My Writings. My Thoughts.

Dia menangis..

At » 1:36 AM // 0 Comments »
Aku terpaku. Terhenyak.
Dan memeluknya. Berusaha menyalurkan bara semangat padanya.
Berusaha membuatnya paham aksara yang tak terbahasakan.
Bahwa akan selalu ada diriku...
.
.
.
Saat itu juga, aku paham.
Di dalam dirinya,
tak pernah ada aku...

Mengapa?

At » 1:25 AM // 0 Comments »
karena cinta ini,
tak pernah fana.

Lama Sudah...

At » 10:10 PM // 2 Comments »
.......ia mencoba rujuk dengan masa lalunya. Akur dengan sepotong kenangan yang berjenak di sudut jantungnya. Atau berdamai dengan gejolak halus yang berdesir di dadanya setiap ia teringat adegan silam itu. Tetapi, seperti matahari yang senantiasa mengkhianatinya karena terbit terlalu dini, seluruh raga dan jiwanya seolah meronta, menggelepar, dan menerabas jarak waktu, tak kuasa melepaskan semua manis dan pahit yang pernah dihadirkan lelaki itu. Dan saat-saat seperti ini, ia hanya bisa menggigit bibirnya sendiri, bersedekap dan menggulung dirinya ke dalam selimut tua. Bersembunyi dari tatapan hari. Mendekap dirinya sendiri, berharap dengan begitu, jiwanya tak lepas terbang ke masa lalu. Karena air matanya sudah menguap entah ke mana.

Ia tahu, ini semua tak sehat baginya. Ini semua tak baik baginya. Karena itu, pernah ia mencoba mendefinisikan kembali semua rasa. Merangkai jalinan kusut yang saling berpilin. Yang pada akhirnya, hanya bermuara ke entah apa. Dan ia kembali ke titik nol. Berputar-putar dalam lingkaran utuh yang sempurna. Ia nelangsa. Ia merana. Merana karena memilih mencintai dan tersesat dalam melankoli pahit...

Barangkali aku betulan harus angkat kaki dari rumah ini

At » 12:59 AM // 2 Comments »
Barangkali dengan mengganti deodoran yang kugunakan, pasta gigi yang kupakai, dan sabun mandi cair yang kubusakan ke tubuhku, aku bisa melupakanmu. Maksudku, benar-benar melupakanmu. Mencampakkan sampah-sampah ke tempat pembuangan yang semestinya, dan bukannya menumpuknya di sudut laci ingatanku, lalu membiarkannya membusuk di sana.
Sungguh, kukatakan padamu, aku ingin berhenti menatap langit yang biru, laut yang gagah, atau awan yang seperti kapas. Aku ingin berhenti mendengarkan irama Mozart atau Beethoven. Ingin berhenti menyiapkan secangkir kopi pekat di pagi hari yang akhirnya harus kubuang. Sama inginnya aku berhenti mengingat bagaimana kau menyukai langit, laut, dan awan. Atau bagaimana kita berdebat mengenai lagu apa yang akan diputar di tape mobil. Atau secangkir kopi yang kau seruput setiap pagi untuk berdamai dengan rasa kantuk dan aku yang menceramahimu tentang kafein.. Dan aku benci diriku yang kini sadar, bagaimana aku yang dengan tanpa sadarnya berketetapan menemanimu, memelukmu, dan bersama mengais-ngais keindahan langit, laut, dan awan. Atau diriku yang berjanji akan membiarkanmu memegang kendali pada remote tape, dan diriku yang akan berhenti menceramahimu tentang kafein yang bodoh itu.
Aku pasti sungguhan dungu. Gila. Kacau. Dan aku hanya bisa tertawa sambil mengangkat kaleng birku, menggeleng-geleng kepala dan mengacungkan jari tengah kepada langit yang keparat, karena mendadak terlihat begitu memukau. Aku ingin menjadi lebih tak peduli. Tetapi biarpun begitu banyak orang yang telah lalu lalang dalam hidupku, dari ranjangku, setelah kamu, tetap saja aku tak bisa menepis aromamu, manis bibirmu, dan bola matamu yang teduh.
Barangkali aku betulan harus angkat kaki dari rumah ini.

