My Writings. My Thoughts.

tonight

At » 12:53 AM // 0 Comments »



Cintai aku malam ini.
Malam ini saja.

Karena tak pernah ada esok untuk kita..


.
.
.

Pertalian yang Tak Mengikat

At » 12:07 AM // 0 Comments »



tetapi bukankah cinta tak pernah mengikat?

Seorang ibu tak akan pernah menghalangi anaknya yang ingin terbang lepas..
atas nama darah?
Seorang sahabat tak akan sanggup meminta temannya untuk tinggal..
atas nama hati?
Lantas, bagaimana bisa seorang kekasih mengikat cintanya, bahkan atas nama cincin dan cinta itu sendiri?


Buka matamu. Sekalipun aku ada di hatimu, engkau ada di hatiku, kita tak pernah saling mengikat.
Karena darah, hati, dan cinta, tak butuh ikatan...

Engkau bukan Milikku..

At » 6:16 PM // 0 Comments »



Seperti hujan yang tak tergenggam.
Seperti kabut yang mengejawantah dan menghilang.
Seperti bintang yang tak teraih.
Seperti panorma yang tak terengkuh..

Bahagia.

At » 11:25 PM // 2 Comments »





Aku memilih bahagia.
Meski itu bukan dengannya.

tentang senja

At » 6:00 PM // 0 Comments »



kukira aku telah selesai berbicara tentang senja. tentang bagaimana senja hanyalah secarik kertas yang dilapisi warna kuning keemasan yang disebut sebagai lembayung. Atau biru pekat yang menggigil, yang ia sebut indigo. tentang bagaimana burung-burung pulang petang, dan nelayan bersiap-siap berlayar.



tetapi, sama seperti kemarin, dan hari-hari sebelumnya, aku masih menemukan diriku duduk di tepi pantai, memeluk kedua lututku, merasakan butir-butir pasir menggesek habis perasaan yang lara ini, yang kian menua dimakan waktu. memandangi ombak bergulung, dan memecah ketika kedalaman laut berubah. berdebur tatkala mencoba memecah karang, menjejak basah di udara, dan lenyap ditarik pulang ke laut.


Dan aku menangis. Masih menangis. Meluruh rasa yang menggenap di mata, di hati, dan di raga. Untuk apa, aku tak pernah betul-betul tahu. Barangkali karena senja indah akan segera dilahap oleh malam. Dan kembali menjalani siklus yang tanpa henti...

Di dalam Matamu

At » 5:39 PM // 0 Comments »



Aku rela terbakar di dalam matamu.
Atau tersesat di dalamnya. Dan memilih tak pernah keluar lagi. Mungkin tepat bila kusebut matamu sebagai Eyes of No Return.

Aku rela ditelanjangi oleh matamu.
Bersetubuh dengan cara yang barangkali tak senonoh. Dan memuncak di dalam orgasme yang senyap. Sunyi, karena tak ada suara. Tak ada erangan, ataupun desahan. Itu yang kusebut intim.

Aku rela terkikis habis di dalam matamu.
Atau melayang-layang di dalamnya. Dan memilih melawan arus gravitasi. Meski itu cuma mimpi di siang bolong. Karena bersamamu, aku rela tertidur... Tak perlu ada putri cantik yang membangunkanku, seperti Snow White dibangunkan oleh pangerannya. Tak perlu.

Bintang-bintang rungau

At » 9:35 PM // 0 Comments »




bintang-bintang rungau.
barangkali ia lupa menyalakan lampu,
atau generator di belakang rumah tak lagi mampu berlari..


bintang-bintang rungau.
dirimu terasa jauh,
dan ketika kugenggam dengan telapakku,
aku merasa mataku tengah menipu dengan ilusi optik.
Karena aku tak jua bisa memiliki....


bintang-bintang rungau.
bagaimana bisa sepi bercengkerama dengan dia,
sementara sunyi adalah pasangannya yang sama-sama bisu?
bintang-bintang rungau.
Mari bersama larut dalam insomnia,

secangkir kopi dan kafein yang tebal.


Karena setiap kupenjamkan mata,

dirimu

datang

menari..

