
dalam gulita. dalam pekat
apa lagi yang bersisa,
bahkan tak secuilpun remah asa
Sudah lama aku karam
terbenam dalam tiada
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
http://www.anshuldudeja.com


[act 1]
Zess… kereta api yang melambat bersuara dan menimbulkan goncangan kecil yang membangunkanku. Kukucek mataku yang lelah, sambil melirik ke jendela.
Sebentar kemudian, kereta kembali bergerak menyusuri relnya. Dan rumah-rumah itu tampak seperti ikut terseret oleh detik-detik yang dipacu oleh lokomotif waktu. Tapi mereka selalu ketinggalan jauh di belakang sana. Aku bangkit, mendekatkan diri ke jendela.
Dalam beberapa hal, aku seperti rumah-rumah yang berlari itu…
Jam di pergelangan baru menunjukkan pukul 4 subuh, tapi aku sudah kehilangan seleraku untuk terlelap.
*
[act 2]
Kutatap tiket kereta di telapak tanganku. Mendadak aku merasa bimbang. Merasa galau. Kutoleh ke belakang, tapi stasiun yang sepi di jam 12 tengah malam telah mengisyaratkan kesendirianku.
“Masuk?” Petugas di peron bertanya padaku, setelah sekian detik aku hanya mematung di depannya.
Kulirik wajah tua yang demikian simpatik itu. Dan aku teringat lagi senyum mama. Sekali lagi, aku menoleh ke belakang. Masa lalu seperti tengah berkelebat, memenuhi seluruh peron.
Aku paling benci memilih. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa memilih.
Tapi sekarang, aku harus memilih.
*
[act 3]
‘Apa jadinya kalau kau harus memilih?’ dia bertanya sambil menatap lurus padaku.
Kupandangi sepasang mata teduhnya. Mata yang selalu mengisyaratkan kesedihan di dalamnya. ‘Apa maksudnya?’
Ia menghela napas berat.
Dan ketakutan itu segera menjalar di seluruh benakku. Ia mengakar, dan membuahkan kepanikan yang meneteskan adrenalin. Atmosfer ini sudah terlalu sering terjadi.
‘Antara aku, atau duniamu. Keluargamu…’ Pertanyaan yang sama. Lalu ia akan memberikan penjelasan yang sama. Penjelasan yang selalu menyudutkan perasaan yang dinamai cinta. Penjelasan bernama realita yang mampu menghamburkan semua mimpi.
Aku terdiam. Dan selama berbulan-bulan sesudahnya aku tetap bungkam. Aku tak mampu menjawab pertanyaan itu. Sama seperti ketidakmampuannya untuk memilih : aku atau dunianya. Dua hal yang sama berartinya.
Tapi kali ini, jarak di antara kami pun membeku sudah. Terkunci rapat dalam istana gading waktu, dan kuncinya entah di mana.
***
[act 4]
Delapan jam lagi telah berlalu.
Lokomotif di depan akhirnya berhenti di stasiun transit. Aku beranjak dan turun. Lalu kupandangi lokomotif itu perlahan-lahan berlalu.
Perpisahan selalu menyakitkan. Bagiku, perpisahan menyisakan rasa asing yang tak mengenakkan.
Mungkin mama tak akan pernah memahami pilihanku. Pilihan yang mengharuskanku menuliskan secarik kertas salam perpisahan untuknya. Sejak dulu, aku tak pernah mampu mengucapkan kata-kata perpisahan…
Kutatap jalan di hadapanku. Pintu depan stasiun. Seluruh momenku yang sekarang dan akan datang ada di sana.
Aku telah memilih untuk datang padanya. Aku memilih cinta. Karena aku mencintainya. Dan itu adalah realita yang tak boleh kulupakan, di atas semua realita lainnya.


