkur
karena aku hanya tahu..
....aku mencintaimu..
------------------------------------------------------------------------
Kau dengar?
Jantungku tengah berdegup kencang
Tak perlu adrenalin. Cukup kau saja.
Ia akan berpacu dengan perasaan ini
Menandai lembaran-lembaran kangenku padaku.
24 lembar sehari, putri. Dan 24 lembar saja tak akan pernah cukup.
Kau dengar?
Jantungku tengah berdebar
dan setiap bunyinya adalah engkau, putri..
-----------------------------------------------------------------------------------
Rembulan mengawang dalam gelap
sinarnya lembut, memantul di permukaan daun yang basah
terasa mengkilat, menghantarkan sekepul ingatan
yang lama teronggok di sudut otak kecilku
Sejak malam itu,
aku sudah berhenti mengukur dan menghitung
;detik-detik yang kalap dan berlari dengan terburu-buru
;jarak yang menguak nasib antara
.................................................. ........................................
29.04.06
-------------------------------------------------------------------------------
izinkan aku,
mekar mewangi selamanya
menebar keindahan cintaku padamu
izinkan aku
menjadi kelopak terindah
yang tiada 'kan layu, mengabarkan hangatnya mentari
yang menerpaku..
-------------------------------------------------------------------------------------
My videos. Featured videos.
My photos. Now you know me.
most viewed
Browse Flickr
My lifestream. Stay updated with me.
Recent Comments
About Me
- Esdoubleu
- Adalah sepasang sandal jepit yang tinggal sebelah, kumal, berdebu, dengan sedikit noda bekas lumpur di pinggirannya. Sedikit tidak waras, tetapi berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia baik-baik saja, sembari berharap suatu saat nanti, ia akan bertemu dengan sebelah sandal jepitnya yang hilang.
Tags
My favblog. Feeds from them.
My videos. Featured videos.
Most Viewed
Labels
- About Me (19)
- About You (13)
- Feature (4)
- Headline (1)
- Love (13)
- Nothing-ness (16)
- Songs (2)
- Unfinished Project (35)