Aku Ingin Hujan Berhenti

At » 9:24 PM // 0 Comments »



Justru aku ingin hujan berhenti..
menggenang tanah basah di muka bumi.


Justru aku ingin hujan berhenti..
meluruh di udara dan menjejak pelangi.


Justru aku ingin hujan berhenti..
karena ia menikam ulu jantungku
.
.
dengan kenangan akan dirimu...

Berasa ABG

At » 5:53 PM // 2 Comments »
Apakah perasaan membuncah yang kurasakan setiap mendapati sedang memandangiku, hanya kurasakan sendiri?
Apakah sensasi terbakar di wajahku, yang menciptakan warna merah untuk kemudian kau lihat, hanya terjadi padaku?
Apakah pemikiran bahwa dirimu memang sedang menatapku, hanya khayalan dan imajinasi konyol belaka?

Dan masih ada beribu-ribu APAKAH yang berseliweran di kepalaku. Begitu banyak pertanyaan yang jawabannya hanya sesederhana 'YA' atau 'TIDAK', tetapi mendadak selalu terasa konyol. Selalu tak bisa kuyakinkan diriku sendiri, bahwa jawaban darimu memang 'YA'. Membuatku kian nelangsa, kian senewen, dan kian ingin bertanya.

Meski begitu, Engkau tahu, diriku ini sedang menahan lidahku untuk tidak melontarkan abjad-abjad memalukan itu tatkala dirimu berada di dekatku, menanyakan kabarku, atau sekadar bertegur sapa. Kepiting rebus memang enak. Tetapi kalau wajahmu mendadak merah seperti kepiting rebus? Jangan tanya.

Jangan tanya. Jangan tanya. Jangan tanya.
Diulang tiga kali. Biar mantap.

Karena itu, aku akan hanya menunduk. Bukan karena tersipu. Bukan karena malu, mendadak menjadi ABG kembali.
Tetapi lebih karena aku menyerah pada substansi yang kau sebut sebagai CINTA, melalui binar-binar matamu.

Apakah binar-binar itu juga untukku?
@#$%^&*!!

Aku Ingin Tidur Saja

At » 5:41 PM // 0 Comments »
Aku menghela napas. Panjang.
Untung Oma tidak berada di sini sekarang. Kalau tidak, ia pasti akan menceramahiku. Anak kecil kok menghela napas panjang, seperti ada masalah besar saja. Ya, bagi Oma, anak kecil sepertiku bahkan belum benar-benar tahu, apa yang namanya masalah besar itu.

Kulemparkan pandangan ke luar jendela. Jalanan berdebu. Orang-orang tampak penat. Sebagian lainnya tampak lusuh dan tak bersemangat. Langit sama kusamnya. Abu-abu. Monokrom. Membuatmu segera merogoh tas atau ranselmu untuk mencari benda yang bernama payung.

Sesungguhnya, aku bukan punya masalah besar. Aku hanya punya beban berat, yang serasa menghimpit dadaku. Beban yang kadangkala kupikir hanyalah efek dramatisasi diriku sendiri, berkat sisi melankolis yang demikian kental mengalir dalam darahku.

Aku menghela napas lagi. Melemparkan pandangan ke jendela lagi.
Terasa lebih mudah untuk menghakimi orang lain daripada diri sendiri, bukan?
Entahlah. Aku ingin tidur saja.

Hingga Saatnya Nanti

At » 5:25 PM // 1 Comments »



Tidakkah kau ingin berhenti dari langkahmu yang tergesa untuk menerobos masa lalu? Tidakkah kau ingin berjenak dalam dirimu sendiri, yang selalu tergopoh dan tak berdaya ketika memikirkan dirinya?


Sudahlah. Lupakan dia. Lupakan masa lalumu. Ingat, kau terlalu berharga untuk disia-siakan oleh dirimu sendiri. Kau terlalu bermakna untuk seseorang di masa depanmu.


Maka, berteriaklah. Setelah itu, kemas dirimu kembali. Simpan dirimu kembali. Hingga saatnya nanti.
*picture courtesy of http://www.batailley.net/images/20090406075600__mg_5306.jpg, Sunset After the Rain

Kau tersenyum.