Hujan Tadi Malam

At » 9:27 PM // 0 Comments »
Tadi malam,
hujan turun.
Bergemuruh,
berderu.
Mendesau,
mendesir.

Dan aku,
bergelung dalam selimut tua
yang kau beri.

Aku,
kangen
padamu.

Perjalanan Kata

At » 9:17 PM // 1 Comments »

click to enlarge.

Hening

At » 3:42 AM // 0 Comments »
Namanya Hening. Aku memanggilnya Ning.
Dan selayak namanya, ia memilih bersetubuh dengan sunyi, alih-alih tenggelam dalam keramaian. Namun, bukan berarti ia asosial. Ia memiliki sejumlah orang yang ia sebut teman. Keluarga yang hangat. Kekasih yang pengertian, yang pelukannya ibarat pelabuhan teduh dari badai gelombang yang bergejolak. Ia memiliki aku, yang memanggilnya Ning.
Baginya, sunyi yang senyap mendekap damai. Menyimpan selaksa rahasia tentang hidup, tentang hati, dan tentang diri. Dan ia kecanduan. Ia sakau, sehingga setiap kali kembali ke kamarnya yang mungil, ia akan luruh ke dalam sunyi. Merasakan gemuruh yang sama, yang berdebur halus di dadanya. Ia berjenak kembali dengan dirinya sendiri, dengan sudut terdalam dan tergelap dalam jiwanya. Melepas semua rasa yang mengeruh, dan mengangkat bendera putih pada kecamuk dan sedih yang bergelayut sepanjang hari itu.
Terkadang, aku ingin memasuki ritual itu. Menghayati pengalaman dan segenap rasa, dan bukan lagi hanya sekadar menatap dunia kacanya. Tetapi, seperti rasa sesak urin, Engkau tak akan pernah bisa menitipkan cairan ekskresi itu melalui kemih orang lain. Engkau harus membuangnya sendiri. Sama seperti tubuhmu yang menghasilkannya, menampungnya.
Namanya Hening. Bukan Heni, Henny, Heny, Hany, atau Hanny. Bukan pula Bening. Bukan pula Eni, Enny, atau Eny. Dan aku memanggilnya, Ning.

Another Tribute. to Ve.

At » 8:53 PM // 0 Comments »
Masihkah kau menangis tatkala kau memandang ke lautan?
Masihkah kau menghindar dari pertanyaan tentang masa lalu itu?
Masihkah kau memimpikan nostalgia manis yang pernah membuatmu insomnia itu? Heran, bila kau bermimpi bertemu dirinya setiap malam, mengapa kau malah memilih terjaga?
Masihkah kau berubah kelam setiap hujan menerpa jendelamu?
Masihkah kau mereguk bercangkir-cangkir kopi, terduduk di kursi meja Starbucks, mengetikkan entah apa di Mac-mu?
Masihkah kau berkelana, mengelilingi dunia, dan mengatakan kau bahagia, padahal ada lubang besar di hatimu, yang membuatmu sering hanya menatap cermin di kamar mandi lamalama, dan meyakinkan dirimu sendiri, bahwa kau baik-baik saja?

Aku masih menghela napas setiap kali membaca baris-baris aksara usang itu.
Aku masih takjub, aku masih sedih, aku masih gundah.
Aku masih bertanya-tanya, untuk kemudian menahan kata-kata itu di ujung lidahku...
Semoga kau cepat bahagia.

Lelah

At » 2:01 AM // 0 Comments »
Aku lelah bertanya-tanya. Lelah mereka-reka. Lelah berspekulasi. Lelah menduga-duga.
Mengapa tak kau datang saja ke hadapanku?
Dan mengatakan padaku, apa yang kau pikirkan, apa yang kau rasakan?

