My Writings. My Thoughts.
Goodbye Yesterday
At » 6:49 PM // 0 Comments »
Goodbye Yesterday
Artist: Jeff Zhang
Album: Wo hao xiang (How I miss)
Artist: Jeff Zhang
Album: Wo hao xiang (How I miss)
Pisau Untuk Hujan
At » 10:17 PM // 1 Comments »

Dan itu bukan sayap.
Bayangan yang berkilat di balik punggungnya itu bukan sayap. Meski putih. Meski berkelebat, dan terlihat siap mengepak.
Bukan pula sayap-sayap patah, seperti yang melindungi Selma dari tusukan derita karena cinta.
Benda itu adalah sebilah pisau. Tajam. Terasah. Dan terlihat baru.
Setiap hujan mendera, pisau itu siap terhunus.
Betapa inginnya ia menyilet hujan. Memotongnya menjadi apa aja. Lalu membuangnya. Menyingkirkannya.
Karena tak pernah ia ingin menyimpan apapun yang tak bisa ia miliki.
Tetapi hujan, turun terus. Menderas. Dan sekali lagi, hujan akan berlalu, meninggalkan dirinya. Menjejakkan basah yang berlumpur.
Noda.
Noktah.
Seperti kenangan tentang dirinya yang tak terhapus..
Wanita itu mencintai hujan
At » 11:59 PM // 0 Comments »

Engkau akan mengira ia jatuh cinta pada payung.
Spesifiknya, payung berwarna biru, yang ia genggam erat, meski hujan tak mencurahi bumi, atau matahari enggan bersinar terik.
Atau barangkali hanya aku yang berhalusinasi. Barangkali di tangannya memang tiada sesuatu. Atau sesuatu itu bukan payung, melainkan gumpalan perasaan. Sedih, bahagia, kecewa, haru, malu, sepi, takut, berani, gentar, dan sebagainya, bercampur menjadi satu. Berakumulasi, seperti flokulan yang menggenapkan kotoran, lalu terendapkan.
Tapi selalu tak ada ekspresi di wajahnya. Atau barangkali, mimik datar juga ekspresi?
Bahkan ketika matahari terlalu menyilaukan mata, atau klakson terlalu ribut. Semua seperti terserap ke dalam benda kecil di genggamannya. Hilang, lenyap. Tak ada jejaknya di udara.
Hingga hari itu tiba. Hari itu, hujan untuk pertama kalinya menetes.
Mencurah. Menderu. Mendebar.
Seperti detak jantung yang tersirami darah.
Bedanya, darah itu berwarna kelabu. Kelabu yang merekah, merenda, dan merengkuh.
Ia membuka benda itu.
Yang lalu bertransformasi menjadi payung.. aku benar.
Dan dia seperti penari. Penari yang meliukkan tubuhnya tanpa getar dan letar.
Penari yang menarikan hujan, mengalahkan pawang.
Penari yang air matanya barangkali lenyap, bersama hujan, karena ia harus tersenyum di hadapan penontonnya..
Ia berhenti melangkah.
Hujan menudunginya, selayak payung menadah semua gerimis.
Hari itu, aku tahu.
Wanita itu mencintai hujan lebih daripada payungnya.
Spesifiknya, payung berwarna biru, yang ia genggam erat, meski hujan tak mencurahi bumi, atau matahari enggan bersinar terik.
Atau barangkali hanya aku yang berhalusinasi. Barangkali di tangannya memang tiada sesuatu. Atau sesuatu itu bukan payung, melainkan gumpalan perasaan. Sedih, bahagia, kecewa, haru, malu, sepi, takut, berani, gentar, dan sebagainya, bercampur menjadi satu. Berakumulasi, seperti flokulan yang menggenapkan kotoran, lalu terendapkan.
Tapi selalu tak ada ekspresi di wajahnya. Atau barangkali, mimik datar juga ekspresi?
Bahkan ketika matahari terlalu menyilaukan mata, atau klakson terlalu ribut. Semua seperti terserap ke dalam benda kecil di genggamannya. Hilang, lenyap. Tak ada jejaknya di udara.
Hingga hari itu tiba. Hari itu, hujan untuk pertama kalinya menetes.
Mencurah. Menderu. Mendebar.
Seperti detak jantung yang tersirami darah.
Bedanya, darah itu berwarna kelabu. Kelabu yang merekah, merenda, dan merengkuh.
Ia membuka benda itu.
Yang lalu bertransformasi menjadi payung.. aku benar.
Dan dia seperti penari. Penari yang meliukkan tubuhnya tanpa getar dan letar.
Penari yang menarikan hujan, mengalahkan pawang.
Penari yang air matanya barangkali lenyap, bersama hujan, karena ia harus tersenyum di hadapan penontonnya..
Ia berhenti melangkah.
Hujan menudunginya, selayak payung menadah semua gerimis.
Hari itu, aku tahu.
Wanita itu mencintai hujan lebih daripada payungnya.
Selamat Pagi..
At » 5:19 PM // 0 Comments »
Pertalian yang Tak Mengikat
At » 12:07 AM // 0 Comments »