At » 12:02 AM // 1 Comments »



..

aku tergagu.

...

..

.

Berlari..

At » 11:06 PM // 2 Comments »




Abimanyu menyingkirkan gelas di tangan Marina. Ada yang terhempas di hati. Ada yang meluruh di raga.


Marina tertawa. Tawa yang membahana dan seperti bergema berulang-ulang. Ia melayang dalam badai serotonin. Ia lupa semua pahit. Dan sekali itu, membiarkan dirinya sendiri menjadi gadis yang amnesia. Abimanyu meraihnya dalam pelukan.


Saat itulah, ia mendengar Marina meracaukan sebuah nama..


Ia tertegun. Lama. Ada yang remuk, di hatinya. Ada yang pupus, di raganya.

Mendengarmu..

At » 6:57 PM // 1 Comments »




Aku merasa mendengarmu. Dalam gelap malam. Dalam desau angin. Dalam debur laut. Dalam tetes hujan. Suaramu terasa menggema dalam hingar-bingar simfoni alam. Terasa dekat, namun tak tersentuh. Tak tergapai. Membuatku kian frustasi, kian menggigil, dan kian remuk.

Ingin rasanya kupakai head-phone. Ingin rasanya aku membekap gendang telingaku dan memilih tuli. Tetapi sebagian besar diriku malah mengharapkan sebaliknya. Aku, si manusia paradoks, begitulah dirimu pernah berujar. Kini, aku berpagut dalam paradoks tentang dirimu. Tentang rasa yang menghinggapi hatiku, diriku, dan jiwaku, seperti parasit. Dan aku inang yang tak bisa hidup tanpa si parasit.

Aku merasa mendengarmu. Meski gelap malam pekat membungkus retina mata. Meski desau angin mendesir, dan membawa pergi semua mimpi. Meski debur laut memecah dan hilang ditimpa surut. Meski hujan mereda dan melarikan semua debu yang penat. Meski aku tak menginginkannya.............

Label

At » 6:13 PM // 1 Comments »
"Aku ini siapamu?"
Aku menoleh, dan mendapatinya tengah menatapku. Ada rasa heran yang menyumpal di mulutku. Membuat aksara serasa melayang, dan kata-kata tak jua terucapkan. Dan ia masih menanti jawabanku.
Sebentar. Ijinkan aku berpikir.
Dia adalah rindu yang kukulum terlalu lama, hingga menyisakan rasa nyeri. Seperti permen karet yang mula-mula manis, lalu akhirnya berganti menjadi tawar. Sedikit pahit, malah. Kalau begitu, dia itu rindu, atau nyeri?
Dia adalah melankoli sentimentil, yang membuat malam yang merayap terasa nelangsa, semata karena rasa sepi terasa begitu menggerogoti. Dan fajar yang menyingsing mengundang senyum, terutama ketika aku memikirkan dirinya yang pasti sedang memikirkan diriku. Mungkinkah dua hati berpagut dalam alam relativitas yang tak menjejak nyata? Kembali, kalau begitu, dia itu rasa nelangsa, atau rasa bahagia?
Dia adalah rangkaian kata-kata yang tak teraksarakan. Tetapi sanggup membuat jemariku menari di atas keyboard komputer, atau menggerakan pena di atas coretan kertas. Untuk kemudian memaksaku menekan tuts backspace lama-lama dan menggumpalkan kertas itu ke dalam tong sampah. Kalau begini, dia itu inspirasi, atau masalah?
Aku tersenyum. Lalu merangkulkan lenganku ke bahunya.
Dia satu-satunya bagiku? Tidak juga. Karena dia menghadirkan begitu banyak paradoks.
Atau segalanya, bagiku? Tidak juga. Aku ingin dia hidup, walaupun tanpa diriku. Dan aku bisa hidup, walaupun tanpa dirinya.
"Kenapa kau begitu menginginkan label?" Aku mendengar diriku sendiri bersuara.
Dan persis yang kuduga, ia mendelik. Aku tersenyum lagi. Kali ini dengan harapan, semoga dia mengerti. ;-)

Dense Cloud, Fuzzy Rain..