Menulis

At » 1:51 AM // 0 Comments »
Menulis sama seperti berperang. Kau menyiapkan amunisi; senapan, peluru, rompi-anti-peluru, helm baja, sepatu lars. Atau terkadang hanya sebilah samurai, berkilat dan tajam. Kau menyiapkan hatimu, jiwamu, dan seketika, berondongan katakata itu menghujam. Menumbuk. Menyobek. Mencabik. Kau berlindung. Tiarap. Sesekali, ledakan itu berdentum. Kau terlonjak. Terkaget.




Menulis sama seperti bercumbu. Kau merangkai aksara menjadi kata, kata menjadi frasa, frasa menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, dan paragraf menjadi wacana. Kau menabung waktu, mengurai makna, dan mencurahkan rasa. Hingga tulisan itu lahir, dari rahim benakmu. Dan kau mengalami orgasme dashyat. Kau tergoda. Ketagihan akan candunya.




Dan, di sinilah aku. Terkekeh sambil menghirup teh. Mengais-ngais kenangan remeh dan mengaduk bongkahan gula yang perlahan meleleh.

Life and Lesson

At » 7:47 AM // 0 Comments »



6 years ago,
I was this little boy, who taught he has planned his entire future well.
I was this little boy, who taught that he has had the world, on his hand.

6 years ago,
I let my pride get in the way.

Then time passes by.
It changes everything. Me, my family, my hometown, and everything from my past.
It is, indeed, unavaoidable, for we live in a perishable world, where impermanence has become its second name.

6 years ago,
I failed, I fell, once.
Once, and I would remember it for the rest of my life.
The valuable lesson taught me one good thing - called mistake.

6 years ago,
I taught I have learnt my lesson.

And now,
Everything comes back, pieces to pieces.
So many what if.
So much pain.
So much things have happened, without even letting me have the opportunity to think, or to enjoy... Like the ice-cream in your hand, and you're competing with time before it melts away and you get nothing.

Yet now,
I dont think I am mature enough...

(lagi) tentang hujan

At » 4:43 AM // 0 Comments »



Seorang teman pernah mengirimkan SMS:

Jika nanti hujan deras, cobalah kamu keluar

Hitung dan rasakan

Titik-titik air hujan yang banyak itu jatuh dari langit


Sebanyak itulah aku bersyukur telah mengenalmu

sampai saat ini.


Hari ini, dan hari-hari kemarin, hujan terus berjatuhan. Membuat bumi basah. Membuat jalanan kuyup. Aku teringat temanku itu, lalu kukirim SMS:

Aku sedang menatap hujan. Menghitung rinainya.
Mungkin dengan begitu, aku bisa lebih mengerti..

Dia pun mengirimkan balasan:

Adakah bayangan wajahku di antara percikan air hujan?
Hujan, ajarkan aku arti kasih yang sesungguhnya
A
ngin, katakan padanya aku sangat merindukannya


Dan aku, tercenung. Masih menatap hujan itu, terus menghujam bumi.. Betapa inginnya aku mengurai benang kusut ini. Betapa inginnya aku berhenti berlari..

Payung Biru: Prekuel..

At » 11:14 PM // 0 Comments »

dedicated to. KL.

Pagi itu, hujan turun. Rinainya beramai-ramai menghujam bumi. Kelabu. Pucat. Suram. Melarikan sinar matahari, dan berkompromi menciptakan pelangi, nanti. Dingin. Menggigil. Tak ada yang luput dari basah di luar sana. Jalanan, taman, gedung. Kuyup. Sendiri.