Berapa banyak sih orang yang percaya ama long distance relationship? Biarpun gw bukan expert dalam masalah cinta-mencinta, tapi gw yakin banget, sedikit sekali orang yang percaya ama long distance.
At least, my friends didn’t make it. They all ended the relationship maybe even before they started building their dreams about love and faith.
Can’t blame them, though, or their stupidity, since I understand that concerning love matter, all cant never learn the lesson well. Dunno why, but probably because the speed of love is blinding, as Richard Marx sang in his song titled ‘Until I Find You’.
That’s why the movie The Lake House really attracts me. And I must tell you that I had a good time watching it. So, if you haven’t yet, you have to consider watching it, since you wont regret it. The cinematography, the script and dialogue, the view, the chemistry, every fade out.. they’re all just so so so amazing!
The packaging kept me informed that the story is about somekind of long distance relationship. But it’s not the distance that separated Sandra Bullock and Keanu, it’s 2-year-time (!). It made no sense for me, at first, but I was curious. How it was possible? So time separated them? How could they meet then? How could they solve it? Happy ending, eventually?
Well, in case you haven’t watched it, wont tell you much.
And I wonder. As always, whenever I finish a movie.
In this modern era, where can you find unselfish love? The same love that made Keanu crazy for Sandra. The love that made Sandra want to give her whole heart to Keanu, even though she just hadn’t met Keanu. Or, let me simplify; the love that makes you do things beyond logic.
Keanu waited for Sandra for years. And during his waiting, he could not even keep in touch with Sandra. There’s no way he could call her to hear her voice, to hug her, to kiss her, to meet her. But he managed to wait. I know, that’s only a movie…Aha, start feeling skeptic?
I read and heard before, that we wont find any unselfish love; all we can do is to love unselfishly, and we’ll get, hopefully, the same return : an unselfish love.
But how do we even know that our someone is for real? That he or she is not cheating us?
People said that when you love someone unconditionally, you wont care anymore about the return, either good or bad. How can it be? I just don’t get it. When somebody cheat you and your love, would you still taste the happiness? Or you will just resent it?
I believe in true love. True love exists, I know that for sure.
The question is, when you feel it and do something beyond logic, is it because an eternal feeling for real, or just some emotional and reckless act?

Apa jadinya kalau selamat pagi bagimu berarti selamat malam bagi orang lain?
Apa jadinya kalau sinar matahari, yang memberi kehidupan bagi orang lain, ternyata bisa membunuhmu dalam sekejap?
Mungkin pertanyaan-pertanyaan di atas ga terdengar asing. Mungkin yang langsung terbayang di benak kita adalah para drakula-nya Bram Stroker, atau vampir-vampir dari negeri Cina yang biasa terlihat di film horror ala Cina.
Tapi kita semua tentu tau, yang namanya vampir atau drakula – seperti ala Tom Cruise ama Brad Pitt – ga bener-bener eksis di dunia, atau, setidaknya mungkin belum. Dan semoga ga akan pernah (!).
Jadi, pertanyaan di atas sama sekali bukan tentang vampir.
Lalu? Teringat film The Others, yang dibintangi ama Nicole Kidman? Ingat ama anak-anaknya di film itu yang ga bole kena sinar matahari? Jendela-jendela besar di rumah kuno itu selalu tertutup gorden, sepanjang waktu. Kegelapan seolah menjadi satu-satunya semesta...
Bukan tentang itu sih, tapi kira-kira mendekati, lha.
Gue ga pernah menganggap sinar matahari sebagai sesuatu yang menakutkan – kecuali mungkin bagi beberapa orang temen gue di kampus. Itu pun karena sebab yang sederhana : takut kulitnya jadi hitem!
Dan baru kemaren, gue bener-bener percaya, setelah sekian lama bersikap skeptis. Ada orang di dunia ini, yang bener-bener ga bole kena sinar matahari. Bukan sinar mataharinya yang bermasalah, sebenarnya, tapi sinar UV yang terkandung di dalamnya.
Sinar UV yang berlebihan memang menyebabkan kanker kulit – setidaknya itu yang gue tahu. Dan keadaan ini diperparah dengan rusaknya ozon di stratosfer di atmosfer kita.
Tapi, ini bukan tentang kanker kulit.
Ini tentang XP.
Ya, XP. Bukan XP yang keluaran Microsoft itu, lho.
XP, atau xeroderma pigmentosum, adalah suatu kelainan genetik yang menyebabkan penderitanya tidak boleh tereskpos sinar UV. Lebih dari 5 menit saja, bisa menyebabkan kematian.
Mungkin bagi beberapa orang, XP bukan barang baru. Gw sendiri baru ter-informasi mengenai penyakit ini karena nonton filmnya Sawajiri Erika, Taiyou no Uta (A Song to the Sun) – harusnya Anda-anda udah nonton, karena ini bukan serial yang baru-baru amat. Genrenya mirip-mirip Ichi Ritoru no Namida (One Litre of Tears). Di situ, Erika berperan sebagai Amane Kaoru, yang menderita XP tipe A, di mana ia tak akan melewati usia 20 tahun…
Sad? Well, harus diakui, ga sesedih dan se-mengharukan Ichi Ritoru. Tapi, seperti juga Ichi Ritoru, kesedihan bukan hal utama yang bisa dipelajari di sana. Semangat untuk mengejar mimpi, misalnya, adalah satu dari sekian banyak hal positif yang bisa dipetik. Dalam Taiyou, diceritakan Kaoru berusaha menggapai mimpinya menjadi seorang singer, dengan segala keterbatasannya. Baginya, hidup tanpa mimpi bukanlah hidup sama sekali.
Tapi yang ingin gw sorot bukanlah hanya itu.
Setelah Spinocerebellar Degeneration Disease, sekarang XP. Dan kedua penyakit ini belum ada obatnya. Belum lagi penyakit letal karena kelainan genetik lainnya, seperti sicklemia, talashemia (semoga nama penyakit yang disebutkan di atas-atas ga salah tulis..hehe), dan lain-lain (sebenarnya dan lagi ga tahu, sih ~~).
Mungkin tingkat kematian penyakit-penyakit yang incurable ini ga separah penyakit lainnya, semisal sakit jantung, kanker mulut rahim, kanker paru, AIDS, dan sekian banyak penyakit lainnya lagi. Yet, semua ini membuat gw bener-bener aware sama satu hal yang pernah gue pelajari : sebab kematian sangat banyak, sebab kelahiran sangat sedikit, dan tubuh kita ini sangat rapuh.
Didiagnosis menderita penyakit-penyakit letal ini berarti satu hal : preparing ourselves buat kematian.
Kebayang ga, kamu hidup dan mendadak suatu hari kamu udah tau, kapan kamu pasti akan mati? Diprediksi mati dalam usia tua sih, masih mending. Tapi kalo divonis mati di usia semisal 20 tahun? Alih-alih jadi bersemangat kayaq Aya atau Kaoru, mungkin gw bakal drop…Ah, diri gw yang belum juga dewasa-dewasa...
Gw pernah ikut satu kursus Inggris, dan pernah dikasih tugas ngarang ama guru bule gw itu, mengenai topic “What would you do if you had only one day left to live?”.
Jawaban gw ama temen2 sekelas gw waktu itu kurang lebih sama : Have fun dulu, trus minta maaf ama semua orang, dan pergi tidur.
Sekarang? Terus terang aja, gw belum pede untuk mati. Karena sebagai umat Buddhis, gw masih belum bisa menjawab satu pertanyaan; kamu sudah tahu, akan terlahir ke mana setelah mati?
Setelah mati, apa yang terjadi ama gw? Gw tau, gw akan bisa lari dari karma gw sendiri.. It’s true, kita harusnya lebih mikirin the present moment. Tapi gw lebih prefer menafsirkannya sebagai “gunakan present moment sepenuhnya untuk bekal di masa depan dan kelahiranmu kembali yang akan datang..”
Dan karena itu pula, gw harus bisa live my life to the fullest. Mungkin susah, tapi setidaknya, gw ga mau kalah dari Aya atau Kaoru.*