tetapi bukankah cinta tak pernah mengikat?
Seorang ibu tak akan pernah menghalangi anaknya yang ingin terbang lepas.. atas nama darah?
Seorang sahabat tak akan sanggup meminta temannya untuk tinggal..atas nama hati?
Lantas, bagaimana bisa seorang kekasih mengikat cintanya, bahkan atas nama cincin dan cinta itu sendiri?
Buka matamu. Sekalipun aku ada di hatimu, engkau ada di hatiku, kita tak pernah saling mengikat.
Karena darah, hati, dan cinta, tak butuh ikatan...
tentang senja
At » 6:00 PM // 0 Comments »

kukira aku telah selesai berbicara tentang senja. tentang bagaimana senja hanyalah secarik kertas yang dilapisi warna kuning keemasan yang disebut sebagai lembayung. Atau biru pekat yang menggigil, yang ia sebut indigo. tentang bagaimana burung-burung pulang petang, dan nelayan bersiap-siap berlayar.
tetapi, sama seperti kemarin, dan hari-hari sebelumnya, aku masih menemukan diriku duduk di tepi pantai, memeluk kedua lututku, merasakan butir-butir pasir menggesek habis perasaan yang lara ini, yang kian menua dimakan waktu. memandangi ombak bergulung, dan memecah ketika kedalaman laut berubah. berdebur tatkala mencoba memecah karang, menjejak basah di udara, dan lenyap ditarik pulang ke laut.
Dan aku menangis. Masih menangis. Meluruh rasa yang menggenap di mata, di hati, dan di raga. Untuk apa, aku tak pernah betul-betul tahu. Barangkali karena senja indah akan segera dilahap oleh malam. Dan kembali menjalani siklus yang tanpa henti...
picture courtesy of http://journeygotodie.files.wordpress.com/2009/04/senja-wailago.jpg
Di dalam Matamu
At » 5:39 PM // 0 Comments »

Aku rela terbakar di dalam matamu.
Atau tersesat di dalamnya. Dan memilih tak pernah keluar lagi. Mungkin tepat bila kusebut matamu sebagai Eyes of No Return.
Aku rela ditelanjangi oleh matamu.
Bersetubuh dengan cara yang barangkali tak senonoh. Dan memuncak di dalam orgasme yang senyap. Sunyi, karena tak ada suara. Tak ada erangan, ataupun desahan. Itu yang kusebut intim.
Aku rela terkikis habis di dalam matamu.
Atau melayang-layang di dalamnya. Dan memilih melawan arus gravitasi. Meski itu cuma mimpi di siang bolong. Karena bersamamu, aku rela tertidur... Tak perlu ada putri cantik yang membangunkanku, seperti Snow White dibangunkan oleh pangerannya. Tak perlu.
Atau tersesat di dalamnya. Dan memilih tak pernah keluar lagi. Mungkin tepat bila kusebut matamu sebagai Eyes of No Return.
Aku rela ditelanjangi oleh matamu.
Bersetubuh dengan cara yang barangkali tak senonoh. Dan memuncak di dalam orgasme yang senyap. Sunyi, karena tak ada suara. Tak ada erangan, ataupun desahan. Itu yang kusebut intim.
Aku rela terkikis habis di dalam matamu.
Atau melayang-layang di dalamnya. Dan memilih melawan arus gravitasi. Meski itu cuma mimpi di siang bolong. Karena bersamamu, aku rela tertidur... Tak perlu ada putri cantik yang membangunkanku, seperti Snow White dibangunkan oleh pangerannya. Tak perlu.
Bintang-bintang rungau
At » 9:35 PM // 0 Comments »