Dari balik jendela yang mengabur, aku menatap semua pemandangan itu. Diam-diam, jauh di dalam hati, aku merasa beruntung. Beruntung karena aku kini berada dalam dekapan seseorang yang mencintaiku, dan yang kucintai. Dekapan hangat, yang menjadikan dingin tak berarti. Dekapan erat, yang menjadikan sepi tak bermakna. Dekapan sederhana, yang menjadikan waktu cemburu.

Pagi itu, hujan turun. Meski matahari tak terlihat di langit, dalam semesta kecilku ada sebuah matahari yang masih tetap bersinar. Dan semoga aku juga menjadi matahari di harinya...

Napasnya naik turun. Begitu teratur. Seperti simfoni. Seperti surga.
Lalu ia terjaga. Matanya mencari-cari diriku. Mengisyaratkan kangen, setelah semalaman tidak saling bersua dalam alam nyata. Entah dalam mimpinya, karena dalam mimpiku, yang kulihat hanya dia...

"Hai," aku menyapanya.
Ia tersenyum. Bola matanya membulat, dan berbinar.
"Selamat pagi..."
"Pagi.."
"Hujan.."
"Ya.."

Tidak perlu payung biru. Tidak perlu jas hujan. Hanya perlu berada di sampingku. Di sini. Sekarang. Dan Selamanya.
At » 2:44 AM // 1 Comments »
Aku insomniak. Aku fobia. Dalam malam-malam yang terjaga. Dalam gulita dan kesendirian yang membalut kamarku.
Mataku terbuka lebar-lebar. Hatiku berdebar tak karuan. Aku... menolak terlelap. Aku... menolak terbuai.

Sudah lama kusingkirkan selimut, bantal, dan guling. Tidak matras. Entah kenapa harus kusisakan matras itu. Sekadar pembuktiankah aku masih waras? Sekadar kompromikah pada salah satu ruang di benak kecilku yang menyuruhku tidur? Aku tak tahu.

Aku neurotik. Aku terkafeinasi.... Aku lelah..

Coffee & Cigarette

At » 12:22 AM // 1 Comments »



Kepulan asap. Kental. Memusingkan. Dan benakku langsung berputar, mengingat kembali pelajaran koloid di Kimia SMA.

Segelas kopi. Kental. Hitam. Panas. Pekat. Dan mengisyaratkan pahit, yang pasti, teramat sangat. Aku teringat kembali pelajaran Kimia di SMA. Kopi adalah genangan kafein. Asupannya membuatmu tenang, mengalihkan stres dan depresi, entah bagaimana caranya.

Sebatang rokok. Menyala. Merah. Baranya begitu menghipnotis. Kembali, buku Kimia itu seperti terpampang di otakku. Nikotin. Tar. Karbonmonoksida. Aku masih takjub, bagaimana sebatang rokok kecil itu bisa mengandung sekian banyak zat yang berbahaya. Tapi, aku sudah berhenti menghakimi para perokok, sama seperti aku berhenti menghakimi para penikmat kopi.

Karena kini aku tahu. Bagaimana segelas kopi dan sebatang rokok membawamu mengarungi sebuah perjalanan. Semu, mungkin. Eskapis, mungkin. Tapi adakah yang nyata dalam hidup ini? Siapakah pula yang tak pernah bersikap eskapis?

Aku tertawa. Sinis. Pahit. Getir. Sedih. Ironis. Meski aku tak tahu, untuk apa dan siapa aku tertawa.

Kepulan asap. Membumbung sejenak, lalu lenyap. Bersenyawa.
Kopi di hadapanku mendingin. Bara di tanganku meredup. Ada yang harus usai.

Aku gamang. Aku lelah.
Kapan prahara ini akan selesai? ...
At » 6:51 AM // 0 Comments »




"Aku teramat mencintainya. Hingga kalau suatu saat nanti, ia membutuhkan transpalantasi jantung, aku akan merelakan jantungku untuknya..."