At » 12:53 AM // 0 Comments »
雲深深雨濛濛Dense Cloud, Fuzzy Rain
song by Ruby Lin..
清楚的是眼淚 濛濛的是雨水 what’s obvious is tears, what’s fuzzy is the rain drop..

清楚的是心碎 濛濛的是離別 what’s evident is heart-broken, what’s hazy is farewell..

清楚的是你和我吻別 what’s apparent is you and I kiss goodbye

濛濛的是我還不後悔 what’s vague is me not being regretful

你在我心裡究竟下了什麼藥 What drug are you actually using on my heart?

讓我渴望在你的懷抱裡死掉 that makes me wishing to die in your arms?

傷痕已拋不了 幸福只剩一秒 the scar is unable to be cast away, the happiness is only one-second left

眼睜睜看你在我淚眼中溶掉 looking helplessly at you, being dissolved in my tears

你在我心裡究竟下了什麼藥 What drug are you actually using on my heart?

讓我死心塌地覺得剎那也好 that makes me unswervingly feel that (even) one split-second (with you) is enough

任你是非顛倒 接受你對他好 No matter how you turn the right and wrong upside-down, accepting that you being gentle to her

為什麼你的幸福比我的 重要 why is your happiness more important to my own?

煙濛濛雨也濛濛 我濛濛你也濛濛 the fog is hazy, the rain is also fuzzy, I am blurred, you are also blurred

如果一切可以都不懂 If only everything could be needing no clarity..

(meski) Kau Keparat!

At » 8:38 PM // 0 Comments »



Seharusnya aku membencinya. Atau lebih baik lagi, melupakannya. Tetapi aku tak bisa. Karena itu, kukatakan padamu, aku nelangsa. Menyedihkan. Dan sedikit membuat kesal.

Namun, jangan sekali-kali kau bilang kau bersimpati. Atau meminta maaf, dan terlebih-lebih lagi, merasa kasihan padaku. Aku tak butuh itu, meski aku tak baik-baik saja. Hei, aku masih hidup di sini. Berusaha membuang-buang energiku untuk mencoba membencimu. Untuk meyakinkan diriku sendiri, bahwa aku baik-baik saja, tanpamu.

Tanpamu.
Bahkan mengucapkan kata ini saja, membuatku sesak. Membuat duniaku serasa runtuh. Dan ini membuatku malahan membenci diriku sendiri. Yang dengan gampangnya bertekuk lutut, dan mengangkat kedua tanganku di hadapanmu... hanya untuk membiarkan diriku sendiri terbakar dalam api cemburu. Karena bahkan melihatku saja kau tak mau. Menawanku sebagai pampasan perangmu saja, kau tak sudi. Aku benar-benar se-tak-berharga itu ya?

Aku gila. Aku neurotik. Aku delusional.
Karena memilih mencintaimu, di saat aku seharusnya membencimu.
Di saat seharusnya aku mengucapkan selamat atas kebahagiaanmu.
Di saat seharusnya aku melupakanmu dan melanjutkan hidupku.

(meski) Kau keparat! Aku mencintaimu.

Entahlah..

At » 7:11 AM // 0 Comments »
Berapa harga
yang
harus kubayar
untuk
tidak mengenal cinta?

I'm not fine.

At » 9:29 PM // 1 Comments »




Aku tidak baik-baik saja.
Seharusnya kau tahu itu.

Dia menangis..

At » 1:36 AM // 0 Comments »
Aku terpaku. Terhenyak.
Dan memeluknya. Berusaha menyalurkan bara semangat padanya.
Berusaha membuatnya paham aksara yang tak terbahasakan.
Bahwa akan selalu ada diriku...
.
.
.
Saat itu juga, aku paham.
Di dalam dirinya,
tak pernah ada aku...

My videos. Featured videos.

My photos. Now you know me.

most viewed

Browse Flickr

My lifestream. Stay updated with me.

Recent Comments

My favblog. Feeds from them.