bintang-bintang rungau.
barangkali ia lupa menyalakan lampu,
atau generator di belakang rumah tak lagi mampu berlari..
bintang-bintang rungau.
dirimu terasa jauh,
dan ketika kugenggam dengan telapakku,
aku merasa mataku tengah menipu dengan ilusi optik.
Karena aku tak jua bisa memiliki....
bintang-bintang rungau.
bagaimana bisa sepi bercengkerama dengan dia,
sementara sunyi adalah pasangannya yang sama-sama bisu?
bintang-bintang rungau.
Mari bersama larut dalam insomnia,
secangkir kopi dan kafein yang tebal.
Karena setiap kupenjamkan mata,
dirimu
datang
menari..
Berasa ABG
At » 5:53 PM // 2 Comments »
Apakah perasaan membuncah yang kurasakan setiap mendapati sedang memandangiku, hanya kurasakan sendiri?
Apakah sensasi terbakar di wajahku, yang menciptakan warna merah untuk kemudian kau lihat, hanya terjadi padaku?
Apakah pemikiran bahwa dirimu memang sedang menatapku, hanya khayalan dan imajinasi konyol belaka?
Dan masih ada beribu-ribu APAKAH yang berseliweran di kepalaku. Begitu banyak pertanyaan yang jawabannya hanya sesederhana 'YA' atau 'TIDAK', tetapi mendadak selalu terasa konyol. Selalu tak bisa kuyakinkan diriku sendiri, bahwa jawaban darimu memang 'YA'. Membuatku kian nelangsa, kian senewen, dan kian ingin bertanya.
Meski begitu, Engkau tahu, diriku ini sedang menahan lidahku untuk tidak melontarkan abjad-abjad memalukan itu tatkala dirimu berada di dekatku, menanyakan kabarku, atau sekadar bertegur sapa. Kepiting rebus memang enak. Tetapi kalau wajahmu mendadak merah seperti kepiting rebus? Jangan tanya.
Jangan tanya. Jangan tanya. Jangan tanya.
Diulang tiga kali. Biar mantap.
Karena itu, aku akan hanya menunduk. Bukan karena tersipu. Bukan karena malu, mendadak menjadi ABG kembali.
Tetapi lebih karena aku menyerah pada substansi yang kau sebut sebagai CINTA, melalui binar-binar matamu.
Apakah binar-binar itu juga untukku?
@#$%^&*!!
Apakah sensasi terbakar di wajahku, yang menciptakan warna merah untuk kemudian kau lihat, hanya terjadi padaku?
Apakah pemikiran bahwa dirimu memang sedang menatapku, hanya khayalan dan imajinasi konyol belaka?
Dan masih ada beribu-ribu APAKAH yang berseliweran di kepalaku. Begitu banyak pertanyaan yang jawabannya hanya sesederhana 'YA' atau 'TIDAK', tetapi mendadak selalu terasa konyol. Selalu tak bisa kuyakinkan diriku sendiri, bahwa jawaban darimu memang 'YA'. Membuatku kian nelangsa, kian senewen, dan kian ingin bertanya.
Meski begitu, Engkau tahu, diriku ini sedang menahan lidahku untuk tidak melontarkan abjad-abjad memalukan itu tatkala dirimu berada di dekatku, menanyakan kabarku, atau sekadar bertegur sapa. Kepiting rebus memang enak. Tetapi kalau wajahmu mendadak merah seperti kepiting rebus? Jangan tanya.
Jangan tanya. Jangan tanya. Jangan tanya.
Diulang tiga kali. Biar mantap.
Karena itu, aku akan hanya menunduk. Bukan karena tersipu. Bukan karena malu, mendadak menjadi ABG kembali.
Tetapi lebih karena aku menyerah pada substansi yang kau sebut sebagai CINTA, melalui binar-binar matamu.
Apakah binar-binar itu juga untukku?
@#$%^&*!!
Aku Ingin Tidur Saja
At » 5:41 PM // 0 Comments »
Aku menghela napas. Panjang.
Untung Oma tidak berada di sini sekarang. Kalau tidak, ia pasti akan menceramahiku. Anak kecil kok menghela napas panjang, seperti ada masalah besar saja. Ya, bagi Oma, anak kecil sepertiku bahkan belum benar-benar tahu, apa yang namanya masalah besar itu.
Kulemparkan pandangan ke luar jendela. Jalanan berdebu. Orang-orang tampak penat. Sebagian lainnya tampak lusuh dan tak bersemangat. Langit sama kusamnya. Abu-abu. Monokrom. Membuatmu segera merogoh tas atau ranselmu untuk mencari benda yang bernama payung.
Sesungguhnya, aku bukan punya masalah besar. Aku hanya punya beban berat, yang serasa menghimpit dadaku. Beban yang kadangkala kupikir hanyalah efek dramatisasi diriku sendiri, berkat sisi melankolis yang demikian kental mengalir dalam darahku.
Aku menghela napas lagi. Melemparkan pandangan ke jendela lagi.
Terasa lebih mudah untuk menghakimi orang lain daripada diri sendiri, bukan?
Entahlah. Aku ingin tidur saja.
Untung Oma tidak berada di sini sekarang. Kalau tidak, ia pasti akan menceramahiku. Anak kecil kok menghela napas panjang, seperti ada masalah besar saja. Ya, bagi Oma, anak kecil sepertiku bahkan belum benar-benar tahu, apa yang namanya masalah besar itu.
Kulemparkan pandangan ke luar jendela. Jalanan berdebu. Orang-orang tampak penat. Sebagian lainnya tampak lusuh dan tak bersemangat. Langit sama kusamnya. Abu-abu. Monokrom. Membuatmu segera merogoh tas atau ranselmu untuk mencari benda yang bernama payung.
Sesungguhnya, aku bukan punya masalah besar. Aku hanya punya beban berat, yang serasa menghimpit dadaku. Beban yang kadangkala kupikir hanyalah efek dramatisasi diriku sendiri, berkat sisi melankolis yang demikian kental mengalir dalam darahku.
Aku menghela napas lagi. Melemparkan pandangan ke jendela lagi.
Terasa lebih mudah untuk menghakimi orang lain daripada diri sendiri, bukan?
Entahlah. Aku ingin tidur saja.
Hingga Saatnya Nanti
At » 5:25 PM // 1 Comments »