Aku terdiam, menatap jendela di hadapanku. Kudapati bayanganku di sana: sendiri, lusuh, dan tak bercahaya. Semua pengharapan dan binar seperti tertelan dalam kesunyian panjang, yang tak menunjukkan tanda-tanda bertepi, atau berdasar. Kesunyian yang membuatmu merasa seperti tengah melayang, dalam jurang lebar yang gulita, yang membuatmu bertanya-tanya, kapan aku akan sampai di dasar, seperti apa dasarnya, akankah aku mati? Tetapi dalamnya jurang itu akhirnya membuatmu mati rasa, dan tak lagi bertanya-tanya.

"Meskipun dia tak pernah mencintaimu..?"
"Aku tak peduli. Karena hidupku, hanya untuknya.."

Aku bosan. Aku merana. Aku tak ingin lagi hanya menjadi penonton, yang menyaksikan bagaimana cinta ada, bagaimana cinta dipersembahkan. Dalam bentuk apapun. Aku juga ingin menjadi bagian dari cinta. Aku ingin merasakan lagi seperti apa mencintai seseorang, dan seperti apa dicintai. Aku ingin merasakan lagi seperti apa membiarkan seseorang memasuki pintu hatiku, dan berdiam di sana.

Dan yang ada dalam dunia kecilku, hanyalah gelap. Sunyi.

Di luar sana, hujan telah turun. Butir-butir airnya menetes di jendela kaca.


17 Agustusan...

At » 10:53 PM // 0 Comments »
Hari kemerdekaan RI. Ke-63.
Usia segito, untuk ukuran manusia, sudah tergolong tua. Sudah tergolong usia kakek-nenek, yang seharusnya sudah pensiun, membiarkan anak-anaknya bekerja membangun keluarga, dan menyaksikan cucu-cucunya bertransformasi dari bayi lucu menjadi anak-anak kecil yang badung.
Tapi, untuk ukuran sebuah negara, tua-mudanya usia itu, sangat relatif. Bandingkan dengan negara-negara seperti Amerika, atau Inggris, atau Prancis. Usia Indonesia yang masih berangka dua sebenarnya masih bole dibilang muda. Tapi coba bandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Rasanya, Indonesia boleh dibilang tua, meski mungkin hanya tua beberapa tahun. Tapi, Indonesia seperti tertinggal, seperti terseok-seok, dibandingkan, katakanlah Malaysia, atau Singapura.

Memang, umur tidak selamanya bisa dikaitkan dengan kemajuan atau pencapaian seseorang. Tetapi, paling tidak, umur yang lebih tua sering menandakan lebih banyaknya pengalaman. Umur yang lebih tua, dalam hal ini kemerdekaan, seharusnya memberikan lebih banyak kesempatan kepada pemuda negeri untuk membangun negeri dengan keringatnya sendiri.

Tapi, kenyataannya tidak begitu. Masih ingat lagu Ibu Pertiwi? Baris pertamanya begitu membuat trenyuh. Kulihat Ibu pertiwi..sedang bersusah hati.. (moga-moga ga salah lirik). Bayangkan Indonesia itu, ibu kita. Bayangkan pula Ibu kita, yang melahirkan kita, merawat kita, dan membesarkan diri kita dengan keringat dan darah, sedang bersusah hati. Dan bersusah hatinya karena kita pula. Kita, pemuda-pemuda bangsa, yang menggerogoti ibu kita perlahan-lahan. Miris.

Lalu, di usia Ibu Pertiwi yang sudah 63 tahun, apa yang bisa kita berikan? Hanya sebatas perayaan hari kemerdekaankah? Ucapan selamat dirgahayukah? Perlombaan-perlombaan tradisionalkah? Upacara benderakah, yang bahkan kita hadiri dengan setengah hati? Mimpi-mimpi dan doa-doakah, yang meski dibungkus dengan kata-kata indah, namun hanya ungkapan kosong belaka? Tulisan-tulisankah, yang bernafaskan patriotisme, tetapi tetap tak mampu memberikan solusi (seperti tulisan ini)? Rasa syukurkah, yang membuat kita punya negara sendiri, setelah mengorbankan banyak manusia yang kemudian kita sebut pahlawan, untuk kemudian memberikan kita kesempatan untuk melihat bagaimana harga diri kita sendiri terkoyak-koyak oleh krisis multidimensi? Yang mana? Lantas, di mana pula makna kemerdekaan itu, yang katanya bukan pemberian bangsa penjajah? Di mana momen-momen bersejarah yang terasa agung di buku sejarah itu?