Kedai itu selalu ramai setiap istirahat siang. Meskipun di sebelahnya ada satu café kopi hasil franchise dari sebuah outlet internasional, orang-orang yang berdatangan hampir selalu memesan kopi. Mulai dari kopi pahit yang sederhana sampai cappuccino atau espresso yang berbuih-buih di permukaannya.
Lalat. Ya, l-a-l-a-t. Kini engkau tahu,
Lalat itu – mati. Mungkin karena kopinya masih panas sekali. Dan aku pun kehilangan seleraku, dan kopiku.
Aku tercengang. Oke, lat, kali ini kau menang. Aku pun bangkit, hendak pulang ke kantor. Dan saat itu, mataku langsung tertuju pada seorang pelayan yang membawa nampan berisi secangkir kopi lain. Matanya sedang mencari-cari nomor meja pemesannya, tapi aku sudah melihat lebih dari cukup.
Dalam perjalanan pulang, aku membayangkan kembali lalat itu. Mendadak timbul secuil perasaan iba.

Hai, lagi apa?
Kubuka kembali draft di menu messaging ponsel. Dan kulihat kembali semua SMS yang urung kukirimkan.
has only one meaning
has only one dream to go
Message not sent
21-Jan-06
Message not sent
12-Feb-06
compared to love sincerely?
Message not sent
14-Feb-06
How are you now?
Message not sent
28-Mar-06
Kuhela napas panjang. Semua kangen ini hanya bermuara pada satu orang..
Aku ingin bertemu.
Message sent