Tidakkah kau ingin berhenti dari langkahmu yang tergesa untuk menerobos masa lalu? Tidakkah kau ingin berjenak dalam dirimu sendiri, yang selalu tergopoh dan tak berdaya ketika memikirkan dirinya?
Sudahlah. Lupakan dia. Lupakan masa lalumu. Ingat, kau terlalu berharga untuk disia-siakan oleh dirimu sendiri. Kau terlalu bermakna untuk seseorang di masa depanmu.
Maka, berteriaklah. Setelah itu, kemas dirimu kembali. Simpan dirimu kembali. Hingga saatnya nanti.
*picture courtesy of http://www.batailley.net/images/20090406075600__mg_5306.jpg, Sunset After the Rain
My videos. Featured videos.
My photos. Now you know me.
most viewed
Browse Flickr
My lifestream. Stay updated with me.
Recent Comments
About Me
- Esdoubleu
- Adalah sepasang sandal jepit yang tinggal sebelah, kumal, berdebu, dengan sedikit noda bekas lumpur di pinggirannya. Sedikit tidak waras, tetapi berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia baik-baik saja, sembari berharap suatu saat nanti, ia akan bertemu dengan sebelah sandal jepitnya yang hilang.
Tags
About Me
(19)
About You
(13)
Feature
(4)
Headline
(1)
Love
(13)
Nothing-ness
(16)
Songs
(2)
Unfinished Project
(35)
My favblog. Feeds from them.
My videos. Featured videos.
Most Viewed
Labels
- About Me (19)
- About You (13)
- Feature (4)
- Headline (1)
- Love (13)
- Nothing-ness (16)
- Songs (2)
- Unfinished Project (35)

