Hari kemerdekaan RI. Memang pantas kita rayakan. Setahun sekali. Yang membuat cuti bersama terasa begitu wajar. Yang membuat semua kegiatan bole dihentikan sejenak.
Tapi, apa yang sesungguhnya kita rayakan di sini?

a tribute to ve

At » 6:27 AM // 0 Comments »


Setiap kali perasaan sentimental itu melandaku, aku akan kembali membuka url itu. Lalu di monitor akan terpampang sebuah catatan berisi puisi-puisi. Kadang singkat, kadang panjang, dan terkadang prosa singkat, yang dirangkai dengan indah, membentuk untaian makna. Kadang menghujam, kadang mengharukan, kadang membuatku mengulas senyum. Setiap kunjungan ke url itu selalu memberiku nuansa yang berbeda, rasa yang berbeda, dan inspirasi yang berbeda, meskipun sudah lama penulisnya tidak aktif.

Ada yang telah lama mati…

Puisi itu melukiskan lara hati seseorang yang ditinggalkan orang yang dicintainya. Bukan karena perselingkuhan, perselisihan, tetapi semata karena waktu. Garis waktu yang bernama kematian telah memisahkan dua orang yang saling mencintai, menyisakan salah satunya dalam kefanaan dan kesedihan. Dalam kesunyian dan sejuta andai.

Dan bagiku, puisi itu memberiku rasa penasaran yang tak kunjung terjawab. Apa yang terjadi? Bagaimana kematian merenggut sang kekasih darinya? Ah, sang pujangga pasti sangat mencintai kekasihnya. Pernah, dan masihkah? Sudahkah ada orang yang menggantikan posisi sang kekasih? Atau tidak akan pernah ada?

Aku sangat ingin menemuinya. Bukan karena mengagumi karyanya, ketabahan hatinya, atau untuk memberinya kekuatan. Tetapi karena aku ingin berhadapan dengan personifikasi cinta. Aku ingin tahu, seperti apa cinta itu. Aku ingin melihat bagaimana sorot matanya akan selalu memancarkan kerinduan yang sangat pada kekasihnya, setiap nostalgia itu berputar dari gulungan memori di hatinya. Aku ingin melihat apa yang bisa diperbuat kematian pada cinta. Mungkin aku terlalu egois.. tidak, aku memang egois.


Untuk si Belut...

At » 8:28 AM // 0 Comments »



Tak pernah sebelumnya aku menganggap hujan adalah simfoni yang pilu. Bagiku, hujan adalah melodi yang merintik, menceritakan pada bumi tentang perjalanan sang air mengarungi angkasa. Membawa segenap rahasia alam, yang hanya bisa dimengerti sang bumi. Mungkin karena itu pula, bumi dengan sabar dan tenang mendengarkan, menampung semua curahannya…Satu malam itu, hujan tengah mengguyur Bandung dengan lebatnya. Menyisakan hanya secuil ruang kecil yang kering, yang hangat. Jalanan, atap, rumah, gedung, semuanya basah tanpa kecuali. Termasuk payung biru di genggamannya.

Aku menatapnya lemah. Baru saja ia menceritakan padaku tentang seorang dia yang mengisi hatinya empat tahun terakhir ini. Seorang yang ia katakan tak akan bisa ia miliki, tak akan bisa ia peluk, tak akan ada di saat paling sedih dan bahagia hidupnya. Seorang yang ia cintai diam-diam, seorang yang bisa setiap hari ia temui, seorang yang mungkin hampir setiap saat berada di sampingnya.