[act 3]
Senja sudah melingsir ketika aku berjalan menapaki trotoar untuk pulang.
Semilir angin yang berembus menerbangkan beberapa helai daun, membuat mataku spontan mengikuti arah jatuhnya daun-daun itu. Aku selalu menyukai pemandangan ini.
Lalu mataku menangkap bayangannya.
Ia sedang berjalan ke arahku, dengan tatapan menerawang ke arah jalanan.
Aku terdiam. Semestaku hilang begitu saja ketika dia berhenti beberapa puluh senti di hadapanku. Untuk sesaat, kami hanya saling berpandangan.
‘Gimana kabar?’
Aku terperanjat. Setelah keheningan selama hampir 30 menit, tak kukira dia akan mulai bersuara.
‘Baik,’ kutatap wajahnya. Dan semua kenangan yang ingin kukunci rapat-rapat di hipokampusku segera meluber dan berhamburan keluar.
Segera kusedot es teh di hadapanku.
‘Apa kabarmu sekarang?’ Aku mencoba menetralisir seluruh kecamuk yang berprahara di benakku.
‘Aku baik. Sekarang sudah pindah kost.’
‘Kenapa?’
Dia tersenyum. ‘Tidak ada alasan khusus. Paling karena aku ngedapetin kos lain yang lebih murah.’
'Rumahnya gimana? Lebih nyaman?’
Dia mengangguk.
Kutatap punggungnya berlalu dari café. Sekali lagi, ia berlalu dari hidupku. Kupenjamkan mata.
Aku masih amat mencintainya. Tapi kata-kata itu kini hanya tinggal artefak usang, yang hanya menjadi penanda bahwa dia pernah hadir dalam hidupku. Tak pernah kukira bertemu kembali dengannya akan menyulitkan seperti ini.
Aku berbalik, menghadapi jalanku sendiri.
Kulangkahkan kakiku yang terasa berat. Sementara hatiku yang lemah sudah porak-poranda.
Aku harus terus…jangan menoleh lagi… itu hanya masa lalu..
Kupenjamkan mataku lagi. Betapa inginnya aku lari dari kenyataan ini.
Tapi…
Kugigit bibirku. Aku tak ingin mengingkari seluruh rasa ini. Aku menoleh.
Dan jalanan yang ramai itu terasa lengang. Aku tak menemukan bayangannya.
***
End of summer’06.
Help me, to be awaken from this long sweet but fake dream
…If you’re not for me, why we had to meet? …

[act 2]Kugeser sliding door.
Pemandangan malam dengan dinginnya segera menyapa seluruh reseptor rasa di tubuhku. Kudekap kedua lenganku.
Sudah berapa lama?
Balkon ini telah menjadi asosial sejak hari itu.
Aku pun menengadah, mencari kerlip bintang. Kulihat bintang seperti tengah berlomba memenuhi angkasa gelap.
*
“Jangan diam.”
Dia menatapku heran.
“Ketika kamu diam, kamu terlihat menerawang jauh… Dan aku takut, karena aku tak pernah bisa menebak apa yang sedang kau pikirkan. Aku takut tak bisa menyeretmu pulang ke alam nyata, alam di mana aku eksis secara nyata..”
Dia tersenyum. Lalu memelukku, seperti yang sudah-sudah.
*
Aku tak bisa memungkiri, dan tak ingin mungkir, betapa aku kangen padanya. Pada tawanya. Pada matanya yang begitu penuh kehangatan. Pada hari-hari ketika ada dirinya.
Semuanya….
Tapi masa lalu sampai kapanpun hanya akan menjadi masa lalu. Tidak ada apapun yang bisa menghadirkannya kembali.
*
“
“Katakanlah…”
Dia menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Ketika sekian menit berlalu, dan dia masih membisu, aku mulai khawatir. Sesuatu yang buruk sedang terjadi.
“
“Mungkin sebaiknya kita berpisah saja…”
Berpisah? Kata-kata itu seperti air bah yang tiba-tiba menyeretku dari dataran kebahagiaan, dan menenggelamkanku dalam lautan penderitaan. Dadaku serasa sesak. Untuk sekian detik, aku tak mampu berkata-kata.
*
Aku tersenyum pahit. Tak seharusnya aku terus menghayati semua kenangan ini. Ketika perpisahan tiba, awal yang baru akan kembali bermula. Ketika perpisahan tiba, aku harus merelakan. Aku harus hidup dengan baik, seperti saat-saat sebelumnya.
Mungkin benar, tiada alasan bagi dua orang yang saling mencintai untuk berpisah, kecuali jika cinta itu tak ada lagi. Tapi, cinta saja tak cukup.
Aku yakin, dia pernah amat mencintaiku. Dan itu saja sudah cukup buatku. Semoga dia bisa menemukan mataharinya lagi. Semoga dia bisa menemukan seseorang yang bisa menemani perjalanan panjangnya. Asalkan dia bahagia….
Browse Flickr
Copyright © 2009 esdoubleu3 All rights reserved.