Dan, aku tertawa. Tertawa yang teramat pahit, karena perasaan lara itu mengusik hatiku lagi. Ah, bukan hanya lara. Segala macam perasaan; entah itu gembira, entah itu salut, entah itu cemburu, entah itu sedih, entah itu sepi. Semuanya bercampuk aduk menjadi satu.

Kukatakan padanya, “Aku tak percaya tentang cinta, tentang hubungan dua insan manusia lagi…”

“Kenapa?”

Aku tersenyum, lelah. Ada beribu ‘karena’ yang bisa kuucapkan. Tapi pada akhirnya, hanya perasaan sentimental usang itu yang lagi-lagi kutemui. Perasaan sentimental yang menolak seluruh rasio dan akal sehat. Yang membuatku membuang semua mimpi yang ada di depan sana, dan justru memunguti satu per satu serpihan masa lalu yang retak.

Aku menghela napas. Dan ia tersenyum simpatik.

“Kenapa juga kamu masih mengharapkannya?” tanyaku.

“Karena aku cukup puas dengan perasaan ini. Tanpa beban, tanpa keresahan, dan tanpa kecurigaan..”

“Pernahkah kamu merasa sangat sepi?”

“Tidak..”

“Itulah yang kurasakan sekarang….”

Ia tertegun. Dan itulah terakhir kali aku mendengar kabar darinya.

Melodi Hujan

At » 8:14 AM // 0 Comments »



Tak pernah sebelumnya aku menganggap hujan adalah simfoni yang pilu. Bagiku, hujan adalah melodi yang merintik, menceritakan pada bumi tentang perjalanan sang air mengarungi angkasa. Membawa segenap rahasia alam, yang hanya bisa dimengerti sang bumi. Mungkin karena itu pula, bumi dengan sabar dan tenang mendengarkan, menampung semua curahannya…

Tapi pemandangan di depanku sedang mengisyaratkan sesuatu yang lain. Di bawah payung biruku, kulihat punggung yang familiar. Dari semua tempat di kota, tak pernah kukira akan kutemukan dia di sini.

Punggung itu kuyup. Dan hatiku trenyuh. Mengapa mesti hujan sekarang? Apakah langit juga tengah bersedih?

Aku berjalan mendekat, dan memayunginya. Kukira ia akan menggigil; cuaca begitu menusuk. Tapi ia membisu di sana, seperti tenggelam dalam kesunyian panjang. Seperti menceburkan diri dalam beku, dalam waktu yang seakan berhenti berdetak.

Di luar dugaanku, ia tak lagi menepis payungku, seperti yang sudah-sudah. Ia hanya diam. Pipinya yang basah membuatku tak tahu, apakah ia masih menangis menatap selembar foto bisu di hadapannya.

Ingin rasanya aku merengkuhnya. Mengatakan bahwa ia masih akan memiliki diriku. Tapi, aku tahu, terlalu banyak yang mesti dikorbankan dengan keegoisanku ini. Dan, jadilah aku yang sekarang; alien yang datang ke bilik kecil permenungannya. Dunia asing yang tak akan pernah bisa kumasuki…

“Ayo pulang…” bisikku lirih, sambil menggandeng tangannya.

Lalu ia akan berpaling, menatapku dengan matanya yang teduh. Mata yang begitu dalam, mata yang disarati kesepian dan luka.

Ia mengangguk samar. Lalu kami akan berjalan meninggalkan pemakaman itu, sambil membawa sesuatu dalam hati masing-masing.

Dan sore itu, hujan memang sedang memainkan simfoni yang lara, yang entah kapan selesai. *

My videos. Featured videos.

My photos. Now you know me.

most viewed

Browse Flickr

My lifestream. Stay updated with me.

Recent Comments

My favblog. Feeds from them.